Showing posts with label PLTN. Show all posts
Showing posts with label PLTN. Show all posts

Wednesday, 20 May 2015

Rusia Ciptakan Reaktor Nuklir Berkapasitas Tertinggi di Dunia


Info Militer Terbaru-Institut Penelitian Reaktor Nuklir di Dimitrovgrad, Rusia akan memulai proyek pembuatan reaktor nuklir multifungsi generasi terbaru untuk keperluan penelitian pada musim panas ini, demikian disampaikan pihak institut, Senin 18 Mei 2015.

Biaya proyek tersebut mencapai lima miliar rubel, atau setara 101,6 juta dolar AS. Reaktor ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2020. Reaktor baru ini bertujuan menjadi pendukung riset eksperimental dan kegiatan pengembangan inovasi pembangkit listrik tenaga nuklir generasi terbaru, serta pengujian teknologi siklus bahan bakar nuklir terbaru. Reaktor ini akan digunakan bagi keperluan studi komprehensif mengenai materi radiasi dan kegiatan eksperimen dengan menggunakan neutron dan tipe radiasi reaktor lain untuk penelitian.

“Reaktor baru ini akan memiliki kapasitas tertinggi dibanding semua reaktor penelitian yang ada di dunia,” demikian disampaikan Direktur Institut Penelitian Reaktor Nuklir Alexander Tuzov sebagaimana dikutip RBTH
READ MORE - Rusia Ciptakan Reaktor Nuklir Berkapasitas Tertinggi di Dunia

Tuesday, 12 May 2015

Penduduk Lebih Dari 250 Juta, Kok Nggak Punya Energi Nuklir?


Info Militer Terbaru-Masih banyak orang Indonesia yang takut akan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Padahal seperti Rusia, membuat nuklir seperti buat mainan anak-anak.

“Nuklir itu banyak manfaatnya, seperti orang Rusia itu manfaatkan nuklir seperti buat mainan anak-anak. Reaktor nuklir bisa seukuran koper bisa nyalakan listrik untuk satu gedung. Bayangkan kalau reaktor sekecil itu dimanfaatkan di daerah kecil di Indoensia, bisa terang benderang,” kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto, kepada detikFinance, Senin (11/5/2015).

Djarot mengatakan, untuk membangun PLTN memang dibutuhkan waktu yang lama, paling cepat 7 tahun atau normalnya 10 tahun.

“Apalagi di Indonesia, mungkin sekitar 10 tahun. Ini karena banyaknya perizinan yang harus dipenuhi terutama dari aspek keselamatan,” katanya.

Ia menyarankan, agar pemerintah membangun PLTN mini sebagai permulaan di daerah terpencil. Apalagi saat ini Indonesia masih memiliki puluhan ahli-ahli nuklir, bahkan bila perlu memanggil ahli nuklir yang saat ini banyak bekerja di fasilitas nuklir di luar negeri.

“Baiknya kita buat PLTN kapasitas kecil saja, sektiar 30 megawatt, di daerah terpencil, sebagai percontohan, ini juga sebagai bukti kalau kita mampu bangun PLTN, apalagi kita punya banyak ahli nuklir,” tutupnya.
 
Sumber: Finance.Detik.com
READ MORE - Penduduk Lebih Dari 250 Juta, Kok Nggak Punya Energi Nuklir?

Monday, 11 May 2015

2019 Tiongkok Bangun PLTN Di Kalimantan



Info Militer Terbaru-Perusahaan energi asal Tiongkok, China General Nuclear Power Company (CGNPC) akan membangun sejumlah unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) 1.000 MW di Kalimantan Timur. CGNPC rencananya akan menggandeng perusahaan nuklir pelat merah, PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki) sebagai perusahaan operator dan perawat fasilitas pembangkit atau operating and maintenance (OM).

“Proyek ini juga akan dilaksanakan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Target groundbreaking-nya pada 2019,” ujar Yudi Utomo, Direktur Utama Inuki saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (10/5).

Menurut Yudi, proyek PLTN di Kalimantan Timur itu akan dibangun dalam dua tahap. Untuk tahap pertama, CGNPC akan membangun PLTN berkapasitas 50 megawatt (MW), sedangkan tahap berikutnya 1.000 MW.

Yudi memperkirakan nilai investasi proyek PLTN tersebut berkisar US$ 1,5 juta sampai US$ 2,5 juta per MW.

“(Kalau investasinya sama), kenapa harus bangun PLTU yang polutif? PLTN itu lebih aman, murah, bersih dan handal,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan akan membangun PLTN dengan kapasitas 5.000 MW hingga 2025. Namun, dari 19 persyaratan standar yang dikeluarkan International Atomic Energy Agency (IAEA), masih ada dua persyaratan yang belum dipenuhi.

“Pertama political will yang harus di-announce oleh pimpinan tertinggi, kalau diberi instruksi now go nuklir, kita langsung bergerak,” kata Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

Meski demikian, Rida meyakinkan proyek PLTN akan tetap diupayakan pemerintah karena dinilai efisien dan mampu menambah kapasitas listrik terpasang di Indonesia.

“Saya sudah menuliskan rencana tersebut dalam white paper untuk pengembangan PLTN pada 2025, namun bisa juga paling cepat tahun 2024,” ucap Rida.


Sumber: CNN Indonesia
READ MORE - 2019 Tiongkok Bangun PLTN Di Kalimantan

Friday, 1 May 2015

Amerika Tak Mau Main-Main dengan DF-31B

DF-31B

Amerika tidak mau main-main dengan sistem rudal balistik China DF-31B. Rudal ini diyakini akan menjadi ancaman serius bagi Washington. Bahkan rudal ini pun secara khusus dimasukkan dalam penyusunan strategi pertahanan Amerika. Dalam lembar strategi tersebut dikatakan rudal dengan kemampuan jangkauan 10.000 km menimbulkan tantangan serius bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Laporan itu mengatakan bahwa China diperkirakan memiliki 400 rudal dengan kemampuan untuk membawa hulu ledak nuklir. Hanya beberapa lusin dari mereka termasuk DF-5, DF-31A / B dan DF-41 dapat mencapai Amerika Serikat. China diyakini telah memiliki sekitar 24 DF-5 rudal dalam pelayanan selama 20 tahun terakhir. Meskipun mereka mampu mencapai Amerika Serikat, beberapa dari mereka diyakini belum akan beroperasi karena masalah kehandalan dan pemeliharaan.

Sebagian besar rudal balistik China adalah rudal taktis seperti DF-21, yang mampu memukul sasaran di Rusia dan India. Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mencegat hampir semua DF-5 yang diluncurkan dari China dan Beijing mengklaim bahwa hal itu tidak ditujukan terhadap negara manapun. Sementara DF-26C sedang dikembangkan untuk menggantikan DF-21 yang sudah tua, China sedang merancang rudal baru seperti DF-31A / B dan DF-41 untuk menggantikan peran yang dimainkan oleh DF-5 di masa lalu.

Dengan jangkauan 15.000 kilometer, DF-41 dapat digunakan terhadap sasaran di Amerika Serikat. Rudal  ini dapat dipindahkan, didirikan, dan diluncurkan dari truk khusus. Artikel itu mengatakan bahwa rudal itu memiliki kemampuan yang sangat mirip dengan 36-ton Minuteman III dari Amerika Serikat, pertama kali digunakan pada 1970-an. Namun, DF-41 tidak mungkin untuk masuk layanan dengan PLA dalam waktu dekat.

Tabloid nasionalistik China Global Times mengatakan bahwa DF-31B akan dapat masuk layanan lebih cepat karena hanya versi upgrade dari DF-31A.

Berbagai cara dilakukan Amerika untuk mengantisipasi rudal ini. Salah satunya dengan upaya menempatkan  system rudal  THAAD mereka di Korea Selatan.
READ MORE - Amerika Tak Mau Main-Main dengan DF-31B

Saturday, 18 April 2015

Rostatom Rusia Menangkan Tender Blueprint Reaktor Nuklir Indonesia


Anak Perusahaan Rostatom Rusia yang bergerak di bidang energi dan reaktor nuklir, memenangkan tender blueprint reaktor penelitian nuklir di Indonesia.

Perusahaan Nuklir Rusia, Rostatom Group (photo: Pavel Lisitsyn)
Perusahaan Nuklir Rusia, Rostatom Group (photo: Pavel Lisitsyn)

Sebuah konsorsium yang terdiri dari anak perusahaan nuklir korporasi negara, Rosatom Rusia dan perusahaan Indonesia memenangkan tender untuk menyiapkan cetak biru bagi reaktor riset di Indonesia, ujar Sputnik News, Jumat.

Pembangunan reaktor riset akan menjadi langkah pertama dalam pengembangan energi nuklir di Indonesia, ujar juru bicara Rosatom kepada RIA Novosti awal bulan ini.

“Badan Tenaga Nuklir Nasional BATAN telah mengumumkan bahwa konsorsium Rusia-Indonesia, sebagai pemenang dalam tender untuk cetak biru proyek pembangunan reaktor energi multi-fungsi di Indonesia,” ujar pejabat Rosatom dalam sebuah pernyataan.

Diharapkan penandatanganan kontrak untuk persiapan cetak biru akan berlangsung 30 April, sedangkan pengumuman kontrak untuk pembangunan reaktor riset dijadwalkan untuk awal 2016.

Konsorsium itu terdiri dari perusahaan Rekayasa Engineering and Kogas Driyap Consultant, Indonesia dan NUKEM Technologies GmbH, anak perusahaan Rostatom Rusia.

Pada tanggal 13 April, Deputi Direktur Rostatom Kirill Komarov mengatakan Moskow menawarkan kerjasama dalam membangun reaktor nuklir ke negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, Thailand dan Vietnam.

Sumber: Sputnik News.
READ MORE - Rostatom Rusia Menangkan Tender Blueprint Reaktor Nuklir Indonesia

Wednesday, 15 April 2015

Radiasi Reaktor Nuklir Fukushima Bisa Membunuh dalam 1 Jam

fukushima






Jepang Tokyo Electric Power Co (TEPCO) menyatakan tingkat radiasi dari pembangkit listrik utama Fukushima cukup untuk membunuh seorang manusia dalam satu jam.

Melalui survei menyeluruh dari pembangkit listrik yang rusak karena tsunami beberapa tahun lalu, TEPCO menemukan tingkat radiasi dari reaktor Nomor 1 berkisar antara 7,0 dan 9,7 sieverts (cukup untuk meracuni manusia) per jam setelah survei enam lokasi dalam penahanan kapal utama, laporan Japan Times.

Dalam upaya pertama untuk memantau tingkat radiasi, TEPCO mengirim robot ke kapal pada, mengharapkan untuk tetap hidup selama sepuluh jam – itu alat itu hanya fungsional selama tiga jam dan hanya menyelesaikan dua-pertiga dari tugas-tugas yang diberikan.

TEPCO kemudian melakukan tes terhadap delapan karyawan, bersama dengan 36 pekerja yang dipekerjakan oleh kontraktor, yang bekerja di dalam fasilitas. Perusahaan menemukan bahwa dosis total adalah 1,73 millisieverts, yang cukup untuk menyebabkan luka bakar radiasi.

Juru bicara TEPCO Teruaki Kobayashi bersikeras bahwa survei tidak ada masalah besar di sekitar saluran yang mengarah ke bagian bawah kapal, yang berarti untuk survei di masa depan akan lebih mudah untuk menghapus simpanan nuklir dari bawah kapal.

Nomor 1 reaktor adalah salah satu dari tiga rusak oleh gempa 9,0 magnitudo yang disusul tsunami pada 2011.
READ MORE - Radiasi Reaktor Nuklir Fukushima Bisa Membunuh dalam 1 Jam

Monday, 13 April 2015

Berapa Nilai Investasi Pembangkit Nuklir?

Pembangkit listrik tenaga nuklir di Cattenom, Perancis bagian timur. (AFP)

Jakarta – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) diyakini menjadi alternatif murah untuk mencukupi kebutuhan energi listrik. Dalam sebuah laporan, potensi nuklir di Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi listrik lebih dari 250 tahun, dengan asumsi 200 ton per 1.000 megawatt (MW), dan cadangan 50.000 ton.

Hasil survei Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 2014 menyebutkan bahwa 73 persen masyarakat Indonesia mendukung pemanfaatan nuklir untuk energi listrik. Sayangnya, dalam program kelistrikan 35.000 MW yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, pemanfaatan nuklir sama sekali tidak disinggung.

Selain isu lingkungan dan keamanan, pemanfaatan nuklir untuk energi listrik diakui juga terkendala isu finansial. Sebenarnya, berapakah investasi yang dibutuhkan untuk membangun PLTN?

“Kalau PLTN didirikan di daerah yang memiliki resiko gempa tinggi, seperti di Jepang, maka investasinya bisa mencapai Rp 50 triliun per reaktor dengan kapasitas pembangkit 1.000-1.400 MW. Tapi, kalau didirikan di daerah yang relatif aman dari resiko gempa seperti Korea, investasinya antara Rp 25 triliun – Rp 30 triliun,” ujar Djarot S Wisnubroto, Kepala Batan, dalam sebuah diskusi, Minggu (12/4/2015).

Djarot bahkan memperkirakan, potensi cadangan bahan nuklir tidak hanya 50.000 ton, melainkan mencapai 70.000 ton. Namun, dia menegaskan diperlukan jalan panjang untuk memanfaatkan potensi sebesar itu. Yang jelas, kebutuhan untuk satu PLTN berukuran 1.000 MW ditaksir hanya sekitar 200 ton uranium per tahun. Artinya, dari cadangan uranium yang ada di Kalimantan Barat saja, yakni sebanyak 29.000 ton uranium, jika dimanfaatkan maka bisa untuk mencukupi kebutuhan pembangkit berkapasitas 1.000 MW hingga 145 tahun.

Djarot mengatakan, permintaan PLTN di dunia makin besar. Uni Emirate Arab akan membangun PLTN pada 2017, begitu juga dengan Turki, Vietnam, Yordania, Bangladesh. “Pelopornya adalah Tiongkok yang membangun 28 PLTN,” imbuh Djarot.

Sementara itu, Indonesia baru bisa membangun 3 unit mini reaktor yakni di Serpong dengan kapasitas 30 MW (tahun 1983), Bandung yang awalnya dibangun 250 kilowatt (tahun 1965), dan Yogyakarta dengan kapasitas 100 kilowatt (tahun 1974).


Sumber: Kompas.com
READ MORE - Berapa Nilai Investasi Pembangkit Nuklir?

Sumatera Terang Benderang Tahun 2025

Kompleks nuklir Fukushima Dai-ichi di Okumamachi, Jepang, 2011.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 5 ribu Megawatt (MW) di Bangka Belitung bisa beroperasi 2025. Kapasitas itu masih di bawah potensinya yang bisa mencapai 10 ribu MW.

“Asumsi bisa melistriki Sumatera, bisa jadi lumbung energi,” Kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto saat diskusi mingguan dihelat merdeka.com, Radio Republik Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Institut Komunikasi Nasional (IKN) bertajuk “Energi Kita: PLTN yang aman dan efisien untuk atasi krisis listrik”, Jakarta, Minggu (12/4).

Menurut Djarot, provinsi itu cocok untuk menjadi lokasi PLTN. Sebab, daerah tersebut bebas gempa bumi dan tsunami.

“Syarat pembangunan PLTN satu bebas kita kemungkinan kecil gempa sunami, jangan sampai bangun di Padang, Aceh,” pungkas dia.

Kendati demikian, kata Djarot, pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian ESDM.
“Kalau teknis 5 ribu MW itu 2025, itu kami bisa bangun kalau white paper-nya dikeluarkan Kementerian ESDM. Karena kami tak punya kewenangan,” kata dia.

Tergantung keputusan Presiden

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bakal terus mendorong pemerintah untuk berani membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Masalahnya, keputusan untuk go nuklir atau tidak, itu ada di presiden. Sebelumnya sudah pernah disampaikan. Tapi belum ada jawaban. Nanti kalau ketemu lagi akan saya tanyakan,” ujar Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto saat diskusi mingguan dihelat merdeka.com, Radio Republik Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Institut Komunikasi Nasional (IKN) bertajuk “Energi Kita: PLTN yang aman dan efisien untuk atasi krisis listrik”, Jakarta, Minggu (12/4).

Sejatinya, menurut Djarot, masyarakat Indonesia sudah setuju dengan adanya pembangunan PLTN. Berdasarkan survei Batan, sebanyak 72 persen dari 5 ribu responden di Indonesia menyatakan bisa menerima PLTN.

“Kami adakan jajak pendapat oktober 2014 soal pemanfaatan energi nuklir ini. Hasilnya 73 persen masyarakat dukung. Demand dari listrik ke depan akan sulit dipenuhi. Tapi sekali lagi, asal presiden oke, PLTN pasti jalan,” pungkas dia.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan Indonesia tak kekurangan ahli tenaga nuklir. Bahkan, sekitar 15 tenaga ahli Indonesia sudah ikut mengoperasikan sejumlah reaktor nuklir dunia.

Atas dasar itulah, menurut Nasir, Indonesia sudah siap untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Kemampuan sumber daya manusia luar biasa, ini yang dibutuhkan sudah tersedia,” ujarnya.


Sumber: Merdeka.com
READ MORE - Sumatera Terang Benderang Tahun 2025