Showing posts with label China. Show all posts
Showing posts with label China. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Ilustrasi KSAL Laksamana TNI Ade Supandi (kiri) (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Info Militer Terbaru - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Angkatan Laut Tiongkok Laksamana Wu Shengli di Markas Besar TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Begitu tiba di Cilangkap, Wu Shengli disambut Ade Supandi melalui upacara Jajar Kehormatan Milliter di pelataran Gedung Utama Mabes Angkatan Laut.

Selain sebagai kunjungan kehormatan ke Mabes AL, kunjungan Laksamana Wu ini adalah bagian dari rangkaian kunjungan yang dilaksanakan dalam rangka penganugerahan Bintang Kehormatan Jalasena Utama kepada Laksamana Wu Shengli yang disematkan oleh Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo hari ini di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Pemberian Tanda Kehormatan, sebagai penghargaan atas kerja sama dan hubungan baik antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok, khususnya untuk kemajuan dan peningkatan hubungan militer kedua negara.

Laksamana TNI Ade Supandi mengucapkan terima kasih kepada Angkatan Laut Tiongkok yang selama ini selalu aktif mengirimkan delegasinya pada berbagai kegiatan yang dihelat TNI AL dan mengharapkan kerja sama antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Tiongkok terus meningkat.

Laksamana Wu sendiri berterima kasih sebesar-besarnya atas sambutan hangat di Mabes AL, dan menyambut baik kerja sama yang sudah berjalan baik selama ini antara kedua angkatan di dua negara ini.
READ MORE - Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Sikap Indonesia Soal Nine Dash Line

Posisi Resmi Indonesia soal Konflik Laut China Selatan

Indonesia jadi penengah negara-negara yang terlibat konflik Laut China Selatan. (Reuters)

Info Militer Terbaru - Pemerintah Indonesia menegaskan posisi resminya dalam menyikapi konflik Laut China Selatan. Indonesia akan tetap pada posisi sebagai penengah negara-negara yang berkonflik atau bersengketa atas kawasan kaya energi itu.

Indonesia akan mendorong tercapainya Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan China soal wilayah tersebut. Menurut Direktur Mitra Wicara dan Antar-Kawasan Kementerian Luar Negeri Indonesia, Derry Aman, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas CoC.

"Posisi indonesia tetapa berada dalam bagaimana menjaga kestabilan dan perdamaian di wilayah tersebut. Implementasikan penuh CoC. Pencapaian CoC saat ini sudah masuk tahap negosiasi. Indonesia menyampaikan tegas, ini saatnya dibahas soal elemen yang ada dalam CoC," ucap Derry.

"Indonesia mendorong negara-negara yang terkait konflik menyelesaikannya secara damai. CoC ada dalam rangka menjaga wilayah itu tetap stabil, aman, damai, dan terjamin arus perdagangan di sana. Penyelesaian sengketa tetap di tangan negara-negara yang bersangkutan," sambung dia pada Kamis (12/11/2015).

Menurutnya, masalah Laut China Selatan akan turut dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan digerlar di Malaysia pada pekan depan, meski sebenarnya hal itu tidak ada dalam agenda inti ASEAN. Masalah itu kemungkinan juga akan diangkat dalam pertemuan KTT Asia Timur- ASEAN. (mas) 
9 Titik Imajiner China Tak Sesuai Hukum Internasional

Indonesia menyatakan sembilan titik imajiner China di Laut China Selatan tak sesuai hukum internasional. (Reuters)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nassir, mengatakan bahwa, sikap Pemerintah Indonesia soal sembilan titik imajiner atau "nine dash line" China di Luar China Selatan sudah sangat jelas. Indonesia menganggap sembilan titik itu tidak sesuai hukum internasional.

"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucap Arrmanatha.

Nine dash line merupakan garis putus-putus yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan, termasuk didalamnya Kepulauan Spratly dan Paracel.

Sembilan garis imajiner inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah tersebut. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu.

Seperti diketahui, selain China, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Brunei, dan Filipinan adalah negara lain yang turut mengklaim wilayah Laut China Selatan. Filipina bahkan sudah mengajukan gugatan atas klaim China itu ke pengadilan internasional.

Indonesia Minta Klarifikasi China  


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan. (Istimewa) ★Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan. Nine dash line adalah sembilan titik imaginer yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan.

"Kami telah meminta klarifikasi dari China mengenai apa yang dimaksud dengan nine dash line. Sejauh ini, belum ada klarifikasi mengenai hal itu," kata Arrmanantha saat briefing mingguan pada Kamis (12/11).

Sebelumnya, diplomat Indonesia yang kerap disapa Tata tersebut juga mengatakan, Indonesia tidak mengakui sembilan garis imaginer tersebut. Ini dikarenakan, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional.

"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia. Kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucapnya.

Sembilan titik imaginer itu sendiri merupakan salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah Laut China Selatan. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu. (esn)
READ MORE - Sikap Indonesia Soal Nine Dash Line

Saturday, 7 November 2015

Laut Cina Memanas, TNI AL Kirim 7 KRI ke Natuna






Info Militer Terbaru - TNI Angkatan Laut mengerahkan 7 kapal KRI untuk memberi deterrence effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan Laut Cina Selatan. Ketujuh kapal KRI tersebut sudah berada di Lanal Ranai, Natuna.


“Itu kan operasi rutin, kita kan dalam 365 hari kegiatan patroli itu kegiatan patroli pengamanan perbatasan, ZTE. Dan juga kegiatan patroli yang berkenaan dengan keadilan di laut, baik di Laut Natuna, Sulawesi, maupun Samudera Hindia. Termasuk yang sudah tergelar berkaitan dengan kerjasama bersama tetangga, patroli koordinasi,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi di Mabes Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta, Jumat (6/11).

Namun Laksamana Ade Supandi, tak menyebutkan tujuh KRI tersebut. Akan tetapi, dia mengatakan pihaknya melakukan pengawasan dan mengamankan jalur laut.“Mengamankan jalur-jalur pendekat ke kita, jadi tidak bisa sembarangan. Terus ada kegiatan inventionaly belakangan ini dan baru menggerakkan unsur, sebenarnya kan nggak. Kalau di lihat dari laporan-laporan AL ke Mabes TNI itu adalah bagian dari komitmen dari Mabes TNI untuk menjaga kedaulatan NKRI, termasuk di Laut Sulawesi,” kata mantan Pangarmatim ini.

Sebelumnya, situasi di Laut China Selatan makin panas. Ketegangan di Laut China Selatan belakangan memanas seiring kapal perang Amerika Serikat yang melakukan patroli di Laut Cina Selatan.
Sementara Indonesia masuk dalam pusaran konflik Laut China Selatan setelah pemerintah Tiongkok memasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menolak ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan.
Jenderal Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.
READ MORE - Laut Cina Memanas, TNI AL Kirim 7 KRI ke Natuna

Tuesday, 7 July 2015

China Tempatkan Rudal Pertahanan 250 Km dari India

sistem pertahanan udara

Info Militer Terbaru-Sebagai persiapan menghadapi konflik teritorial dengan India, China telah mengerahkan sistem pertahanan rudal antipesawat mereka HQ-9 ke lapangan udara Hetian di selatan wilayah otonomi Xinjiang Uyghur di barat laut negara itu. Menurut media Partai Komunis Global Times, 3 Juli 2015, Hetian hanya 260 kilometer dari India-Kashmir.

Kanwa Defense Review, sebuah majalah berbahasa China yang berbasis di Kanada, mengatakan rudal pertahanan udara HQ-9 baru-baru ini terlihat di pangkalan tersebut dan menilai bahwa keberadaan sistem ini untuk mempertahankan perbatasan barat China dari serangan udara potensial yang diluncurkan oleh Angkatan Udara India.

Lapangan terbang Hetian adalah basis Divisi Udara ke-37 Angkatan Udara China. Di tempat ini juga ditempatkan unit pembom tempur JH-7A yang dapat melaksanakan serangan udara terhadap sasaran di India.

Kanwa juga mengatakan Angkatan Udara PLA membuat keputusan lain pada akhir Juni untuk mengirim brigade pertahanan udara lain dari Daerah Militer Guangzhou  ke Gurun Gobi.
READ MORE - China Tempatkan Rudal Pertahanan 250 Km dari India

Monday, 6 July 2015

Apa Yang Terjadi Jika China Miliki S-400?

S-400 Triumf, sistem pertahanan udara Rusia paling canggih
S-400 Triumf, sistem pertahanan udara Rusia paling canggih

Info Militer Terbaru-Kesepakatan antara Rusia dan China untuk pengadaan sistem pertahanan udara S-400 akan mengubah peta bagi sejumlah negara. Sistem rudal paling canggih ini jelas akan meningkatkan kekuatan untuk Beijing dalam upayanya mendominasi langit di sepanjang perbatasannya, kata para ahli.

Sistem dengan daya jangkau 400 kilometer ini memungkinkan China untuk menyerang setiap sasaran udara di pulau Taiwan, selain mencapai target udara sejauh New Delhi, Calcutta, Hanoi dan Seoul. Air defense identification zone (ADIZ) atau zona identifikasi pertahanan udara Laut China dan Kuning di Timur Laut Cina juga akan dilindungi. Sistem ini akan memungkinkan China, jika perlu, untuk menyerang setiap sasaran udara dalam Korea Utara.

S-400 juga akan memungkinkan China untuk memperluas, tetapi tidak mendominasi, ruang pertahanan udara lebih dekat ke Jepang yang mengendalikan Kepulauan Senkaku yang disengketakan di Laut China Timur, kata Vasiliy Kashin, seorang spesialis Centre for Analysis of Strategies and Technologies, Moscow.

Saat ini China telah memiliki sistem S-300 dengan kisaran 300 kilometer. Jarak itu  hanya memungkinkan untuk menyerang target di sepanjang pantai barat laut Taiwan dan tidak dapat mencapai kota-kota besar di India dan Korea Selatan, kata Alexander Huang, Council on Strategic and Wargaming Studies, Taipei.  S-400 akan menantang kemampuan Taiwan untuk melakukan operasi pertahanan udara dalam Adiz, yang meliputi Selat Taiwan.

“Tentu saja, sistem baru ini juga akan memberikan China kemampuan ekstra untuk mencegah dan menolak ancaman udara musuh, membuat pasukan regional yang lebih berhati-hati ketika beroperasi dekat China,” kata Huang.

CEO Rosoboronexport Anatoly Isaikin mengumumkan penjualan sistem ini pada 13 Apri 2015 lalul. Dia mengatakan kepada media berita bahwa S-400 memiliki permintaan di pasar internasional dan China akan menjadi pelanggan ekspor pertama. Tidak ada spesifik yang terungkap, namun kontrak yang sebenarnya kemungkinan besar ditandatangani pada kuartal terakhir 2014, kata Kashin. Dia mengatakan kesepakatan itu akan mencakup 4-6 batalyon dengan nilai sekitar US$ 3 miliar.

Sebagaimana ditulis Defense News Sabtu 18 April 2015 S-400 adalah sistem yang tangguh dan merupakan evolusi rudal udara dalam upaya modernisasi pertahanan China, kata Mark Stokes, direktur eksekutif Proyek 2049 Institute. “Akan menarik untuk mengetahui apa rudal khusus varian diekspor sama dengan yang dibuat untuk Rusia,” katanya.

Kementerian Taiwan Pertahanan Nasional (MND) tidak terkejut dengan kabar ini, kata juru bicara Mayjen. Luo Shou-he. Menruut dia MND. Rusia dan China telah bekerja sama erat pada isu-isu militer selama puluhan tahun, kata dia, termasuk penjualan senjata dan pertukaran teknologi pertahanan.
“Untuk mengatasi potensi ancaman sistem baru ini, ROC [angkatan bersenjata Taiwan] telah menyelesaikan analisis ancaman rudal, dan strategi untuk melawan penanggulangan untuk melibatkan S-400,” katanya.
READ MORE - Apa Yang Terjadi Jika China Miliki S-400?

Tuesday, 23 June 2015

Bukan Indonesia, Terungkap Teka-Teki Siapa Pembeli Pertama JF-17

jf-17

Info Militer Terbaru-Teka-teki siapa pembeli pertama jet tempur JF-17 Thunder terungkap sudah. Ternyata bukan Indonesia seperti yang santer dikabarkan selama ini.

Negara tersebut ternyata Sri Lanka yang telah dikonfirmasi akan menjadi negara asing pertama yang membeli pesawat yang di China dikenal sebagai FC-1 Xiaolong atau “Fierce Dragon”. Pesawat tempur multi-peran yang dikembangkan bersama oleh Pakistan Aeronautical Complex dan the Chengdu Aircraft Corporation of China.

Seperti dilaporkan 92NewsHD yang berbasis di Pakistan, negara tersebut akan memesan sekitar 18-24 pesawat. Hal ini membenarkan klaim yang dibuat di Paris Air Show pekan lalu bahwa kontrak pertama penjualan JF-17 telah ditandatangani dengan “negara Asia.”

Rumor bahwa Sri Lanka mungkin menjadi yang pertama untuk mengekspor JF-17 muncul awal Juni ini ketika foto dari kantor komandan angkatan udara Sri Lanka mengungkapkan model skala dari JF-17.

Pakistan Air Force mengumumkan bahwa mereka akan mulai pengiriman JF-17 ke Sri Lanka mulai 2017. Ditambahkan bahwa pengembang Pakistan dan China akan melanjutkan upaya untuk mempromosikan pesawat ke negara-negara lain.

Informasi publik yang tersedia menunjukkan bahwa Angkatan Udara Sri Lanka saat ini memiliki sekitar 160 pesawat. Pesawat yang diperoleh dari China termasuk tujuh jet tempur J-7 dan sembilan pesawat angkut Y-12, dengan perintah tambahan untuk dua pesawat transport MA60.
READ MORE - Bukan Indonesia, Terungkap Teka-Teki Siapa Pembeli Pertama JF-17

Monday, 22 June 2015

Indonesia Beli JF-17 Thunder Dari Pakistan?

jf-17
JF-17 Thunder

Info Militer Terbaru-Pakistan telah berhasil menjual pesawat tempur JF-17 Thunder ke salah satu negara Asia pada hari senin di ajang Paris Air Show 2015, yang menandai penjualan internasional pertama pesawat tempur JF-17 yang dikembangkan bersama oleh Pakistan dan China.

Komodor udara Syed Muhammad Ali, juru bicara produksi mengatakan pada media di Paris Air Show 2015 bahwa mereka telah menyelesaikan negosiasi pemesanan pesawat JF-17 Thunder dengan salah satu konsumen dari Asia, Namun Syed Muhammad Ali enggan untuk memberikan informai lebih rinci terkait penjualan ini.

Sebelumnya, pejabat Pakistan mengatakan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan 11 negara yang berpotensi menjadi pembeli JF-17 Thunder. Dimana media Pakistan menyebutkan Malaysia dan Indonesia menjadi negara yang sangat berpotensi menjadi pembeli pertama JF-17 Thunder.

JF-17 Thunder diproduksi oleh Pakistan bekerjasama dengan sekutu mereka China. Merupakan pesawat tempur ringan multi-role yang mampu terbang dengan kecepatan Mach 2.0 dengan ketinggian mencapai 55.000 kaki.

Sekitar 80 orang mempromosikan JF-17 Thunder yang menjadi bintang di Paris Air Show 2015 mengingat banyak produsen pembuat pesawat tempur dunia tidak mengikuti pameran ini. Khalid Mahmood mengatakan bahwa kemungkinan tahun 2017 akan dimulai pengiriman pesawat ke pembeli dari Asia ini.

Mahmood menambahkan bahwa penjualan JF-17 Thunder telah mengalami penundaan karena terjadi berbagai macam konflik di negara-negara Timur Tengah.
READ MORE - Indonesia Beli JF-17 Thunder Dari Pakistan?

Thursday, 18 June 2015

China Kembali Serang Kapal Nelayan Vietnam

Ilustrasi
Ilustrasi

Info Militer Terbaru-China Coast Guard kembali bentrok dengan kapal nelayan Vietnam di dekat Kepulauan Paracel yang disengketakan di Laut China Selatan, nelayan Vietnam mengklaim bahwa mereka dihancurkan oleh meriam air dan tentara China merebut peralatan menangkap ikan mereka.

Dilaporkan Guancha Syndicate berbasis di Shanghai insiden antara kapal dari kedua negara dikatakan telah menjadi umum terjadi setelah China menerapkan moratorium penangkapan ikan di wilayah itu. Media Vietnam telah melaporkan beberapa kapal nelayan Vietnam diusir oleh penjaga pantai China, dengan setidaknya satu kapal mengklaim bahwa hasil tangkapan yang disita.

Pada tanggal 7 Juni, sebuah kapal nelayan Vietnam dengan 13 orang di dalamnya diserang oleh kapal penjaga pantai China dengan meriam air selama dua jam. Seorang nelayan 23 tahun mengatakan kepada wartawan bahwa China mengabaikan permintaan mereka untuk menghentikan peledakan mereka, bahkan ketika mereka mulai keluar dari perahu untuk mencegah dari tenggelam.

Kapten kapal Vietnam lain mengklaim bahwa kapal mereka “diserang dan dirampok” oleh empat kapal penjaga pantai China pada sore hari 10 Juni 2015. Kapal dikelilingi kapal China yang kemudian menabrak. Kapten, menambahkan bahwa enam petugas penjaga pantai kemudian melompat di papan perahu dan mengambil peralatan dan tangkapan berharga mereka untuk hari itu, yang mengakibatkan kerugian hingga US$ 25.000.

Bloomberg juga melaporkan beberapa insiden meriam air yang melibatkan penjaga pantai China dan kapal-kapal nelayan Vietnam pada akhir Mei.

Juru bicara kementerian luar negeri China Hong Lei mengatakan pada konferensi pers pada 18 Mei bahwa moratorium penangkapan ikan dikenakan di bawah yurisdiksi China di Laut China Selatan setiap musim panas.

“Itu adalah ukuran administrasi biasa diambil oleh China untuk melindungi sumber daya hayati laut di perairan yang relevan dan tindakan yang tepat untuk memenuhi kewajiban internasional China dan tanggung jawab,” katanya.
READ MORE - China Kembali Serang Kapal Nelayan Vietnam

Friday, 12 June 2015

Bomber dan Jet Tempur China Merapat ke Laut China Selatan


Info Militer Terbaru-Sejumlah jet tempur dan bomber China digeser ke Pasifik Barat dekat dengan zona identifikasi pertahanan udara (Adiz) Taiwan dan Filipina. Juru bicara Angkatan Laut PLA Liang Yang mengatakan pesawat mereka bergabung dengan armada hari Rabu pagi untuk latihan dari Bashi Channel, yang berada di antara Pulau Y’Ami Filipina dan Lanyu atau Orchid Island Taiwan.

Pesawat dikerahkan termasuk pembom strategis H-6G / K dan jet tempur superioritas udara J-11B.

Sebagaimana dikutip Want China Times Kamis 11 Juni 2015, Liang mengatakan latihan ini rutin digelar setiap tahun dan sesuai dengan aturan internasional. “Latihan ini tidak ditujukan untuk negara, daerah atau target tertentu,” kata Liang serta menambahkan hal itu juga tidak mempengaruhi kebebasan navigasi atau penerbangan di wilayah tersebut.


China terlibat dalam sengketa teritorial baik di Laut Cina Timur Laut dan Laut Cina Selatan, di mana ketegangan semakin tinggi akibat dari reklamasi lahan China pada terumbu dan pulau-pulau yang disengketakan. Negara-negara seperti Amerika Serikat telah menuduh China menghambat kebebasan navigasi di kawasan tersebut. “Ke depan, latihan yang sama dan latihan akan terus berlangsung,” kata Liang.

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan mengatakan akan memantau latihan ini karena dilakukan dekat mereka dan  menambahkan bukan pertama kalinya Cina telah melakukan latihan di daerah.
READ MORE - Bomber dan Jet Tempur China Merapat ke Laut China Selatan

Wednesday, 10 June 2015

Peningkatan Hubungan Militer RI – China


Info Militer Terbaru-Duta Besar Republik Rakyat China (Dubes RRC) untuk Indonesia Xie Feng di dampingi staf membahas peningkatan hubungan kedua negara dengan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko dalam suatu jamuan makan malam yang diadakan Kedutaan China, bertempat di Jl. Mega Kuningan Jakarta Selatan, Senin malam (8/6/2015). Turut hadir dalam acara tersebut Asintel Panglima TNI Mayjen TNI (Mar) Achmad Faridz Washington., S.E., Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya dan Kapuskersin TNI Laksma TNI Suselo.

Undangan jamuan makan malam tersebut dalam rangka ucapan terimakasih dari Dubes China kepada Jenderal TNI Dr Moeldoko karena selama menjabat sebagai Panglima TNI hubungan antara pemimpin dan pejabat militer China terjalin dengan sangat baik.

Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang peningkatan hubungan kedua Angkatan Bersenjata antar kedua negara yang telah terjalin dengan baik selama ini agar lebih ditingkatkan, misalnya dalam bidang pendidikan dan latihan militer.

Selain membahas masalah peningkatan hubungan dan kerjasama militer, Dubes RRC menceritakan pengalaman China yang dalam waktu singkat dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.


Dubes China mencontohkan bagaimana negeri tirai bambu tersebut dapat membangun dan mengembangkan trasportasi masal seperti kereta api dalam mengatasi masalah kemacetan. Sejak tahun 2004 hingga 2015 China telah membangun rel kereta api sepanjang 16.000 km dengan menggunakan teknologi canggih.

Dalam kesempatan tersebut Dubes China menyampaikan bahwa negeri tirai bambu bersedia membantu pemerintah Indonesia dibidang teknologi, industri dan lainnya agar perkembangan di Indonesia dapat berjalan dengan cepat seperti di China.

Diakhir kesempatan Dubes China menyampaikan bahwa dengan akan berakhirnya jabatan Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko, hubungan baik antara kedua negara khususnya kedua Angkatan Bersenjata antara Indonesia dan China dapat tetap terjalin dengan baik.

Sumber: Puspen TNI.
READ MORE - Peningkatan Hubungan Militer RI – China

Friday, 5 June 2015

China dan India Tertarik Beli Armata


Info Militer Terbaru-Mitra luar negeri Rusia, termasuk China dan India, telah menyatakan minatnya untuk membeli peralatan militer baru yang disajikan pada 9 Mei Hari Kemenangan parade di Moskow, termasuk tank Armata.

“Untuk sebagian besar itu adalah mitra tradisional kita: India, China dan Asia Tenggara,” kata juru bicara  Presiden Rusia Vladimir Kozhin kepada surat kabar Izvestia dan dilansir Sputnik Kamis 4 Juni 2015.

Kozhin, menambahkan, teknologi baru serta kepuasan negara lain atas setiap kontrak dengan Rusia menjadikan negara asing tetap memilih senjat Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia meluncurkan tank tempur Armata baru di parade militer Hari Kemenangan diselenggarakan di Moskow pada tanggal 9 Mei di perayaan kemenangan Perang Dunia II atas Nazi Jerman.

Tank dioperasikan oleh awak tiga, bertempat di sebuah kapsul lapis baja di depan. Persenjataan utama termasuk remote control senapan mesin 7,62 mm dan meriam 125 mm smoothbore.

Industri pertahanan Rusia menjadi sasaran sanksi Barat yang diberlakukan terhadap negara itu atas tuduhan peran Moskow dalam krisis Ukraina. Menurut Kozhin, pembatasan tidak mempengaruhi ekspor senjata Rusia dan tidak pernah akan menyebabkan runtuhnya industri pertahanan negara.
READ MORE - China dan India Tertarik Beli Armata

India Beli Rafale, Pakistan-China Langsung Upgrade J-17


Info Militer Terbaru-Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan bertemu pejabat pertahanan China sebagai upaya untuk meningkatkan produksi bersama pesawat tempur JF-17 Thunder, di tengah langkah India untuk memperoleh 36 pesawat tempur Rafale dari Perancis.

Kepala PAF Marsekal Sohail Aman, yang sedang melakukan kunjungan lima hari ke China, bertemu Gen Fan Changlong, Wakil ketua komisi militer pusat China, komando tinggi militer China.

"Kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tempur JF-17 Thunder yang diproduksi bersama oleh dua negara agar setara dengan pesawat terbaru dari dunia," kata juru bicara PAF sebagaimana dikutip media Pakistan The Nation Kamis 4 Juni 2015. 

PAF berencana untuk mengakuisisi 200 jet tempur tahun ini. Fan dan Sohail berjanji untuk memperkuat kerjasama praktis dalam pelatihan, perlatan militer dan anti-terorisme.

"China dan Pakistan telah menjadi "teman besi" selalu percaya dan mendukung satu sama lain," kata Fan sementara mengekspresikan harapan bahwa kerjasama militer kedua negara akan memberikan kontribusi bagi perdamaian dan stabilitas regional.

 





READ MORE - India Beli Rafale, Pakistan-China Langsung Upgrade J-17

Monday, 1 June 2015

Pulau buatan China di Laut China Selatan
 Pulau buatan China di Laut China Selatan

Info Militer Terbaru-Senator kawakan AS, John McCain dari Partai Republik mengusulkan pemerintah Amerika Serikat menyalurkan dana kepada negara-negara yang wilayahnya bersinggungan dengan Laut China Selatan, termasuk Indonesia. Tujuannya, agar setiap negara memiliki infrastruktur militer yang siap menghadang Tentara China.

McCain menyatakan dana senilai USD 425 juta (setara Rp 5,9 triliun) bertahap selama lima tahun itu bisa disalurkan ke Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. “Dana itu bisa dipakai untuk menambah pasokan alutsista, pelatihan, dan pembangunan instalasi militer sekitar Laut China Selatan,” ujarnya seperti dilansir Irish Times, Sabtu (30/5).

Sekadar mengingatkan, Indonesia tidak punya urusan dengan konflik Laut China Selatan yang melibatkan adu klaim lebih dari enam negara. Namun, ada kemungkinan peta China meluas hingga Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

McCain yang pernah berusaha maju menjadi capres pada pemilu AS 2008 mengatakan bantuan itu perlu untuk menahan ekspansi China di area Laut China Selatan. Dia berharap rekan-rekannya di DPR dan Senat mendukung UU Pertahanan yang fokus menghambat penguatan militer China di Asia.

Kabarnya Partai Demokrat maupun Partai Republik sepakat dalam setiap UU untuk melemahkan militer China.

Pertengahan Mei 2015, pesawat pengintai Amerika Serikat P8-A Poseidon terbang di atas ketinggian 4.500 meter di atas kepulauan Spratly.

Militer China tentu tidak tinggal diam. Kapal perang mereka memberi delapan peringatan kepada pesawat Amerika untuk segera pergi.

Koran Global Times, milik Partai Komunis China yang bermarkas di Beijing, menurunkan editorial yang menuliskan ketegangan kian memanas dan perang antara China melawan Amerika Serikat sulit terhindarkan.

Informasi teranyar bahkan menyebutkan Jepang buat pertama kalinya akan bergabung dengan Amerika dan Australia untuk ikut latihan militer di tengah memanasnya isu Laut China Selatan ini.
“Amerika ingin sekutunya berbuat lebih banyak. Jepang menjadi tumpuan kekuatan sekutu Amerika di Pasifik Barat dan Australia jadi jangkar di sebelah selatan,” kata Euan Graham, direktur Program Keamanan Internasional di Institut Lowy Sydney.

Sumber: Merdeka.com
READ MORE -

Friday, 29 May 2015

Imbangi China, 11 Negara Tingkatkan Kekuatan Laut

Angkatan Laut China
 Angkatan Laut China

Info Militer Terbaru-Tidak kurang dari 11 negara akan meng-upgrade angkatan laut mereka di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan.

China memang terus membangun kekuatan lautnya dan kemungkinan akan seimbang dalam jumlah dengan Amerika pada tahun 2020  yakni dengan 78 kapal selam. Sebagian besar akan ditempatkan di Yulin Naval Base di sepanjang pantai selatan Hainan.

Meskipun terus meningkatkan anggaran militernya setiap tahun, anggaran pertahanan China jauh jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Statistik terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute mengatakan Amerika Serikat tetap menjadi negara paling boros dalam belanja militer dunia, dengan US$665 miliar  yang berarti sama dengan total tujuh negara yang ada di bawahnya. Jumlah ini juga tiga kali lipat dibandingkan anggaran China. Tetapi China anggaran militernya sama dengan pengeluaran agregat dari 24 negara di Asia Timur dan Selatan.

AS juga baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk menyebarkan drone surveilans RQ-4 “Global Hawk” dan F-35 jet tempur ke Laut China Selatan untuk menghadapi sikap agresif China di kawasan tersebut.

Vietnam, yang terlibat dalam sengketa wilayah dengan China atas pulau Paracel dan  kepulauan Spratly, baru-baru ini menjadi berita utama dengan memesan enam kapal selam dari Rusia serta beberapa pesawat pengintai. Pengeluaran militer Vietnam telah meningkat 83% selama lima tahun terakhir, angkatan lautnya juga telah dua kali lipat dalam jumlah frigat dengan mencapai 68 kapal.
Sebaliknya, Filipina hanya membeli sejumlah kapal patroli dari Jepang, meskipun telah meningkatkan kerja sama militer dengan AS dengan membuka port dan pangkalan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat.

Adapun negara-negara lain di dalam dan sekitar Laut Cina Selatan, Indonesia telah memesan tiga kapal selam dari Korea Selatan; Malaysia telah memesan enam kapal patroli dari Prancis dan Singapura telah mengakuisisi enam frigat kelas Formidable dan memesan dua kapal selam baru dari Prancis untuk menambah empat armada yang ada saat ini.

Thailand, Indonesia dan Filipina juga telah memperoleh kendaraan lapis baja baru, helikopter dan kapal amfibi yang mampu melakukan misi pengawasan dan penyelamatan.

IHS Janes Defence Weekly yang berbasis di Inggris memproyeksikan anggaran pertahanan tahunan di Asia Tenggara mencapai US$ 52 miliar pada 2020, naik dari US$42 miliar dari tahun ini. Sepuluh negara dari Asia Tenggara diperkirakan menghabiskan US$ 58 miliar pada peralatan militer baru selama lima tahun ke depan, dengan pengadaan angkatan laut, khusus untuk Laut Cina Selatan menjadi porsi terbesar.

Situasi di Laut Cina Selatan juga telah mempengaruhi Jepang, Korea Selatan dan India, dengan masing-masing yang membuat langkah untuk meningkatkan angkatan laut masing-masing. Angkatan Laut Bela Diri Jepang telah menambah 41 frigat hingga sekarang menjadi 389 kapal. Tokyo juga telah meningkatkan anggaran pertahanan US$ 48 miliar yang akan mencakup pembelian pesawat surveillane P-1, jet tempur siluman dan persenjataan lainnya buatan AS. Korea Selatan, di sisi lain, telah menambahkan kapal selam secara ofensif, sementara India berencana untuk membangun enam kapal selam baru.
READ MORE - Imbangi China, 11 Negara Tingkatkan Kekuatan Laut

J-16 China Siap Masuki Layanan AU China

J-16 dengan cat abu-abu
 J-16 dengan cat abu-abu

Info Militer Terbaru-Sebuah foto yang diposting oleh situs militer di China menunjukkan jet tempur dengan dua kursi J-16 telah dicat abu-abu terang yang menunjukkan pesawat hampir siap untuk memasuki layanan Angkatan Udara China. Demikian dilaporkan People Daily online Kamis 28 Mei 2015.

Wang Mingzhi, seorang ahli angkatan udara China, mengatakan kepada China Central Television bahwa J-16 akan sangat meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Udara China. Pesawat tempur bermesin ganda yang dirancang berdasarkan Su-27k Rusia tetapi memiliki spesifikasi kinerja mirip dengan F-15E Strike Eagle dari AS, menurut Wang.

Sebagaimana kebiasaan pesawat yang masih dalam pengembangan akan dicat dengan warna kuning sementara pesawat tempur yang muncul terbaru telah dicat abu-abu terang. Jika foto yang diunggah ke internet akurat, J-16 hampir pasti siap untuk masuk layanan, menurut Wang. Seperti F-15E, J-16 dirancang untuk pertempuran udara dan untuk memberikan dukungan udara jarak dekat untuk pasukan darat.
READ MORE - J-16 China Siap Masuki Layanan AU China

Thursday, 28 May 2015

Beijing Sudah Instal Senjata di Laut China Selatan


Info Militer Terbaru-Di tengah ketegangan yang terus meningkat di Laut China Selatan, media Australia melaporkan bahwa China telah menempatkan senjata di pulau-pulau buatannya.

Pada hari Selasa 27 Mei 205, Jepang mengumumkan bahwa mereka akan bergabung dalam Talisman Sabre, latihan militer bersama yang biasanya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Australia. Trifecta baru yang dibentuk sekutu Pasifik dipandang sebagai upaya terbaru untuk meningkatkan pertahanan terhadap ancaman dari China.

Partisipasi Jepang dalam latihan menunjukkan keprihatinan Tokyo terkait konstruksi Beijing pulau di Laut China Selatan, Australia tampaknya telah mengambil lebih dari umpan Washington. Sejumlah media Australia sekarang melaporkan bahwa China telah menggerakkan persenjataan ke pulau-pulau buatan di Laut Cina Selatan.

Jika klaim ini benar, maka akan mewakili perubahan besar dalam kebijakan China, dan eskalasi besar dalam ketegangan yang terus tumbuh antara pemangku kepentingan daerah. Meskipun belum ada bukti nyata dari klaim itu.

Sebagaimana dikutip Sputnik, laporan ini bisa muncul dari keprihatinan pemerintah Australia tentang rute perdagangan mereka sendiri, seperti Washington terus mengabarkan tentang potensi ancaman dari China. Sementara Australia sebelumnya tetap netral dalam semua sengketa Laut Cina Selatan, tampaknya akan mengubah lagunya.

“Modernisasi militer China serta reklamasi lahan untuk keperluan militer akan menjadi perhatian khusus,” kata pejabat pertahanan top Australia, Dennis Richardson, dalam forum di Sydney.

Pemerintah China telah berulang kali menegaskan bahwa pulau-pulau terletak dalam wilayah kedaulatannya, dan bahwa ia memiliki hak untuk membangun. Pada hari Selasa, Departemen Pertahanan Juru Bicara Yang Yujun membandingkan upaya reklamasi lahan untuk pembangunan jalan dan rumah-rumah di daratan.

“Dari perspektif kedaulatan, sama sekali tidak ada perbedaan,” katanya kepada wartawan.
Sebelumnya juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying menekankan bahwa pulau-pulau akan membantu pencarian dan penyelamatan maritim, bantuan bencana, perlindungan lingkungan, dan keamanan navigasi. “Beberapa negara eksternal juga sibuk campur tangan dalam urusan Laut Cina Selatan,” katanya.

Terlepas dari kenyataan bahwa AS tidak memiliki klaim teritorial di wilayah tersebut, telah secara konsisten meningkat upaya untuk menggalang kekuatan di kawasan itu. Amerika terus melakukan latihan militer dengan Filipina dan Indonesia, dan meluncurkan misi patroli selama proyek reklamasi tanah.

“Tindakan China adalah membawa negara di wilayah ini bersama-sama dengan cara yang baru,” kata Menteri Pertahanan AS Ash Carter dalam sebuah upacara militer pada hari Rabu. “Mereka peningkatan permintaan untuk keterlibatan Amerika di Asia-Pasifik. Kami akan memenuhi kebutuhan itu.”

“Kami akan tetap menjadi kekuatan keamanan utama di Asia-Pasifik selama beberapa dekade yang akan datang,” tambahnya.

Dengan nilai perdagangan senilai hampir US$ 5 triliun yang melewati perairan per tahun, Laut China Selatan merupakan daerah yang diperebutkan. Selain China yang meletakkan klaim untuk sebagian daerah, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina juga memiliki klaim yang tumpang tindih.
READ MORE - Beijing Sudah Instal Senjata di Laut China Selatan

China: AS Gunakan Trik Lama untuk Diskriditkan China


Info Militer Terbaru-Angkatan Laut China sebenarnya telah melakukan operasi pemeriksaan kapal perang dan pesawat AS di wilayah China di sekitar Laut China Selatan sejak lama. Tetapi kenapa ketika terakhir mereka mengingatkan P-8A Poseidon menjadi heboh?

Menurut China, ini adalah trik Amerika untuk meningkatkan status ketegangan di wilayah tersebut. Bahkan negara itu secara khusus membawa kru televisi untuk terbang bersama pesawat mata-mata paling canggih tersebut. Sesuatu yang jarang terjadi wartawan bisa mengkases teknologi yang sangat penting dan rahasia tersebut.

“Insiden terbaru di Laut China Selatan hanya ‘trik lama’ yang digunakan untuk membuat ketegangan dan mengganggu reputasi angkatan bersenjata China,” kata juru bicara Departemen Pertahanan China Yang Yujun Selasa 26 Mei 2015.

Menurutnya sejak lama Angkatan Laut China selalu mengingatkan kapal perang dan pesawat AS di wilayah China di sekitar Laut China Selatan, kata Yujun selama konferensi pers. “Tanggapan kami lakukan dengan berdasarkan hukum dan profesional,” katanya, laporan media China.

Hanya pekan lalu, sebuah pesawat AS mengabaikan peringatan berulang dari militer China untuk terbang misi pengintaian atas pulau-pulau.”Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa sebuah negara tertentu mencari alasan untuk mendukung operasi di masa depan,” katanya. “Ini bukan sesuatu yang baru. Ini adalah trik lama,” kata Yujun.

Dengan membawa media di atas pesawat, menurun Yujun adalah jelas agar dari liputan ini muncul keyakinan Angkatan Laut memang memancing ketegangan regional. Padahal hal itu adalah hal biasa terjadi.
READ MORE - China: AS Gunakan Trik Lama untuk Diskriditkan China

Wednesday, 27 May 2015

USAF: 3-5 Tahun Lagi Kekuatan Udara Rusia dan China Susul AS

Info Militer Terbaru-Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat Jenderal Mark Welsh,  memperingatkan bahwa pemotongan anggaran pertahanan yang parah akan berdampak pada kemampuan US dalam hal superioritas udara.

“China dan Rusia adalah dua contoh yang baik dari negara-negara yang akan mengambil kemampuan itu dalam tiga sampai lima tahun ke depan; jika mereka tetap di jalur, yang lebih baik dari apa yang saat ini kami miliki di banyak daerah, “kata Welsh selama kunjungan tiga hari ke Langley Air Force Base di Virginia.

“Pesawat tempur mereka dalam tiga sampai lima tahun ke depan akan memiliki kemampuan lebih daripada apa yang kita miliki saat. F-35 memang akan tetap di depan mereka. F-22 akan, juga. Tetapi untuk yang lain kita tidak akan berada di depan. Kesenjangan telah ditutup.”

Sampai malam pertama perang udara terhadap ISIS di Suriah Oktober lalu, F-22 tidak pernah digunakan dalam pertempuran. Siluman ini terbang hampir dua kali kecepatan suara. “Saya pikir kita melihat banyak dari apa yang F-22 dapat dilakukan, tetapi Anda pasti tidak melihat semua,” kata Welsh.

“Dengan 8 sampai 10 tahun dari sekarang, kita bisa menghadapi sebanyak 50 negara yang menggunakan jet tempur paling canggih Rusia dan China saat ini,” kata Welsh. Ketika ditanya berapa banyak inovasi dalam teknologi jet tempur Rusia dan China didasarkan teknologi yang dicuri dari AS, Welsh hanya tersenyum.

Dia kembali menegaskan pemotongan anggaran telah mengakibatkan pengurangan banyak pesawat.
“Kami memiliki 200.000 orang lebih sedikit dalam komponen aktif. Itu 40 persen lebih sedikit daripada apa yang kami miliki selama Perang Teluk pertama. Angkatan Udara saat ini adalah berbeda secara dramatis,”Welsh menjelaskan.

“Kita harus menghentikan penarikan ini dan membangun garis merah sekarang di ukuran kekuatan aktif.”

Pada kunjungannya ke Langley Air Force Base di Hampton, Va -. Pusat otak Angkatan Udara AS – Jenderal Welsh bertemu dengan penerbang muda yang melayani di penerbangan intelijen dan pengawasan.

Dari tempat ini penerbang drone mengejar orang-orang yang diduga menjadi teroris. Pangkalan ini menjadi rumah untuk Air Combat Command, di mana para anggota dari Air Wings 363 dan 480 dengan jumlah penerbang  18-20orang menjelajahi seluruh dunia dengan drone memilih target serangan di komputer mereka.

Kemampuan pilot Predator dan Reaper yang duduk di gurun luar Las Vegas di Creech Air Force Base juga kurang banyak “Ini masalah serius jika kita tidak bisa memperbaikinya,” kata Welsh. “Masalah yang kita miliki adalah persyaratan telah tumbuh secara dramatis sejak 2008.”
READ MORE - USAF: 3-5 Tahun Lagi Kekuatan Udara Rusia dan China Susul AS

China Siapkan Nuklir Jaga Laut China Selatan

 Tiongkok merilis dokumen pertahanan terbaru, mengungkap peningkatan kekuatan di Laut China Selatan menyusul upaya mata-mata dari beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. (Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Info Militer Terbaru-Pemerintah Beijing akan meningkatkan pertahanan laut mereka, salah satunya dengan menyiagakan nuklir, terutama di wilayah Laut China Selatan yang diperebutkan berbagai negara. Hal ini diungkapkan dalam dokumen pertahanan terbaru Negeri Tirai Bambu.

Diberitakan Reuters, dalam dokumen kebijakan yang dikeluarkan Dewan Negara, kabinet pemerintahan Partai Komunis, Selasa (26/5), China berkomitmen meningkatkan pertahanan laut serta mengkritik “tindakan provokasi” yang dilakukan banyak negara lain di laut sengketa.

Dokumen ini dirilis seiring ketegangan yang terus meningkat antara China dengan negara-negara Asia lain yang juga mengklaim wilayah Laut China Selatan. China, salah satunya, dituduh memperkuat klaimnya di perairan tersebut dengan melakukan reklamasi laut.

Pemerintah Tiongkok mengecam AS setelah pesawat mata-mata Pentagon terlihat terbang di terumbu karang Laut China Selatan pekan lalu. Baik AS dan China saling tuduh memprovokasi dan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan.

Akibat peristiwa pekan lalu, Tiongkok dalam dokumen terbarunya fokus pada peningkatan pertahanan udara dengan kekuatan militer yang lebih besar.

Pertahanan Nuklir

China juga akan meningkatkan pertahanan nuklir mereka sebagai tameng atau serangan balasan dengan menggunakan roket jarak-menengah dan jauh. China adalah satu dari lima negara pemilik senjata nuklir yang diatur oleh Traktar Proliferasi Nuklir. Selain China, pemilik nuklir lainnya adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Rusia.

Disebutkan militer juga akan memperkuat keamanan di wilayah-wilayah yang dinilai kritis dan memiliki kepentingan China yang besar. Tidak disebutkan tepatnya dimana wilayah-wilayah tersebut.
Wilayah Laut China Selatan diklaim oleh empat negara lainnya selain China, yaitu Vietnam, Filipina, Malaysia, Taiwan dan Brunei. Wilayah ini diyakini kaya minyak dan gas serta merupakan jalur pelayaran dengan nilai perdagangan senilai US$5 triliun setiap tahunnya.

Menurut Yang Yujun, juru bicara Kementerian Pertahanan China, peningkatan keamanan dilakukan untuk mencegah aksi mata-mata di Laut China Selatan. Selain itu, ujar dia, reklamasi laut adalah hak China di wilayah mereka. Yang menegaskan, ada beberapa negara yang ikut campur masalah di Laut China Selatan dan membesar-besarkan permasalahan. Hal ini termaktub dalam dokumen tersebut.

“Beberapa negara sibuk mencampuri masalah Laut China Selatan, beberapa negara melakukan pengawasan udara dan laut serta memata-matai China,” ungkap dokumen itu, diduga kuat merujuk pada Amerika Serikat dan sekutunya.

Sumber: CNN Indonesia
READ MORE - China Siapkan Nuklir Jaga Laut China Selatan

Tuesday, 26 May 2015

J-11 Bisa Diplot untuk Kawal Bomber H-6K China

J-11 China

China baru mengembangkan jet tempur J-11B dan J-16 untuk dapat digunakan dalam misi pengawalan pembom strategis H-6K Angkatan Udara yang beroperasi di Pasifik Barat, menurut ahli pertahanan Rusia Vasil Kashin seperti dikutip Sputnik News yang berbasis di Moskow.

Sejauh ini tidak diketahui jumlah pembom H-6K Angkatan Udara China yang melakukan misi jarak jauh pertama untuk berlatih di atas Pasifik Barat bulan lalu. Sesampainya di tempat tujuan mereka melalui Saluran lepas pantai Bashi selatan Taiwan, bomber china terbukti memiliki kemampuan meluncurkan serangan udara melawan Jepang. Foto-foto yang dirilis oleh Angkatan Udara PLA secara online menunjukkan bahwa China memiliki setidaknya dua resimen pembom H-6K, menurut Kashin.

Karena seluruh Pasifik Barat sekarang dalam kisaran pembom China, maka Amerika Serikat, Jepang dan Taiwan dapat mengembangkan atau membeli pesawat tempur kelas berat untuk melawan mereka, kata Kashin. Pesawat tempur berbasis kapal induk F-14 Tomcat dirancang oleh Angkatan Laut AS untuk menghadapi pembom strategis Soviet selama periode Perang Dingin.

Jika AS dan sekutunya akan mencegat pembom China di masa depan, Angkatan Udara PLA kemungkinan akan menyebarkan pesawat tempur kelas berat untuk mengawal mereka juga. Dan dipilihlah J-11 dan J-11B yang merupakan versi tiruan dari Su-27.



Bomber H-6K China

Shenyang Aircraft Corporation telah mengembangkan pesawat kelas berat seperti J-11B dan J-16, kata Kashin. Bila perlu, kedua jenis pesawat dapat digunakan untuk melaksanakan misi pendamping untuk pembom H-6K dilengkapi dengan rudal jelajah CJ-10.

Pesawat dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang telah ditetapkan untuk masuk layanan guna memperluas jangkauan pembom strategis China.
READ MORE - J-11 Bisa Diplot untuk Kawal Bomber H-6K China