Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Ilustrasi KSAL Laksamana TNI Ade Supandi (kiri) (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Info Militer Terbaru - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Angkatan Laut Tiongkok Laksamana Wu Shengli di Markas Besar TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Begitu tiba di Cilangkap, Wu Shengli disambut Ade Supandi melalui upacara Jajar Kehormatan Milliter di pelataran Gedung Utama Mabes Angkatan Laut.

Selain sebagai kunjungan kehormatan ke Mabes AL, kunjungan Laksamana Wu ini adalah bagian dari rangkaian kunjungan yang dilaksanakan dalam rangka penganugerahan Bintang Kehormatan Jalasena Utama kepada Laksamana Wu Shengli yang disematkan oleh Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo hari ini di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Pemberian Tanda Kehormatan, sebagai penghargaan atas kerja sama dan hubungan baik antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok, khususnya untuk kemajuan dan peningkatan hubungan militer kedua negara.

Laksamana TNI Ade Supandi mengucapkan terima kasih kepada Angkatan Laut Tiongkok yang selama ini selalu aktif mengirimkan delegasinya pada berbagai kegiatan yang dihelat TNI AL dan mengharapkan kerja sama antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Tiongkok terus meningkat.

Laksamana Wu sendiri berterima kasih sebesar-besarnya atas sambutan hangat di Mabes AL, dan menyambut baik kerja sama yang sudah berjalan baik selama ini antara kedua angkatan di dua negara ini.
READ MORE - Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Panglima TNI Inspeksi Kapal Perang


Info Militer Terbaru - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi dan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Hadiyan Suminta Atmadja melakukan inspeksi terhadap Kapal Perang Republik Indonesia, yaitu KRI Karang Pilang-981, KRI Karang Tekok-982 dan KRI Teluk Ratai-509 di Koarmatim Dermaga Ujung Surabaya.

Inspeksi yang dilakukan Panglima TNI adalah dalam rangka mengecek kesiapsiagaan seluruh alutsista dan personel TNI, untuk selalu siap dalam melaksanakan setiap kegiatan operasi yang akan digelar oleh TNI. "Rawatlah persenjataan kita dengan baik, sehingga siap operasional. Sehebat apapun kapal-kapal yang kita miliki, tetapi apabila kita tidak bisa merawatnya maka tidak siap operasional", tegas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Usai melakukan inspeksi KRI, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan pengarahan kepada 972 Prajurit TNI AL di Aula Koarmatim Surabaya, diantaranya mengatakan bahwa kepercayaan rakyat kepada TNI lambat laun semakin meningkat dan kepercayaan rakyat terhadap TNI pada tahun 2015 menempati urutan tertinggi dibanding instansi dan lembaga negara lainnya. Profesionalisme prajurit TNI itu telah meningkatkan kepercayaan rakyat Indonesia kepada TNI.

Oleh karena itu, Panglima TNI mengingatkan untuk menghindari tindakan yang menyakiti hati rakyat demi kepentingan pribadi. Panglima TNI mengaku telah berkomitmen dengan para Kepala Staf Angkatan untuk tidak melakukan pembelaan sedikit pun bagi prajurit yang melakukan pelanggaran tertentu, bahkan akan diberikan hukuman tambahan, pemecatan. Alasannya, Panglima TNI lebih mencintai prajuritnya yang berjumlah 400.000 lebih daripada orang perorang yang demi kepentingan pribadinya rela mengorbankan nama baik TNI.

"Yang sangat penting adalah TNI harus unggul, solid, kuat, baik Angkatan Darat, Laut, Udara dan Kepolisian. TNI dan Polri hanya dipisahkan karena reformasi tetapi kita harus kompak bersatu demi NKRI", tegas Panglima TNI.

Kabidpenum Puspen TNI
Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M
READ MORE - Panglima TNI Inspeksi Kapal Perang

PT.PAL Tingkatkan Kemampuan Dukung Pemenuhan ALUTSISTA

PT PAL Mulai Kerjakan Kapal Tunda ke-3 Pesanan TNI AL 


Kapal Tunda TNI AL Anjasmoro (PAL)

Info Militer Terbaru - Momentum hari Pahlawan tahun ini, terasa sangat istimewa bagi PT PAL INDONESIA (Persero). Terdapat pemenuhan kebutuhan Kapal baru untuk TNI Angkatan Laut menjalankan tugas operasional. Melalui pemotongan plat pertama kapal tunda 2400 HP yang dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pengadaan Angkatan Laut (SEKDISADAL), Kolonel Laut (T) Udyatmoko, turut mendampingi Direktur Produksi PT PAL INDONESIA, dan Kepala Perwakilan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) di Bengkel Fabrikasi Kapal Perang.

Direktur Produksi PT PAL INDONESIA (Persero), Edy Widarto menuturkan rasa terima kasih atas kembali dipercaya untuk mengerjakan pembangunan kapal dalam pemenuhan kebutuhan TNI Angkatan Laut. Pembangunan 1 unit Kapal Tunda 2400 HP ini berdasar pada Kontrak 3 Agustus 2015 dengan nomor KTR/106/02-51/VIII/2015/DISADAL. Kapal ini akan melengkapi TNI Angkatan Laut dalam menjalankan tugas oprasional sehari-hari. Pembangunan kapal tunda pertama pesanan TNI Angkatan Laut di tahun ini dikerjakan sebagai salah satu bentuk penugasan sebagai kapal bantĂș pemenuhan Alat Utama Sistem Senjata (ALUTSISTA).

Kapal Tunda ini berkemampuan layaknya kapal tunda yang telah diserahkan 2013 lalu, KRI Galunggung dan KRI Anjasmoro. Dengan kekuatan mesin 2x1200 HP dan berbeban tarikan 30 Ton, kapal ini memiliki kecepatan hingga 12 knots. Kapal dengan panjang 29 Meter dan lebar 9 meter ini mampu menampung hingga 8 ABK dan 2 Penumpang. Berkapasitas 7 tangki penampung, mampu berlayar selama 7 hari.

Pembangunan kapal tunda baru ini akan difungsikan untuk membantu dan mendukung tugas operasional TNI Angkatan laut dalam menjaga dan mengamankan NKRI. Sekaligus memperingati Hari Pahlawan, Insan PAL INDONESIA siap dan sedia dalam mendukung dan membantu untuk pemenuhan kebutuhan Perjuangan TNI Angkatan Laut.

 Spesifikasi Kapal Tunda 2400 HP : 

★ Panjang = 29 m
★ Lebar = 9 m
★ Draft = 3,5 m
★ Ketahanan = 7 hari
★ Mesin = 2 x 1200 HP
★ Beban tarikan = 30 Ton
★ Kapasitas Penumpang = 8 ABK + 2 Penumpang
READ MORE - PT.PAL Tingkatkan Kemampuan Dukung Pemenuhan ALUTSISTA

Wednesday, 11 November 2015

[Foto] Camouflage Baru BMP3F Marinir

Loreng Baru dan tulisan "MARINIR" dihilangkan


Info Militer Terbaru - Berikut ini penampakan loreng baru pada kendaraan tempur Marinir. Juga terlihat pada ranpur tersebut tulisan "MARINIR" yang selalu nampak disamping dihilangkan.

Belum jelas apakah ini sudah menjadi keputusan akhir atau masih dalam ujicoba lapangan.

Gambar ini dipostkan pr1v4t33r dari defense.pk.

bmp3f-1.jpg
bmp3f-6.jpg
READ MORE - [Foto] Camouflage Baru BMP3F Marinir

Saturday, 7 November 2015

Laut Cina Memanas, TNI AL Kirim 7 KRI ke Natuna






Info Militer Terbaru - TNI Angkatan Laut mengerahkan 7 kapal KRI untuk memberi deterrence effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan Laut Cina Selatan. Ketujuh kapal KRI tersebut sudah berada di Lanal Ranai, Natuna.


“Itu kan operasi rutin, kita kan dalam 365 hari kegiatan patroli itu kegiatan patroli pengamanan perbatasan, ZTE. Dan juga kegiatan patroli yang berkenaan dengan keadilan di laut, baik di Laut Natuna, Sulawesi, maupun Samudera Hindia. Termasuk yang sudah tergelar berkaitan dengan kerjasama bersama tetangga, patroli koordinasi,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi di Mabes Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta, Jumat (6/11).

Namun Laksamana Ade Supandi, tak menyebutkan tujuh KRI tersebut. Akan tetapi, dia mengatakan pihaknya melakukan pengawasan dan mengamankan jalur laut.“Mengamankan jalur-jalur pendekat ke kita, jadi tidak bisa sembarangan. Terus ada kegiatan inventionaly belakangan ini dan baru menggerakkan unsur, sebenarnya kan nggak. Kalau di lihat dari laporan-laporan AL ke Mabes TNI itu adalah bagian dari komitmen dari Mabes TNI untuk menjaga kedaulatan NKRI, termasuk di Laut Sulawesi,” kata mantan Pangarmatim ini.

Sebelumnya, situasi di Laut China Selatan makin panas. Ketegangan di Laut China Selatan belakangan memanas seiring kapal perang Amerika Serikat yang melakukan patroli di Laut Cina Selatan.
Sementara Indonesia masuk dalam pusaran konflik Laut China Selatan setelah pemerintah Tiongkok memasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menolak ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan.
Jenderal Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.
READ MORE - Laut Cina Memanas, TNI AL Kirim 7 KRI ke Natuna

Tuesday, 15 September 2015

TNI Berupaya Datangkan 12 Kapal Selam Kelas Kilo

Jakarta –Dalam upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, diperlukan keunggulan kekuatan pertahanan di laut dan udara. Salah satu langkah yang diambil TNI untuk mengembangkan kekuataan laut adalah dengan rencana mendatangkan kapal selam kelas kilo.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, jika TNI AL memiliki kapal selam kelas kilo tentu akan menghadirkan detterence effects yang luar biasa. Tidak hanya itu, kapal selam kelas kilo itu merupakan salah satu impian dari TNI AL. “Itu mimpi TNI AL. Semoga pemerintah dan DPR bisa mewujudkan mimpi itu. Efek detterence-nya pasti ada” kata Jenderal Gatot, Jumat (11/9).

TNI berniat mendatangkan 12 kapal selam kelas kilo. Hal ini lantaran melihat kondisi luasnya wilayah perairan Indonesia. Salah satu alasan utama dari penambahan dan keberadaan kapal selam kelas kilo di armada TNI AL adalah agar bisa menimbulkan detterence effect (efek gentar) dari Indonesia di antara negara-negara di kawasan.

“Hitungan-hitungan idealnya 12 kapal selam dan yang diharapkan panglima TNI itu kelas kilo. Karena itu, memiliki kemampuan yang lebih dalam untuk mengover wilayah kita yang luas. Selain itu, memiliki faktor deteren yang cukup besar,” ujar Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Endang Sodik.


Kapal selam kelas kilo memang menjadi salah satu primadona dalam kekuatan pertahanan laut di dunia. Kapal selam ini dikenal memiliki teknologi yang cukup canggih, yaitu mampu beroperasi dengan tenang dan tidak memiliki suara yang gaduh.

Bahkan, kapal selam kelas kilo disebut-sebut sebagai salah satu kapal selam yang menghasilkan suara terlemah di dunia. Hal ini sangat efektif mengingat fungsinya sebagai antikapal permukaan dan antikapal selam.

Kendati begitu, Endang menjelaskan, pengadaan dan pembelian 12 kapal selam kelas kilo itu akan bergantung sepenuhnya kepada kemampuan anggaran pemerintah. Rencana pembelian kapal selam kelas kilo ini juga telah dimasukkan dalam salah satu evaluasi Rencana Strategis (Renstra) Minimum Essential Force (MEF) tahap dua pada 2015-2019.

Sementara, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI M Zainudin mengungkapkan, kapal selam kelas kilo memiliki kemampuan dan perlengkapan senjata yang lebih baik dibanding dengan kelas Changbogo. `’Kalau kelas kilo punya perlengkapan senjata yang bagus, punya kekuatan yang bagus, punya kemampuan yang lebih baik. Ini adalah kapal selam kelas siluman, menyelam tidak terdeteksi. Makanya, kalau kita punya (kapal selam kelas kilo), kita bakal disegani di kawasan karena efek detterence-nya itu,” kata Zainudin.

Reporter: Irfa Reja Widodo
Editor: Muhammad Hafil
Republika.co.id
READ MORE - TNI Berupaya Datangkan 12 Kapal Selam Kelas Kilo

Thursday, 2 July 2015

Gatot Nurmantyo: AL dan AU Jadi Fokus Pembangunan TNI

Jenderal Gatot Nurmantyo (Liputan6.com)
Jenderal Gatot Nurmantyo (Liputan6.com)

Info Militer Terbaru-Calon Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmatyo menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Ia mengatakan, untuk mendukung cita-cita pemerintah tersebut maka fokus pembangunan TNI ke depan harus berorientasi pada kekuatan laut dan udara.

“Tidak ada alternatif lain kecuali fokus membangun kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara secara serentak dan sesegera mungkin, agar mampu memantau dan mengawal serta nusantara dengan memiliki keunggulan udara dan laut,” kata Gatot, saat menjalani fit and proper test di Komisi I DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2015).

Sebagai negara kepulauan terbesar yang terdapat di garis ekuator, kata Gatot, hampir sebagian besar wilayah Indonesia merupakan kawasan perairan. Selain itu, Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yang mencapai 95.181 kilometer.

“Maka, Indonesia memerlukan angkatan bersenjata yang mampu memantau setiap sudut penjuru nusantara untuk merespon setiap gejolak yang muncul dengan cepat, serta mampu menghilangkan ancaman yang ada di Tanah Air,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagai salah satu negara yang memiliki kekuatan militer, pembangunan kekuatan harus dilakukan secara konsisten. Meski kondisi ekonomi suatu negara terpuruk, pembangunan di sektor militer tidak boleh berhenti.

Sumber: Kompas.com
READ MORE - Gatot Nurmantyo: AL dan AU Jadi Fokus Pembangunan TNI

Thursday, 25 June 2015

Punya Task Force Atasi Perompak, Indonesia Aman dari Bajak Laut


Info Militer Terbaru-TNI AL memiliki satuan tugas khusus untuk pengamanan di sepanjang perairan Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan. Satuan tugas itu bernama Western Fleet Quick Response (WFQR) dan berada di bawah jajaran komando armada kawasan barat (Koarmabar).

WFQR merupakan satuan tugas yang dikhususkan untuk menekan aksi perompakan atau bajak laut di perairan internasional itu disebut KSAL Laksamana Ade Supandi mampu menekan aksi perompakan atau bajak laut. Task force ini akan cepat tanggap jika mendapat laporan adanya hal-hal yang mencurigakan.

"Kita sudah mengefektifkan ya ada yang namanya WFQR, jadi armada barat yang terdiri dari satuan-satuan yang ada di Selat Malaka. Kalau ada misalnya laporan-laporan kecurigaan akan dirampok itu kita selalu standby di daerah itu sehingga kita bisa dihubungi dan bisa mengecek ke kapal yang dilalui itu," ungkap Ade di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jaktim, Rabu (24/6/2015).

Task force ini memang dirasa cukup efektif. Pasalnya terbukti hingga saat ini belum ada laporan mengenai adanya aksi bajak laut di Selat Malaka. Sejauh ini, kata KSAL, aksi bajak laut justru terjadu di luar kedaulatan Indonesia. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu kapal tanker milik Malaysia sempat menghilang karena aksi bajak laut.

"Bagus kok. Saya sudah nanya. Dari pengalaman Pangarmabar, western fleet response ini seringkali ada laporan dari IMB (International Maritime Bureau). Kita tindaklanjuti, kita cek, dan sementara pengecekan nihil (di wilayah Indonesia)," kata Ade.

Keberadaan kapal perang di perairan Selat Malaka memang memberikan dampak yang cukup signifikan. Perompak pun akhirnya memilih melakukan aksinya di luar wilayah kedaulatan Indonesia. WFQR ini patut diapresiasi karena mampu menghadirkan jalur pelayaran yang aman.

Menurut Ade, kerjasama antara kapal dagang atau kapal kargo dengan pihak TNU AL sudah cukup baik. Saling berbagi informasi menjadi modal sehingga prajurit TNI AL bisa langsung bergerak manakala ada kegiatan yang mencurigakan.

"Akan lebih cepat kalau ada laporan-laporan itu misal ada kapal lewat tetapi ada nelayan lagi mancing terus dianggap itu pembajakan mau ada upaya merampok. Itu perlu kita cek. Kalau malam itu kan kapal menangkap ikan dianggap mau merampok," tutup laksamana bintang 4 itu.
READ MORE - Punya Task Force Atasi Perompak, Indonesia Aman dari Bajak Laut

Kunjungan KASAL Indonesia Ke Swedia Naval Base

Delegasi Indonesia dan Swedia di depan Kapal Corvette Visby Class (Saab)
Delegasi Indonesia dan Swedia di depan Kapal Corvette Visby Class (Saab)

Info Militer Terbaru-Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Ade Supandi, beberapa hari yang lalu mengunjungi markas Angkatan Bersenjata Angkatan Laut Swedia di Karlskrona di bagian selatan Swedia, pada tanggal 8-9 Juni 2015. Kedatangannya bersama Tim TNI AL disambut Kepala Angkatan Laut Kerajaan Swedia, Laksamana Jan Thörnqvist. 

Kunjungan resmi tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas dan mempelajari kapal dengan teknologi berbahan komposit yang saat ini digunakan oleh angkatan laut Kerajaan Swedia. Kunjungan ini dilakukan di kapal siluman andalan Swedia, Visby Class dan kapal pemburu ranjau angkatan laut Swedia. Selain itu, Kedua Kepala Angkatan Laut juga mengunjungi pusat peperangan angkatan laut (Naval Warfare Centre) dengan simulator dan peralatan pelatihan yang terdapat disana.

Kapal pemburu ranjau Landsort / Koster Class (amekiel)
 Kapal pemburu ranjau Landsort / Koster Class (amekiel)

Kepala Saab Indonesia, Peter Carlqvist bersama dengan Direktur Senior, Kepala Sistem Tempur Angkatan Laut Saab, Stefan Hedenstedt, dalam kesempatan itu juga mempresentasikan portofolio Saab, kemampuan sistem Saab Kockums dalam menghancurkan ranjau, kapal dengan teknologi bahan komposit dan teknologi siluman. Saab juga menerangkan kepada rombongan, perihal kerjasama dengan Indonesia (PT Lundin) untuk menghadirkan kapal cepat siluman (Trimaran) sebagai solusi maritim. 

Laksamana Supandi dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Kepala Penganggaran, Laksamana Agung Pramono dan Kepala Operasi, Laksamana Arie Henrycus Sembiring. Dan turut hadir bersama mereka, Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Mr. Dewa Made Juniarta Sastrawa dan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ibu Johanna Brismar Skoog. (SaabGroup)
READ MORE - Kunjungan KASAL Indonesia Ke Swedia Naval Base

Thursday, 18 June 2015

TNI AL Terima Kapal Canggih KRI Teluk Bintuni

KRI Teluk Bintuni
KRI Teluk Bintuni

Info Militer Terbaru-KRI Teluk Bintuni-520, diserahterimakan dari PT DRU kepada Kementerian Pertahanan dan diteruskan kepada MabesTNI dan TNI Angkatan Laut dalam hal ini Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) sebagai pengguna, Rabu 17 Juni 2015 di galangan PT. Daya Radar Utama (DRU), Lampung, Sumsel.

Serah terima kapal angkut tank berteknologi canggih tersebut disaksikan langsung Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dan KSAL Laksamana TNI Ade Supandi. KRI Teluk Bintuni-520 dalam penyelesaiannya juga melibatkan anak bangsa lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS).

KRI Teluk Bintuni
 KRI Teluk Bintuni

Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan, pembangunan KRI Teluk Bintuni-520 merupakan bagian program pembangunan kekuatan pertahanan untuk mewujudkan kekuatan pokok minimal atau Minimum Essential Forces (MEF). Selain itu KRI Teluk Bintuni-520, juga untuk memperkuat TNI AL dalam mendukung program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Ditambahkannya, pembangunan KRI Teluk Bintuni-520 yang dilaksanakan oleh PT. DRU sebagai salah satu bentuk pembinaan pemerintah terhadap kemampuan industri dalam negeri sebagai upaya mengurangi ketergantungan negara lain dalam pengadaan alutsista di masa mendatang. KRI Teluk Bintuni-520 ini diproyeksikan memperkuat jajaran Komando Lintas Laut Militer TNI AL (Kolinlamil).

Siaran pers Kemenhan menyebutkan, spesifikasi kapal angkut tank ini terbuat dari baja khusus pada bagian hulu (lambung). Baja khusus tersebut diperoleh dari PT. Krakatau Steel Tbk. Kapal ini dirancang untuk dapat mengangkut Tank MBT Leopard TNI AD dan Tank BMP-3F Marinir. KRI Teluk Bintuni-520 memiliki spesifikasi panjang 120 meter, lebar 18 meter, tinggi 7,8 meter dan draft tiga meter serta memiliki ketahanan di laut (endurance) 20 hari dengan daya angkut 10 Tank MBT Leopard, 476 orang (crew + pasukan) dan 1 unit helikopter.

Disamping itu, kapal ini mampu menjelajahi laut pada kondisi laut yang terburuk dengan jarak jelajah 7200 mil laut. Setelah diserahterimakan, kapal ini akan dioperasikan mendukung pergeseran materiil maupun personil di bawah jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Diharapkan adanya kapal tersebut mobilitas atau pergeseran materiil dan personel TNI dari satu daerah ke daerah lain semakin lancar. Kapal tersebut merupakan kapal kelas Landing Ship Tank pertama yang diproduksi Industri dalam negeri, sehingga ke depan untuk produk Kapal Landing Ship Tank yang berikutnya akan semakin baik dan sempurna.
READ MORE - TNI AL Terima Kapal Canggih KRI Teluk Bintuni

Wednesday, 10 June 2015

Pembentukan Pangkalan TNI AL di Papua


Info Militer Terbaru-Sejumlah Pos Angkatan Laut (AL) di Bumi Cenderawasih akan bergeser menjadi Pangkalan TNI AL (Lanal), guna pengamanan perairan laut. Misalnya Pos AL Sarmi akan berubah menjadi Lanal, kemudian juga di Bintuni yang terletak di Provinsi Papua Barat.

Komandan Lantamal X, Brigjen TNI (Marinir) Gatot Triswanto menuturkan saat ini proses Lanal di Sarmi terus dilaksanakan, sementara untuk Lanal di Bintuni masih dalam pengurusan tanah seluas 4 hektar. “Konsepnya saat ini adalah pengembangan pangkalan, seperti di Sorong juga akan ada pangkalan utama AL.

Sejumlah armada dan pengerahan kapal bisa didekatkan kepada perbatasan dan ke daerah kerawanan. Jika ada dermaga juga diharapkan ada dukungan lainnya seperti dukungan bahan bakar dan dukungan keamanan,” jelasnya kepada sejumlah wartawan di Jayapura, Senin (8/6).

Konsep yang dikembangkan lainnya, menurut Gatot, adalah pendekatan masyarakat maritim. Misalnya saja untuk masalah pengamanan di perairan, TNI AL tidak bisa bergerak sendiri dan tetap harus ada bantuan masyarakat.

Apalagi tantangan alam di tanah Papua sangat kompleks. Di wilayah kerja Lantamal X, luas daerahnya jika dijelajahi dengan pesawat bisa memakan waktu hingga 3 jam. “Alamnya terbuka, penduduknya berpisah-pisah. Misalnya dalam konteks ada penduduk yang hilang dan butuh pengerahan segera, ya tetap harus dilaksanakan, dengan ancaman gelombang diatas 3 meter. Peran kerjasama ini pun tak lepas dari masyarakat,” katanya.

Sumber: Gatra.com
READ MORE - Pembentukan Pangkalan TNI AL di Papua

Tuesday, 2 June 2015

Rudal Exocet KRI Bung Tomo, Gagal Tembak Target

KRI Bung Tomo tembakkan Exocet Block 2 (Antara)
 KRI Bung Tomo tembakkan Exocet Block 2 (Antara)

Info Militer Terbaru-KSAL TNI AL Laksamana Ade Supandi menyatakan hasil uji coba rudal exocet MM40 Block II dari kapal perang KRI Bung Tomo gagal. Hal ini didasarkan pada hasil penilaian uji tembak tersebut, maka keputusan sementara seluruh rudal exocet TNI AL akan diteliti lebih lanjut.

Pada uji coba tersebut sesungguhnya rudal telah meleset dari jalur tembak. rudal berhasil terbang untuk beberapa detik, namun meluncur tajam dan menungkik ke arah dalam laut. Sementara sasaran utamanya adalah KRI Kupang yang berjarak 30km.

Rudal hanya stabil dalam beberapa detik saat lepas landas, rudal sempat stabil dan berjalan sesuai prosedur program, namun pada saat terbang rendah 15 meter di atas permukaan laut, rudal menungkik tajam dan tengelam.

Hal ini mengingatkan kita pada uji coba tembak rudal yakhont pertama yang juga gagal dan hilang dalam lautan,

Rudal Ecoxet merupakan rudal buatan prancis yanhg terkenal dalam perang Malvinas.

READ MORE - Rudal Exocet KRI Bung Tomo, Gagal Tembak Target

Thursday, 28 May 2015

Poros Maritim Indonesia Terus Dibangun


Info Militer Terbaru-Badan Keamanan Laut (Bakamla) segera menambah pangkalan atau zona maritim yang tersebar di wilayah perairan Indonesia dengan membangun tujuh zona maritim guna mendukung sektor keamanan di laut.

Kepala Bakamla, Laksamana Madya Maritim Desi Albert Mamahit di Kantor Bakamla, Jakarta, Rabu, mengatakan, saat ini Bakamla sudah memiliki tiga zona maritim yang berada di Manado, Batam, dan Ambon, namun pada awal tahun depan akan ditambahkan tujuh zona lagi.

“Tujuh zona maritim yang akan dibangun, yakni di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Cilacap, Makassar, Balik Papan, Natuna, Sorong, dan Marauke. Ini masih tentatif kita masih melakukan survei dan lokasi di sejumlah wilayah lagi. Kita masih pertimbangkan lagi untuk lebih pastinya. Di Sabang itu penting juga,” katanya.

Namun, menurut dia untuk pengadaan pangkalan maritim pihaknya masih terkendala masalah aset dan infrastruktur. Hal itu hingga saat ini masih akan dipersiapkan dalam waktu dekat.

“Setiap pangkalan akan dipimpin oleh eselon dua atau setara bintang satu,” ucapnya.

Menurut dia, setiap pangkalan maritim akan terdapat stasiun radar jarak jauh dan satelit untuk menunjang operasi. Selain itu, akan juga dilengkapi peralatan surveillance dan informasi dari satelit, yang bisa memantau siapa saja yang memasuki perairan Indonesia.

Bakamla juga akan melakukan operasi Nusantara V dan Operasi Nusantara VI yang fokus di wilayah Tengah, Timur dan Barat.

“Operasi di wilayah barat, kita akan melakukan patroli di Natuna, wilayah tengah di Laut Sulawesi, dan di wilayah timur di Laut Arafura. Ini dilakukan untuk menjaga keamanan di laut dari aksi-aksi ilegal, seperti pencurian ikan, people smugling, penyelundupan baranf, penyelundupan bahan bakar dan lainnya,” kata Albert Mamahit.

Tak hanya itu, Bakamla juga masuk dalam satuan tugas untuk membantu pengungsi Rohingya yang berada di Aceh.

Perkuat Alutsiskamla

Selain penambahan pangkalan maritim, lanjut Mamahit, Bakamla juga bakal menambah sejumlah alat utama sistem keamanan dan keselamatan laut (alutsiskamla) yang saat ini masih minim, yakni hanya memiliki kapal patroli berukuran 48 meter.

“Pada akhir tahun ini, kami akan memesan tiga kapal patroli. Bakamla juga akan dapat hibah dari TNI AL sebanyak 10 kapal. Kita juga dijanjikan didukung dari Kepolisian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Mereka dukung kehadiran bakamla dengan memberikan dua unit kapal patroli. Harapan sampai lima tahun ke depan paling tidak Bakamla memiliki 30-40 kapal patroli,” paparnya.

Selain itu, sejak dua bulan lalu Bakamla sedang membangun kapal berukuran 110 meter di Batam, yang berfungsi memantau wilayah laut hingga wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan laut lepas.

“Kita perlukan kapal besar, untuk mendukungoperasional kita bisa sampai ZEE dan laut bebas. Kapal itu bisa didarati helikopter. Sehingga jangkauan pantauan semakin luas. Tentunya juga akan menyiapkan pesawat tanpa awak dan pesawat intai amfibi yang bisa mendarat di laut yang sedang di buat oleh Institut Teknologi Bandung,” tutur Mamahit yang baru dilantik sebagai Kepala Bakamla RI.
Selain penguatan alutsista, Bakamla juga akan memperkuat sumber daya manusia, dengan merekrut para ahli teknologi dibidangnya untuk menjaga wilayah perairan.

Untuk peningkatan SDM bakamla juga membangun Akademi Keamanan dan Keselamatan Laut, yang sudah dimulai sejak tahun ini. “Pendaftaran mulai bulan Juli 2015. Kuliah bulan September 2015. Sementara gedung kita pinjam dari Akademi Angkatan Laut di Surabaya. Sambil secara bertahap bangun area pendidikan kita sendiri,” ujarnya.

Sehingga diharapkan muncul SDM yang berkualitas untuk menjaga mengawal wilayah laut Nusantara, dimana saat ini Bakamla memiliki 500 personil.

“Dalam waktu lima tahun diharapkan bisa mencapai 2000 personil,” tutupnya.

Sumber: ANTARA
READ MORE - Poros Maritim Indonesia Terus Dibangun

KRI Bung Tomo Tembakkan Rudal Exocet MM-40 Blok II ke eks KRI Kupang

KRI Bung Tomo. Foto: dok.JPNN
KRI Bung Tomo. Foto: dok.JPNN

Info Militer Terbaru-KRI Bung Tomo-357 menembakkan rudal Exocet MM-40 Blok II ke eks KRI Kupang di perairan Laut Jawa, pada 28 Mei 2015. Kapal Multi Role Light Frigate (TOM)-357 ini, kini masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmatim dan merupakan kapal terbaru milik TNI AL.

Kadispenarmatim Letkol (KH) Maman Sulaeman dalam keterangan pers menyatakan, KRI Bung Tomo-357 dengan Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan sudah bertolak dari Dermaga Koarmatim Surabaya menuju Laut Jawa pada Rabu (27/5/2015). Selain KRI Bung Tomo-357, bertolak KRI Diponegoro-365 serta KRI Surabaya-591 sebagai kapal markas.

“Di dalam kapal markas tersebut telah onboard Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto, Komandan Guspurlatim Laksamana Pertama TNI ING Ariawan selaku Komandan Gugus Tugas Penembakan dan staf pendukung lainnya. Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto beserta para Kasatker Koarmatim melepas keberangkatan unsur-unsur tersebut dari Dermaga Koarmatim Ujung,” tulis Maman, Rabu (27/5/2015).

Dalam penembakan rudal Exocet tersebut juga melibatkan sembilan kapal perang jajaran Koarmatim. Sembilan kapal yang terlibat dalam latihan penembakan tersebut di antaranya adalah kapal selam KRI Nanggala-402.

Sedangkan website TNI AL menyebutkan, penembakan senjata ini juga dalam rangka penyiapan KRI Bung Tomo-357 yang akan tergabung pada Satgas MTF XXVIII-H UNIFIL di Libanon dalam waktu dekat.

Penembakan rudal Exocet MM-40 Blok II, selain untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI AL juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (Deterrence Effect) baik bagi Negara maupun non negara (State Actor and Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber: Detik.com
READ MORE - KRI Bung Tomo Tembakkan Rudal Exocet MM-40 Blok II ke eks KRI Kupang

Saturday, 23 May 2015

KRI Kupang Akan Dijadikan Sasaran Tembak Rudal Exocet MM-40 Block II

Simulasi penembakan rudal dilakukan di Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata Surabaya (photo : TNI AL
 Simulasi penembakan rudal dilakukan di Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata Surabaya (photo : TNI AL

Info Militer Terbaru-Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Danguspurlatim) Laksamana Pertama ING. Ariawan memimpin Latihan Pos dan Komando simulasi penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II di Tactical Team Trainer Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata, Kobangdikal Bumimoro, Surabaya, Kamis (21/5).

Latihan simulasi ini melibatkan baik prajuirt yang bertugas di kapal maupun staf pendukung lainnya. Latihan uji coba penembakan senjata strategis TNI AL ini, akan melibatkan 10 kapal perang jajaran Koarmatim. Sedangkan yang menembakkan rudal tersebut adalah KRI Bung Tomo-357, yaitu kapal perang terbaru yang dimiliki TNI AL yang saat ini masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmatim, dengan Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Yayan Sofian, ST.

Frigate KRI Bung Tomo 357 TNI AL (photo : Express)
Frigate KRI Bung Tomo 357 TNI AL (photo : Express)



Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II akan dilakukan disekitar laut jawa dalam waktu dekat ini dengan sasaran eks KRI Kupang. Penembakan senjata stragis tersebut, akan disaksikan langsung oleh pejabat TNI diatas KRI Surabaya-591, yang dalam latihan ini sebagai kapal markas.


Dilaksanakannya penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II ini, yaitu untuk mewujudkan hasil pembinaan serta meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan operasional serta mengukur kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL terbaru yang dimiliki TNI AL, yaitu Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo-357.

Penembakan senjata ini juga dalam rangka penyiapan KRI Bung Tomo-357 yang akan tergabung dengan Satgas MTF XXVIII-H UNIFIL di Lebanon dalam waktu dekat. Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II, selain untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI AL juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (Deterrence Effect) baik bagi Negara maupun non negara (State Actor and Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber: TNI AL
READ MORE - KRI Kupang Akan Dijadikan Sasaran Tembak Rudal Exocet MM-40 Block II

Wednesday, 20 May 2015

KCR 60 M Gunakan Rudal C705

KRI Tombak KCR60
KRI Tombak KCR60

Info Militer Terbaru-Seorang pejabat senior Angkatan Laut Indonesia telah mengkonfirmasi pengunaan rudal SSM C-705 buatan China pada KCR-60M. Pejabat itu berbicara kepada IHS Jane 19 Mei waktu kunjungan ke kapal KRI Tombak di Changi Naval Base selama pameran IMDEX 2015 di Singapura.

TNI-AL mengirim dua kapal untuk expo – termasuk korvet KRI John Lie (358), Bung Tomo Class. KRI Tombak dibangun perusahaan BUMN pembuat kapal PT PAL Indonesia dan diresmikan pada bulan Agustus 2014, merupakan kapal kedua dari tiga kapal KCR-60M yang saat ini aktif.

Kapal ini dilengkapi dengan empat peluncur rudal SSM. Kapal KCR-60M awalnya diyakini menggunakan rudal SSM C-705 atau C-802, tapi ada laporan yang saling bertentangan dari Jakarta mengenai pilihan rudal yang akan dipakai.

Sekarang yang dipilih adalah rudal C705 dan belum ada kepastian untuk menggunakan rudal C802, ungkap pejabat TNI-AL tersebut. KCR-60M juga dipersenjatai dengan satu meriam utama kaliber 57 mm di geladak dan dua senjata 20 mm sebagai tambahan di belakang.

Dalam sebuah wawancara di Jakarta 13 Agustus 2014, mantan Kepala Staf Laksamana Marsetio mengatakan kepada IHS Jane bahwa angkatan laut direncanakan mengakusisi setidaknya 16 kapal KCR-60M pada 2018, namun semua tergantung pendanaan yang ada.

Platform ini dipandang sebagai komponen inti dari strategi ‘Minimum Essential Force’ yang akan tuntas sekitar tahun 2024.


 Sumber: IHS Janes.
READ MORE - KCR 60 M Gunakan Rudal C705

Friday, 15 May 2015

Canggihnya KRI Rigel 933, Kapal Buatan Prancis Milik TNI AL


Info Militer Terbaru-Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (Dishidros) bertugas menyediakan data dan informasi Hidro-oseanografi berupa peta laut untuk navigasi pelayaran. Guna memperkuat pencarian hasil survei, TNI AL meluncurkan kapal baru yakni KRI Rigel 933.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade supandi mengklaim KRI Rigel 933 merupakan kapal perang jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) yang tercanggih se-Asia.

Kapal perang tersebut dibangun di Prancis dan untuk berlabuh ke Indonesia, KRI Rigel 933 bertolak dari dermaga Les Sables d'Olonne, Perancis pada 26 Maret dan tiba hari Jum'at 15/05/2015 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

"Ini (KRI Rigel 933) dari negara Perancis untuk memperkuat jajaran TNI AL, tentunya kapal ini memiliki berbagai kemampuan dalam melakukan survei dan pemetaan, dan mampu melakukan pengumpulan data," ujar Ade di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (15/5/2015).

Untuk menempuh perjalanan selama 50 hari dari Perancis ke Indonesia, kapal ini dipimpin oleh komandan Letkol Laut M. Wirda Prayogo dan diawaki 30 orang prajurit TNI AL. KRI Rigel 933 dibangun atas kerja sama Kemenhan dengan pihak galangan kapal OCEA Perancis.

"Paling tidak kapal ini bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam rangka pemuktahiran data-data perairan kita, baik untuk kepentingan laut maupun kepentingan navigasi. Beberapa produk peta laut membutuhkan keberadaan kapal-kapal survei," jelasnya.

Adapun, kapal tersebut terbuat dari alumunium dengan bobot 560 ton dengan panjang 60,1 meter dan lebar 11,5 meter.

Dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1.000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama dalam hal ini kapal BHO.

Selain itu, kapal ini juga dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), SSS (Side Scan Sonar), Laser Scaner untuk mendapatkan gambaran daratan, AWS (Automatic Weather Station), Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, Peralatan CTD (Conductivity Temperatureand Depth), Gravity Cores, kelengkapan Laboratorium serta kemampuan survei perikanan.

Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan mitraliur kaliber 20 mm dan kaliber 12,7 mm. KRI Rigel 933 akan masuk dalam jajaran satuan survei Dishidros TNI Angkatan Laut yang bermarkas di Jakarta.

KRI Rigel merupakan jenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel), yang merupakan sejarah baru di jajaran kapal-kapal TNI AL dalam memodernisasi armada kapal, khususnya kapal survei hidro-oseanograf.

Sumber : Detik
READ MORE - Canggihnya KRI Rigel 933, Kapal Buatan Prancis Milik TNI AL

Monday, 11 May 2015

TNI AL Kekurangan Kapal Perang Untuk Menjaga Laut Indonesia

Info Militer Terbaru-Untuk menjaga kedaulatan perairan di wilayah timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) setiap hari mengerahkan sekitar 30 kapal perang Indonesia atau KRI.

Sayangnya, 30 kapal perang yang dioperasikan itu masih belum cukup mengawasi seluruh perairan di wilayah Timur Indonesia. Karenanya, harus dilakukan penambahan kapal perang demi penegakkan kedaulatan NKRI di wilayah perairan.

Kapal perang Republik Indonesia
Kapal perang Republik Indonesia

"Sesuai dengan rencana strategi TNI AL, idealnya dibutuhkan 150 kapal dalam kondisi siap dan standby. Namun, kondisi sekarang tidak banyak yang siap karena kondisi kapal yang sudah tua tetapi masih layak operasi," kata Panglima Armada Timur, Laksamana Muda TNI Darwanto di Jayapura, Papua, Jumat (8/5) siang diatas kapal KRI dr Soeharso 990.

Darwanto mengatakan, kekuatan kapal perang yang digelar di wilayah perairan Timur Indonesia bertujuan untuk menjaga keamanan laut dari akitivitas ilegal, semisal illegal fishing, illegal mining dan ancaman terhadap kapal-kapal asing yang masuk tanpa ijin ke wilayah NKRI.

Meski kapal perang yang dikerahkan belum sesuai kebutuhan, kata Darwanto, angka pelanggaran di perairan sudah mengalami penurunan sejak dikeluarkanya moratorium perizinan kapal oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Karena disinyalir banyak yang melakukan tindakan ilegal, sehingga dengan adanya moratorium itu sendiri, pemerintah bisa mengetahui pelaku-pelaku illegal fishing itu," ujarnya.
READ MORE - TNI AL Kekurangan Kapal Perang Untuk Menjaga Laut Indonesia

Saturday, 9 May 2015

Ular Berbisa pun Meraka Makan

Info Militer Terbaru-Bukan prajurit Indonesia namanya, jika tidak bertindak nekad yang kadang di luar akal sehat kita semua. Salah satu kemampuan yang ditunjukkan mereka adalah memakan ular cobra yang berbisa, untuk bisa survival di dalam medan pertempuran. Foto-foto di bawah ini menunjukkan aksi prajurit TNI AL ketika sedang mendemonstrasikan cara survival di medan pertempuran.




READ MORE - Ular Berbisa pun Meraka Makan

Wednesday, 6 May 2015

RI Targetkan 12 Kapal Selam pada Tahun 2018

TNI Angkatan Laut menghitung Indonesia membutuhkan 12 kapal selam untuk mewujudkan poros maritim seperti yang diimpikan Presiden Joko Widodo. Kini, TNI AL baru memiliki dua buah kapal selam dan tiga buah kapal selam lagi sedang dalam tahap pemesanan dari Korea Selatan.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi menargetkan pada 2018 mendatang Indonesia sudah memiliki 12 kapal selam. “Target kita punya 12, kan tiga sedang dipesan dari Korsel,” kata Ade di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2015).

TNI AL, kata dia, memiliki peran yang sangat besar dalam mewujudkan visi pembangunan poros maritim dunia. Apalagi, TNI AL memegang kendali dalam pertahanan Indonesia di sektor laut.
“Sebagai visi pembangunan, kita termasuk ke dalam pertahanan laut,” ujat dia. Lebih lanjut, Ade menegaskan bahwa TNI AL tinggal menunggu Peraturan Presiden terkait rencana pembentukan sektor pengamanan armada tengah, serta penambahan pangkalan utama angkatan laut (Lantamal).

Selain itu, lanjut dia, TNI AL juga akan melakukan validasi terkait perencanaan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan), untuk mendukung terciptanya poros maritim dunia. “Guna mendukung visi maritim, ada peningkatan kompetesi prajurit, pembentukan armada tengah, validasi keseluruhan terkait Kogabwilhan, ada penambahan lantamal. Tinggal nunggu Perpres,” pungkas dia.

Sumber: Metro TV.
READ MORE - RI Targetkan 12 Kapal Selam pada Tahun 2018