Showing posts with label Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nasional. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Sikap Indonesia Soal Nine Dash Line

Posisi Resmi Indonesia soal Konflik Laut China Selatan

Indonesia jadi penengah negara-negara yang terlibat konflik Laut China Selatan. (Reuters)

Info Militer Terbaru - Pemerintah Indonesia menegaskan posisi resminya dalam menyikapi konflik Laut China Selatan. Indonesia akan tetap pada posisi sebagai penengah negara-negara yang berkonflik atau bersengketa atas kawasan kaya energi itu.

Indonesia akan mendorong tercapainya Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan China soal wilayah tersebut. Menurut Direktur Mitra Wicara dan Antar-Kawasan Kementerian Luar Negeri Indonesia, Derry Aman, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas CoC.

"Posisi indonesia tetapa berada dalam bagaimana menjaga kestabilan dan perdamaian di wilayah tersebut. Implementasikan penuh CoC. Pencapaian CoC saat ini sudah masuk tahap negosiasi. Indonesia menyampaikan tegas, ini saatnya dibahas soal elemen yang ada dalam CoC," ucap Derry.

"Indonesia mendorong negara-negara yang terkait konflik menyelesaikannya secara damai. CoC ada dalam rangka menjaga wilayah itu tetap stabil, aman, damai, dan terjamin arus perdagangan di sana. Penyelesaian sengketa tetap di tangan negara-negara yang bersangkutan," sambung dia pada Kamis (12/11/2015).

Menurutnya, masalah Laut China Selatan akan turut dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan digerlar di Malaysia pada pekan depan, meski sebenarnya hal itu tidak ada dalam agenda inti ASEAN. Masalah itu kemungkinan juga akan diangkat dalam pertemuan KTT Asia Timur- ASEAN. (mas) 
9 Titik Imajiner China Tak Sesuai Hukum Internasional

Indonesia menyatakan sembilan titik imajiner China di Laut China Selatan tak sesuai hukum internasional. (Reuters)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nassir, mengatakan bahwa, sikap Pemerintah Indonesia soal sembilan titik imajiner atau "nine dash line" China di Luar China Selatan sudah sangat jelas. Indonesia menganggap sembilan titik itu tidak sesuai hukum internasional.

"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucap Arrmanatha.

Nine dash line merupakan garis putus-putus yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan, termasuk didalamnya Kepulauan Spratly dan Paracel.

Sembilan garis imajiner inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah tersebut. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu.

Seperti diketahui, selain China, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Brunei, dan Filipinan adalah negara lain yang turut mengklaim wilayah Laut China Selatan. Filipina bahkan sudah mengajukan gugatan atas klaim China itu ke pengadilan internasional.

Indonesia Minta Klarifikasi China  


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan. (Istimewa) ★Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan. Nine dash line adalah sembilan titik imaginer yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan.

"Kami telah meminta klarifikasi dari China mengenai apa yang dimaksud dengan nine dash line. Sejauh ini, belum ada klarifikasi mengenai hal itu," kata Arrmanantha saat briefing mingguan pada Kamis (12/11).

Sebelumnya, diplomat Indonesia yang kerap disapa Tata tersebut juga mengatakan, Indonesia tidak mengakui sembilan garis imaginer tersebut. Ini dikarenakan, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional.

"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia. Kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucapnya.

Sembilan titik imaginer itu sendiri merupakan salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah Laut China Selatan. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu. (esn)
READ MORE - Sikap Indonesia Soal Nine Dash Line

Pemerintah Berencana Tambah Anggaran TNI

Pemerintah tetap bertekad mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang tangguh 


KCR 60M PAL produksi PT PAL Indonesia

Info Militer Terbaru - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan terus memperbesar anggaran sektor pertahanan. Pemerintah mengambil langkah tersebut sebagai persiapan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar.

Luhut memaparkan, dalam jangka pendek pemerintah menargetkan anggaran pertahanan meningkat 0,8 hingga satu persen setiap tahun.

"Ini (peningkatan anggaran) bagus untuk ke depan. Kalau Indonesia berkembang menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi dunia, pada saat yang sama kita sudah mempunyai TNI yang bagus," ucapnya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (11/11).

Meski alokasi anggaran pertahanan meningkat, Luhut berkata, pemerintah tetap bertekad mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang tangguh. Menurutnya, jika industri dalam negeri sudah mampu menyediakan pelbagai peralatan militer bagi TNI, Indonesia tidak akan lagi bergantung pada industri asing.

Pada tahun 2015, dana pertahanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai Rp 102 triliun. Sementara itu, sebelum rancangan APBN 2016 disetujui DPR, alokasi dana pertahanan turun menjadi Rp 96,7 triliun.

Di sisi lain, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Beleid itu mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan menjadi kuat, mandiri dan berdaya saing.

Industri pertahanan yang dimaksud undang-undang itu mencakup industri alat utama, komponen utama dan penunjang, perbekalan hingga industri bahan baku.

Untuk mewujudkan cita-cita industri pertahanan dalam negeri yang mandiri, beleid itu mengharuskan pemerintah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Dalam nomenklaturnya, komite itu diketuai oleh presiden. Sementara itu, Menteri Pertahanan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara masing-masing berfungsi sebagai ketua dan wakil ketua harian KKIP.

TNI diperbolehkan membeli persenjataan dari luar negeri, namun dengan tujuh syarat, antara lain industri dalam negeri tidak mampu memproduksi peralatan senjata itu, adanya alih teknologi, serta adanya imbal dagang dan kandungan lokal paling rendah 85 persen. (utd)
READ MORE - Pemerintah Berencana Tambah Anggaran TNI

Wednesday, 11 November 2015

Zia ul Haq dan Kenangan Pertempuran 10 November Surabaya

Zia Ul Haq pada saat itu datang bersama pasukan sekutu dan menjabat sebagai salah satu komandan Gurkha yang bertugas di Surabaya

Pertempuran di Surabaya pada tahun 1945. [gahetna.nl] ☆

''Kita bersaudara. Indonesia-Pakistan bersaudara!'' begitulah pernyataan berbagai pejabat Pakistan ketika menerima kunjungan delegasi Indonesia. Menurut mereka jasa Indonesia sangat besar terhadap negaranya, terutama ketika India-Pakistan terlibat dalam konflik pada dekade 60-an. Sosok Presiden Sukarno sangat terkenal di sana dan menghormatinya atau mendapat tempat khusus, layaknya salah satu pemimpin penting di Asia yang juga menjadi 'bapak bangsa Pakistan: Muhammad Ali Jinnah'.

''Merdeka…!'' pekik perjuangan ini di Pakistan ternyata cukup dikenal. Ketua Parlemen Pakistan kerap menyatakannya ketika membuka percakapan dalam pertemuan dengan delegasi Indonesia. Mereka tampaknya juga tahu bahwa kata 'Merdeka' itu serapan dari bahasa asal India (Sansekerta), yakni 'Maharddhi' yang arti harfiahnya adalah kemakmuran, kesempurnaan besar, keunggulan, kesucian.

Tak hanya itu kisah heroik angkatan perang Indonesia yang berani bertindak sebagai pihak pemisah ketika Pakistan dan India terlibat konflik. Keberanian para punggawa armada TNI angkatan laut ketika mencegah aksi penyerangan armada laut India terhadap armada kapal perang Pakistan mereka kenang sampai sekarang.

Namun, di antara sekian banyak tokoh Pakistan yang punya hubungan khusus dengan Indonesia setalah Ali Jinnah, adalah mendiang Presiden Muhammad Zia ul Haq. Bahkan, presiden yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat ini punya hubungan emosi langsung dengan peristiwa pertempuran besar di Surabaya, pada 10 November 1945. Zia Ul Haq pada saat itu datang bersama pasukan sekutu dan menjabat sebagai salah satu komandan Gurkha yang bertugas di Surabaya.

 Gurkha, Legiun Elit Dunia 

Dalam percaturan militer di dunia, ada salah satu garnisun yang sangat disegani. Meraka adalah tentara legiun 'Gurkha'. Legiun ini menjadi legendaris karena banyak terlibat dalam pertempuran besar dunia. Pihak Kerajaan Inggris memanfaatkan kemampuan tempur mereka yang luar biasa dengan melibatkannya ketika sekutu membombadir Surabaya pada 10 Oktober 1945.

Keahlian tempur mereka didapatan secara alami karena berasal dari suku yang terbiasa berperang. Kebanggaan terhadap korps ini sangtlah besar. Sosok pasukan ini begitu diagungkan di Pakistan. Bahkan kegemilangannya selalu ditarik hingga peristiwa kekalahan pasukan Iskandar Zulkarnain, pada masa awal Masehi saat menyerbu wilayah anak benua Asia, yakni India yang kemudian terpecah menjadi tiga negara yakni Pakistan, Inda, dan Bangladesh.

Sosok prajurit tempur itu juga terlihat secara jelas bila kemudian mengacu pada figur Zia ul Haq. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggai jelas menjadi hal yang mencolok dan menegaskan bahwa dia adalah prajurit pilihan. Sosok seperti ini pun akan mudah terlihat bila melihat pada figur sebagian sosok petugas keamanan dan tentara di Pakistan pada masa kini. Tinggi badan mereka menjulang, rata-rata sektar 190 cm.

''Kemampuan tempur mereka ditempa oleh alam yang keras. Mereka bisa bertempur dengan baik berhari-hari meski hanya berbekal sepotong roti tawar dan beberapa liter air putih,'' begitu kisah seorang petinggi militer Pakistan, beberapa waktu silam ketika menerima kunjungan wartawan dari Indonesia.

 Mogok Bertempur Karena dengan Adzan dan Takbir! 

Karena pernah mengalami pertempuran langsung di Surabaya pada 10 November 1945, mantan Presden Pakistan Zia ul Haq ini selalu terkenang dengan kota yang terkenal dengan makanan rawon dan rujak cingurnya itu. Bahkan, pada tahun 80-an, semasa Zia ul Haq menjabat sebagai presiden dan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, dia secara khusus meminta kepada Presiden Suharto agar bisa berkunjung ke Surabaya.

Tentu saja, sebagai sesama mantan komandan tempur Suharto pun mengizinkannya. Dikabarkan saat Suharto menginyakan keinginannaya, wajah Zia ul Haq menjadi sumringah alias berseri-seri. Ini membuktikan kenangan pertempuran besar antara tentara sekutu (Inggris dan Austalia yang di dalamnya ada legiun Gurkha) begitu dalam membekas dalam hatinya. Zia ul Haq saat itu hanya seorang tentara dan tidak tahu tetek bengek politik dan pada awalnya tak paham bahwa kedatangan tentaranya itu diboncengi tentara Nica (Belanda) yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Bagi kalangan rakyat yang sempat terlibat dalam peristiwa pertempuran itu, mereka juga melihat peran tentara Gurkha. Namun, mereka juga melihat keanehan ketika banyak diantara mereka yang mogok tak mau perang. Bahkan, beberapa orang malah melakukan disersi.

Mengapa demikian? Jawabnya karena tentara Gurkha yang salah satunya komandannya adalah Zia ul Haq terkejut ketika tiba di Surabaya dengan melihat banyaknya masjid dan meluasnya suara adzan ketika tiba waktu shalat. Mereka tiba-tiba sadar karena pihak yang mereka perangi adalah saudaranya sendiri, sesama Muslim. Maka mereka pun mogok tak mau bertempur.

Para legiun Gurkha itu pun kian kaget ketika teriakan para pejuang di tengah pertempuran adalah 'Allahu Akbar'. Maka praktis secara diam-diam sebagian tentara sekutu mengalami 'demoralisasi'. Apalagi tentara Gurkha pun pada saat itu aktif mengerjakan shalat berjamaah di berbagai masjid bersama warga lokal. Nah, kenangan itulah yang dirasakan Zia ul Haq ketika menjadi komandan pasukan Gurkha di Surabaya. Dan memori ini lestari hingga dia menjabat sebagai Presiden Pakistan.

Pekik 'Allahu Akbar' yang terdengar di tegah pertempuran memang menjadi pertanda bahwa pertempuran itu merupakan ajang perlawan kaum santri. Mereka bergerak setelah Hadratus Syekh Hasyum Asy'ari menyatakan perlawanan kepada penjajah adaah kewajiban setiap Muslim: Cinta tanah air adalah sebagian dari iman! Seruan pendiri NU ini tentu saja membakar semangat para santri yang datang dari berbagai pesantren yang tersebar, tak hanya dari seputaran Surabaya dan Jawa Timur saja, tapi hingga meluas di berbagai pesantren yang ada di Jawa Tengah dan Cirebon. Para santri itu datang untuk bertempur dengan naik kereta api ke Surabaya.

''Dua orang saudara kakek kami gugur dalam pertempuran di Surabaya. Mereka datang ke sana dengan naik kereta api dan tertembak ketika hendak masuk kota Surabaya dari arah Sidaorjo,'' begitu kata salah satu pengasuh pondok pesantren di desa Sumber Adi, Kebumen Jawa Tengah, beberapa waktu silam.

Dia mengatakan, mereka datang dan ikut bertempur melawan bala tentara Sekutu yang diboncengi Nica dengan semangat berjihad. Jadi masuk akal bila pasukan Gurkha yang salah satunya dikomandani Zia Ul Haq menjadi malas bertempur. Mereka tahu tak ingin tangannya berlumuran darah karena memerangi sesama Muslim. 
READ MORE - Zia ul Haq dan Kenangan Pertempuran 10 November Surabaya

Turki Bahas Kemajuan Joint Project

The 4th Defence Industry Cooperation Meeting 2015 RI
Info Militer Terbaru - Sampai saat ini Indonesia dan Turki telah melakukan kerjasama industri pertahanan antara kedua negara, diantaranya yaitu joint project of medium tank dan joint project of Software Defined Radio (SDR). Dirjen Pothan berharap, jumlah kerjasama antara industri pertahanan kedua negara semakin bertambah.

Demikian dikatakan Dirjen Pothan Kemhan Dr Timbul Siahaan yang memimpin pertemuan tahunan The 4th Defence Industry Cooperation Meeting 2015 di Kantor Ditjen Pothan Kemhan, Jakarta. Kementerian Pertahanan RI dalam hal ini Ditjen Potensi Pertahanan Kemhan melaksanakan Pertemuan tahunan ke-4 Kerjasama Industri Pertahanan antara Indonesia dan Turki sebagai kelanjutan dari penandatanganan kerjasama industri pertahanan kedua negara pada tahun 2010 lalu.

Dirjen Pothan Kemhan Dr Timbul Siahaan yang memimpin pertemuan tahunan ini mengatakan bahwa pertemuan tahunan ini adalah salah satu upaya peningkatan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Turki. Pertemuan tahunan ini digunakan sebagai ajang peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan kedua negara, dimana kedua negara berkesempatan mendiskusikan dan berbagi pengalaman mengenai industri pertahanan yang menjadi perhatian kedua negara.

Kerjasama pertahanan di bidang industri pertahanan ini sejalan dengan cita-cita Kemhan untuk meningkatkan kekuatan pertahanan dan industri pertahanan dalam negeri. Dan project bersama antara masing-masing industri pertahanan Indonesia dan Turki ini merupakan kesempatan baik dalam upaya pengembangan industri pertahanan dalam negeri.

Pertemuan ini juga dimanfaatkan oleh kedua negara untuk memberikan kesempatan bagi pengembangan program-program kerjasama antar industri pertahanan kedua negara. Serta upaya peningkatan kerjasama industri pertahanan kedua negara yang telah berjalan.

Sementara itu MG Saban Umut yang memimpin delegasi Turki dalam sambutannya menjelaskan bahwa kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Turki berdasarkan pada saling kepercayaan. Kerjasama di bidang industri pertahanan ini diakui memperkuat hubungan bilateral kedua negara terutama di bidang pertahanan sejak tahun 2010 ketika awal ditandatanganinya kerjasama pertahanan kedua negara. Dan project-project kerjasama antara industri pertahanan kedua negara juga semakin mempererat hubungan tersebut.

Dalam The 4th Defence Industry Cooperation Meeting 2015 antara Indonesia dan Turki ini dipaparkan pula mengenai kemajuan joint project of medium tank oleh perwakilan PT Pindad dan kemajuan joint project of SDR oleh perwakilan PT Len Industri. (DAS/SPD
READ MORE - Turki Bahas Kemajuan Joint Project

Kajian sistem datalink nasional dirumuskan

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, Saab

SAAB Swedia menawarkan kepada TNI AL pendidikan beasiswa yang akan berfokus pada Triple Helix ☆

Info Militer Terbaru - Interoperabilitas datalink dari sistem antar matra TNI, sistem kesenjataan, dan bahkan pabrikan persenjataan dan penginderaan serta radar di tubuh TNI diakui masih menjadi hal yang belum paripurna dientaskan.

"Sebagai institusi keilmuan, kami mencoba memberi masukan kepada TNI dan Kementerian Pertahanan dengan basis implementasi dari konsep Triple Helix sebagaimana yang kami saksikan dalam kunjungan kerja kami ke Swedia beberapa bulan lalu," kata Wakil Rektor Universitas Pertahanan, Marsekal Muda TNI Suparman, di Sentul, Jawa Barat, Selasa.

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, Saab, yang berkantor pusat di Stockholm.

Kerja sama itu meliputi pengembangan dan inovasi sistem, beasiswa, dan lain-lain, yang nota kesepahamannya telah ditandatangani di Stockholm, tahun lalu.

Tahun depan, Universitas Pertahanan akan mendirikan Program Studi Teknologi dan Industri Pertahanan. Kepaduan antara pemerintah, institusi pendidikan tinggi dan riset, serta industri dalam berbagai aspek masih jadi masalah di Indonesia.

Sementara di Swedia, hal ini telah lama selesai, dan kondang dikenal dengan nama konsep Triple Helix, yang menjadi DNA kemajuan industri, ekonomi, dan inovasi negara di Semenanjung Skandinavia itu.

Bukan cuma institusi dan perusahaan pemerintahan Kerajaan Swedia yang dilibatkan dalam penerapan Triple Helix itu, karena banyak swasta besar dan kecil bersama-sama bekerja sesuai keperluan nasional mereka.

Contoh interoperabilitas sistem datalink pada aspek militer itu diberi Suparman. Menurut Suparman yang bergelut di bidang radar dan penginderaan semasa dinas aktif di lingkungan TNI AU, pengintegrasian sistem radar TNI AU pernah menghadapi masalah.

Indonesia pada masa lalu mengoperasikan radar di satuan-satuan radar TNI AU buatan blok Timur, lalu membeli sistem dari Inggris (Plessey Company plc), dan belakangan Prancis (Thomson CSF).

"Waktu kami mengadakan radar-radar baru, mengintegrasikan data dari sistem-sistem dan pabrikan berbeda ini masalah besar. Sampai kami harus memberi mereka peringatan kepada mereka (pabrikan) agar ini bisa dientaskan lebih dulu," kata Suparman.

Bahkan, dalam latihan gabungan di tingkat TNI, pernah dilakukan latihan gabungan pendahuluan khusus dari sistem senjata dan data ketiga matra TNI untuk mengupas dan memuluskan interoperabilitas sistem-sistem ini.

Setelah latihan pendahuluan interoperabilitas ini selesai dan dievaluasi bersama barulah latihan gabungan TNI digelar.

Dari fakta ini, kata dia, interoperabilitas sistem data menjadi hal yang mendesak untuk diwujudkan sesuai keperluan pertahanan Indonesia. 
READ MORE - Kajian sistem datalink nasional dirumuskan

Menhan akan Ajukan Tambahan Alutsista

Ada yang perlu ditambah, yang sudah ketinggalan akan kita perbarui


Anoa produksi Pindad akan digunakan oleh Korpaskhas [paskhas] ☆

Info Militer Terbaru - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan akan mengajukan penambahan alat utama persenjataan (alutsista). Penambahan itu untuk menunjang sistem pertahanan negara.

"Ada yang perlu ditambah, yang sudah ketinggalan akan kita perbarui, segera, ya tahun depan," kata Ryamizard saat berkunjung ke Lanud Sulaiman di Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung, Senin (9/11) kemarin.

Saat ini diperlukan penambahan anggaran untuk alutsista di TNI AD, AU dan AL. Tetapi semua itu menurut Ryamizard, tergantung dalam pembahasan anggaran nanti dengan DPR.

Sebenarnya, ia menuturkan, anggaran untuk alutsista sudah ada. Namun, jumlahnya tidak terlalu besar. "Karena pasukan-pasukan kita di pasukan khusus, seperti di Kopassus, Marinir, dan di Korpaskhas ini dananya tidak besar," ujar dia.

Untuk keberadaan alutsista di Korpaskhas TNI AU ini, menurut dia sudah ideal. Namun, perlu ada pembahasan lagi terkait jumlahnya. Sedangkan untuk alutsista pesawat tempur yang bisa digunakan di atas 30 tahun itu tergantung dari perawatan.

Namun, kalau sudah tidak layak, tidak bisa untuk diterbangkan. Kata dia, jika jam terbang banyak dan perawatannya bagus, maka alutsista tersebut pun masih bisa digunakan. Terlebih, ia mengakui, sebetulnya jam terbang pasukan khusus negara ini memang tergolong banyak.

"Jam terbang kita ini masih banyak," kata dia. "Itu tergantung dari perawatan. Di negara lain, seperti Singapura, alutsista yang lama pun masih dipakai karena perawatannya juga bagus.
READ MORE - Menhan akan Ajukan Tambahan Alutsista

Tuesday, 10 November 2015

Kisah Pidato Bung Tomo

Bung Tomo berpidato di depan rakyat Jawa Timur, 1950an. [Dok. Keluarga] ☆

Apa Peran Bung Tomo di Perang Surabaya 10 November 1945? 
Namanya Sutomo, orang menyebutnya Bung Tomo. Setiap kali Indonesia memperingati peristiwa 10 November yang kini sudah 70 tahun, setiap kali pula Bung Tomo disebut. Apa sebenarnya peran Bung Tomo pada republik sehingga namanya tak pernah dipisahkan dari pertempuran bersejarah itu? "Peran utama Bung Tomo adalah orasi dia yang membakar rakyat untuk memberikan perlawanan," kata sejarawan Rushdy Hoesein.

Setidaknya itu yang terlihat dalam pertempuran di Surabaya. Selama tiga pekan memang terkenal. inilah pertempuran melawan pasukan asing pertama dan terbesar sesudah Proklamasi 1945. Sebanyak 6.000-16.000 pejuang Republik gugur dan 200 ribu warga sipil mengungsi. Di pihak lawan, setidaknya 2.000 orang terbunuh. Wajar jika kemudian pemerintah menetapkan peristiwa 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Umur Sutomo atau Bung Tomo waktu itu masih 25 tahun dan ia menjadi kepala departemen penerangan di organisasi Pemuda Republik Indonesia. Organisasi ini memiliki laskar terbesar di Surabaya. Tapi justru dengan posisi itu wartawan Domei--sekarang Antara--Surabaya ini tahu bagaimana membangkitkan pemberontakan rakyat.

Bung Tomo, seperti pemuda yang menyiarkan Proklamasi ke seluruh dunia melalui Radio Republik Indonesia, juga memakai media elektronik untuk mengkomunikasikan perjuangan ke berbagai penjuru. Ia memilih melancarkan agitasi dan propaganda lewat corong radio.

Orasinya setiap hari pada pukul setengah enam sore selalu ditunggu. Sejarawan Rusdhy Husein menyebut, orang menyemut di sekitar tiang-tiang pengeras suara yang tersebar di berbagai sudut Surabaya. Suara Sutomo di Radio Pemberontakan itu bahkan terdengar hingga ke Yogyakarta.
 Siaran Radio yang Ditunggu  Bung Tomo bersiap melakukan siaran radio, 1947. [Dok.Dukut] ☆
Moechtar, mantan Pemimpin Redaksi Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya memberi kesaksian seputar pidato Bung Tomo dan Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Ia kini berusia 90 tahun, lahir di Pacitan pada 22 Februari 1925.

Moechtar sekolah di Hollandshe Indische Kweekschool Yogyakarta. Ketika Jepang masuk Indonesia, sekolah berlanjut ke Sekolah Guru Menengah Laki-laki. Setelah revolusi kemerdekaan, Moechtar melanjutkan luliah di Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dan Fakultas Sosiologi Jurusan Publisistik di Universitas Indonesia di Jakarta.

Moechtar mengingat, ketika tahun 1945, sekolah tidak terurus, diliburkan akibat perang berkecamuk. Ketika itu, Jepang bertekuk lutut ke Sekutu, dan Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan. Namun, situasi belum normal. Sehingga, pemerintahan dan juga sekolah belum terurus dengan baik.

Dalam situasi yang tak menentu sehingga sekolah libur, Moechtar yang saat itu sekolah di Yogyakarta, memilih untuk sementara tinggal di Kediri, Jawa Timur. "Saya ke tempat paman saya yang bernama Soedjito. Ia menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum di Kediri," kata Moechtar, Ahad 22 Oktober 1945.

Kini, Moechtar tinggal di Pucang Asri, Kota Surabaya dalam posisi banyak berbaring akibat pernah jatuh sehingga tulang belakangnya trauma. Daya ingat Moechtar masih kuat, meski sekali-sekali ia perlu waktu lama untuk mengingat sesuatu.

Sebagai pejabat Kediri, Soedjito tinggal di tengah kota, di dekat Pasar Pahing di Kelurahan Jamsaren, Kediri. Selama tinggal di rumah pamannya ini, Moechtar punya kegiatan yang hampir rutin tiap hari. Ketika jarum jam menunjuk jam lima petang, Moechtar mendapat tugas untuk mengeluarkan radio merk Philips yang berbentuk kotak, dari kayu.

Ia mengatakan, radio merupakan barang mewah pada saat itu. Di Kediri, kata dia, yang punya radio bisa dihitung dengan jari. "Karena paman saya kepala dinas pekerjaan umum, penghasilannya cukup untuk membeli radio," kata Moechtar.

Ia mengeluarkan radio milik pamannya dari dalam rumah ke halaman rumah yang luas. Di halaman rumah, sudah menunggu penduduk sekitar tempat pamannya tinggal. Mereka menunggu siaran Bung Tomo.

Bahkan, ada juga yang datang dari tempat jauh di Kediri. Setidaknya ada 20 hingga 30 orang yang takzim menunggu di halaman untuk mendengarkan siaran radio. Kadang, yang datang hingga 50 orang.

Menurut Moechtar, saat itu, stasiun radio yang memancarkan siaran hingga masuk Kediri cuma satu. Ketika itu, belum banyak siaran radio. Sehingga, Moechtar tidak pernah memindah stasiun radio ke stasiun lain karena memang tidak ada yang lain. Siaran yang paling ditunggu itu adalah siaran dari radio yang dimiliki Bung Tomo. Isinya, pidato Bung Tomo selama sekitar setengah jam.
READ MORE - Kisah Pidato Bung Tomo

Menhan Ryamizard Diangkat Jadi Warga Kehormatan Paskhas

Kendaraan Lokal ILSV, Kendaraan Penyerbu Ringan Buatan Indonesia di pakai Menhan periksa pasukan [defense.pk]☆


Info Militer Terbaru
- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu diangkat menjadi warga kehormatan Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI Angkatan Udara. Prosesi pengangkatan itu digelar di Markas Korpaskhas Lanud Sulaeman Margahayu Kabupaten Bandung, Senin (9/11/2015).

Prosesi penerimaan menjadi warga Kehormatan Paskhas itu ditandai dengan penyematan pisau komando, wing dan baret jingga oleh Komandan Korpaskhas Marsda TNI Adrian Wattimena.

"Saya bangga menjadi bagian dari Korpaskhas, ini kehormatan dan terima kasih kepada semua staf TNI-AU dan Paskhas," kata Ryamizard Ryacudu seperti dikutip Antara.

Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi dan memuji prestasi pasukan elite TNI Angkatan Udara itu, baik dalam penugasan di dalam maupun di luar negeri.

Ia menyebutkan, para anggota Paskhas memiliki kualifikasi para komando dalam melaksanakan tugasnya dan tetap profesional. Menurut dia, pasukan itu terlatih dan memiliki reputasi yang baik dalam menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI.

"Semuanya masih terjaga oleh Paskhas yang memiliki disiplin tinggi, dan saya komitmen untuk menjaga nama baik Paskhas," kata Ryamizard.

Menurut dia, sebagai pilar pertahanan NKRI, pasukan Paskhas harus tetap mempertahankan naluri bertempur dan meningkatkan kemampuan dan profesionalitas untuk mendukung tugas negara dengan tantangan yang kian berat dan kompleks.

Untuk menunjukkan Indonesia yang kuat, kata Menhan, harus ditunjukkan dan memerlukan TNI yang kuat dan profesional. Kebijakan ketahanan negara harus tersusun dengan baik agar negara tetap kuat.

"Seluruh anggota TNI, termasuk Paskhas harus punya kesiapan tinggi dalam menjalankan tugas yang diamanatkan," katanya.

Pada kesempatan itu, Menhan juga menegaskan agar seluruh prajurit untuk tetap menjadi kekuatan dan tentara rakyat yang tangguh dan profesional.

 Kompas  
READ MORE - Menhan Ryamizard Diangkat Jadi Warga Kehormatan Paskhas

Saturday, 7 November 2015

Indonesia Belum Mengajukan Pembelian Su-35

su-35






Info Militer Terbaru - Rusia belum menerima permintaan resmi dari Indonesia mengenai pembelian pesawat tempur generasi 4++ Su-35 dan kendaraan infanteri BMP-3F. Keputusan mengenai pembelian akan diumumkan segera setelah penetapan APBN.

Demikian hal tersebut dikabarkan Kepala Hubungan Eksternal Rosoboroneksport Viktor Brakunov selama pameran Defense & Security 2015 kepada RIA Novosti, Kamis (5/11).

“Militer Indonesia tertarik memperoleh senjata baru dan peralatan militer buatan Rusia, termasuk pesawat tempur dan kendaraan infanteri. Namun, sejauh ini kami belum menerima permintaan resmi dari pihak Indonesia karena saat ini sedang ditetapkan anggaran negara untuk lima tahun ke depan. Bila hal tersebut telah ditetapkan dan permintaan disetujui, akan segera dilaksanakan negosiasi yang substansial,” kata Brakunov.

Pada saat yang sama, juru bicara sekaligus perwakilan senior dari AU Indonesia mengatakan selama pameran dirgantara MAKS-2015 yang diselenggarakan pada bulan Agustus lalu di Zhukovsky, bahwa pembelian Su-35 untuk mendukung Angkatan Udara negara adalah prioritas.

Pada bulan September lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli satu skuadron Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika yang usianya sudah mencapai empat dekade.

Pada bulan Maret 2015, Dirjen Rosoboroneskport Anatoly Isaikin mengabarkan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan penandatanganan kontrak penyediaan pasokan baru kendaraan infanteri BMP-3F yang sekarang berhasil digunakan dalam Korps Marinir Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Pasokan pertama dari 17 kendaraan dikirimkan dalam rangka perjanjian pinjaman Indonesia senilai satu miliar dolar AS dari Rusia, yang ditandatangani pada bulan September 2007 silam ketika Presiden Vladimir Putin datang berkunjung ke Jakarta.
READ MORE - Indonesia Belum Mengajukan Pembelian Su-35

Tuesday, 15 September 2015

TNI Berupaya Datangkan 12 Kapal Selam Kelas Kilo

Jakarta –Dalam upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, diperlukan keunggulan kekuatan pertahanan di laut dan udara. Salah satu langkah yang diambil TNI untuk mengembangkan kekuataan laut adalah dengan rencana mendatangkan kapal selam kelas kilo.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, jika TNI AL memiliki kapal selam kelas kilo tentu akan menghadirkan detterence effects yang luar biasa. Tidak hanya itu, kapal selam kelas kilo itu merupakan salah satu impian dari TNI AL. “Itu mimpi TNI AL. Semoga pemerintah dan DPR bisa mewujudkan mimpi itu. Efek detterence-nya pasti ada” kata Jenderal Gatot, Jumat (11/9).

TNI berniat mendatangkan 12 kapal selam kelas kilo. Hal ini lantaran melihat kondisi luasnya wilayah perairan Indonesia. Salah satu alasan utama dari penambahan dan keberadaan kapal selam kelas kilo di armada TNI AL adalah agar bisa menimbulkan detterence effect (efek gentar) dari Indonesia di antara negara-negara di kawasan.

“Hitungan-hitungan idealnya 12 kapal selam dan yang diharapkan panglima TNI itu kelas kilo. Karena itu, memiliki kemampuan yang lebih dalam untuk mengover wilayah kita yang luas. Selain itu, memiliki faktor deteren yang cukup besar,” ujar Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Endang Sodik.


Kapal selam kelas kilo memang menjadi salah satu primadona dalam kekuatan pertahanan laut di dunia. Kapal selam ini dikenal memiliki teknologi yang cukup canggih, yaitu mampu beroperasi dengan tenang dan tidak memiliki suara yang gaduh.

Bahkan, kapal selam kelas kilo disebut-sebut sebagai salah satu kapal selam yang menghasilkan suara terlemah di dunia. Hal ini sangat efektif mengingat fungsinya sebagai antikapal permukaan dan antikapal selam.

Kendati begitu, Endang menjelaskan, pengadaan dan pembelian 12 kapal selam kelas kilo itu akan bergantung sepenuhnya kepada kemampuan anggaran pemerintah. Rencana pembelian kapal selam kelas kilo ini juga telah dimasukkan dalam salah satu evaluasi Rencana Strategis (Renstra) Minimum Essential Force (MEF) tahap dua pada 2015-2019.

Sementara, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI M Zainudin mengungkapkan, kapal selam kelas kilo memiliki kemampuan dan perlengkapan senjata yang lebih baik dibanding dengan kelas Changbogo. `’Kalau kelas kilo punya perlengkapan senjata yang bagus, punya kekuatan yang bagus, punya kemampuan yang lebih baik. Ini adalah kapal selam kelas siluman, menyelam tidak terdeteksi. Makanya, kalau kita punya (kapal selam kelas kilo), kita bakal disegani di kawasan karena efek detterence-nya itu,” kata Zainudin.

Reporter: Irfa Reja Widodo
Editor: Muhammad Hafil
Republika.co.id
READ MORE - TNI Berupaya Datangkan 12 Kapal Selam Kelas Kilo

Friday, 10 July 2015

Pindad dan Waskita Beton Precast Tandatangani Nota Kesepahaman


Info Militer Terbaru-PT Pindad (Persero) mengikat perjanjian lewat penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT Waskita Beton Precast di bidang pengujian dan sertifikasi produk bantalan milik PT Waskita Beton Precast dengan menggunakan produk penambat kereta api milik PT Pindad (Persero). Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut dilakukan pada Rabu, 8 Juli 2015, bertempat di Auditorium Gedung Direktorat PT Pindad (Persero). Silmy Karim, selaku Direktur Utama PT Pindad (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman ini bersama dengan Sapto Santoso, Direktur Utama PT Waskita Beton Precast.

Direktur Utama PT Waskita Beton Precast, Sapto Santoso berharap kerjasama ini akan dapat membantu produk bantalan produksi perusahaannya dalam proses pengujian dan sertifikasi oleh pihak yang berwenang. “Pengujian yang akan dilakukan adalah pengujian sistem yang menguji kekuatan antara bantalan milik Waskita Beton Precast dan penambat milik Pindad. Harapan kami pada saat pada tahap pengujian berikutnya, kami bisa lolos uji dan segera mendapatkan sertifikasi dari Departemen Perhubungan sehingga ke depan bisa kita lanjutkan kerjasama ini ke jenjang selanjutnya,” tutur Sapto.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pindad (Persero), Silmy Karim, mengatakan bahwa kerjasama Pindad dan Waskita Beton Precast diharapkan mampu meningkatkan salah satu target yang sedang digaungkan di perusahaan, yaitu efisiensi. “Untuk mencapai efisiensi, memang dibutuhkan keseimbangan antara apa yang dihasilkan dan mitra yang strategis. Kami ingin menempatkan Pindad sebagai mitra Waskita Beton Precast yang strategis, kita bersama maju ke depan,  beberapa isu penting untuk di-update kepada divisi kami yang menangani, sehingga bisa mengantisipasi kebutuhan Bapak ke depan,” tutur Silmy.

Setelah aktivitas penandatanganan di Auditorium, rombongan Waskita Beton Precast, diajak berkeliling meninjau fasilitas produksi penambat rel kereta api yang terdiri dari shoulder, clip, rail pad, dan insulator di Divisi Tempa dan Cor. Rombongan juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan performa produk militer PT Pindad (Persero) seperti Panser Anoa 6x6 dan senapan serbu SS2.
READ MORE - Pindad dan Waskita Beton Precast Tandatangani Nota Kesepahaman

Wednesday, 8 July 2015

Indonesia Ingin A400 atau An-70 Gantikan Hercules


Info Militer Terbaru-Angkatan Udara Indonesia berencana mengganti pesawat angkut berat Hercules C-130 yang sudah tua. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan pihaknya telah melakukan kajian mengenai calon pengganti Hercules itu sudah dikirim ke Kementerian Pertahanan.

“Sudah kami kirim jauh-jauh hari sebelum kecelakaan Hercules A-1310 di Medan pekan lalu,” kata Agus.

Dalam kajian yang dikirim ke Kementerian Pertahanan, TNI AU mengincar dua jenis pesawat angkut kelas berat, yakni Airbus A400M Atlas dan Antonov An-70. Soal harga masing-masing merupakan ranah Kementerian Pertahanan.

A400 merupakan pesawat angkut berat buatan Airbus. Pesawat ini telah dibeli beberapa negara antara lain Spanyol, Inggris, Turki, dan Malaysia. Namun pada Mei lalu pesawat ini mengalami masalah setelah salah satu pesawat yang tengah diuji jatuh dan terbakar di Sevilla Spanyol. Pesawat ini juga didera dengan berbagai persoalan teknis termasuk keterlambatan pengiriman dan mundurnya pencapaian kemampuan operasional pesawat.

Sementara An-70 adalah pesawatadalah pesawat empat mesin yang dikembangkan Ukraina dan Rusia. Dengan kargo berukuran 22,4 m panjang, 4,80 m lebar, dan 4,40 m. Pesawat ini, dikombinasikan dengan kemampuan daya rentang 6. 598 km (dengan 20.000 kg payload) dan muatan maksimum 47.000 kg, menempatkan An-70 dalam kategori yang sama dengan A400M Atlas dari Airbus.

Tetapi pesawat ini juga mengalami masalah dalam pengembangan karena konflik Ukraina- Rusia yang menyebabkan Moskow kemudian menarik diri dari program tersebut. Dengan program yang dipimpin oleh Ukraina tetapi sebagian besar dibiayai oleh Rusia. Proyek jadi kacau balau karena konflik di negara tersebut. Terlebih melibatkan Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia telah menghapus Antonov An-70 pesawat angkut militer, yang dikembangkan bersama oleh Rusia dan Ukraina, dari program persenjataan nasional, kata surat kabar Izvestia sebagaimana dikutip Ria Novosti Senin 2 Maret 2015 lalu.

Sedangkan Ukraina pada Januari 2015 menyetujui produksi pesawat ini dan akan memperkenalkan ke layanan angkatan bersenjatanya. Serial produksi sekarang akan mulai, meskipun perusahaan tidak menentukan jadwal pasti

Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda M. Syafii mengatakan penggantian pesawat Hercules masuk program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI bertajuk “Minimum Essential Force” (MEF). “Seharusnya masuk dalam rencana strategis pengadaan 2015-2019,” kata Syafii sebagaimana dikutip Tempo.

Marsekal Agus Supriatna berharap pemerintah memprioritaskan rencana pembelian pesawat angkut berat tersebut, terlebih setelah jatuhnya Hercules di Medan. Kecelakaan pesawat buatan 1964 itu merenggut 33 nyawa personel TNI AU dan enam anggota TNI AD serta 83 warga sipil yang ikut menumpang.
READ MORE - Indonesia Ingin A400 atau An-70 Gantikan Hercules

TNI Komitmen Datangkan Pesawat Baru


Info Militer Terbaru-Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkomitmen mendatangkan pesawat udara baru, bukan hibah atau bekas, ketika pengadaan yang akan datang.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Komisi I DPR RI, untuk pesawat udara harus baru. Pengadaan yang akan datang harus baru, kecuali yang sudah terlanjur (proses pengadaannya),” kata Gatot di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Jakarta, Rabu (1/7) malam.

Hal itu dikatakan Gatot usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI yang dilaksanakan oleh Komisi I DPR RI.

Dia menjelaskan pesawat udara berbeda dengan alutsista yang berada di darat yang bisa diperbaiki di tempat apabila ditemukan kerusakan.

Namun, menurut dia, apabila pesawat mogok atau rusak ketika terbang maka akan hancur seperti beberapa kejadian kecelakaan pesawat milik TNI.

“Apabila pesawat mogok maka hancur sehingga komitmen saya dan Komisi I DPR RI untuk pesawat udara harus yang baru,” katanya.

Gatot menjelaskan Indonesia bukan negara kaya, namun semua alutsista yang sudah usang harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru agar operasional TNI bisa berjalan.

Dia mengatakan pembelian alutsista dari luar negeri harus memiliki transfer teknologi sehingga lambat laun Indonesia bisa memproduksi secara mandiri dan tidak tergantung dengan negara lain.

“Alutsista yang dimiliki Indonesia ada yang lama dan baru. Yang lama masih kami gunakan namun harus dipelihara,” katanya.

Dia menjelaskan kategori pesawat ada dua yaitu layak terbang atau tidak layak. Gatot mencontohkan pesawat Hercules produksi tahun 1964 masih digunakan Singapura dan Bangladesh, namun dilakukan sistem pemeliharaan secara berkesinambungan.

“Sistem pemeliharaannya setiap 50 jam terbang ada opname dan pengecekan lalu per tiga tahun dan per enam tahun dilakukan cek,” katanya.

Saat ini, menurut dia, ada 12 pesawat hercules tahun 1964 dan 12 dari produksi tahun 1975 ke atas. Dia mengatakan tidak mungkin menghentikan operasi pesawat Hercules tersebut meskipun dengan alasan pesawat sudah uzur.

“Apabila itu (pesawat Hercules) lalu kita mau menggunakan apa,” katanya.

Sebelumnya Komisi I DPR RI memberikan persetujuan pengangkatan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI, setelah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan, kata Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Rabu (1/7).

Sumber: Antara
READ MORE - TNI Komitmen Datangkan Pesawat Baru

Tuesday, 7 July 2015

Pembelian Alutsista Strategis TNI Tak Boleh Dipublikasikan

jendral moeldoko

Info Militer Terbaru-Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko mengatakan, pembelian alat-alat tempur utama tidak dapat dipublikasikan ke masyarakat. Meski demikian ia menjamin pengadaan alutsista TNI tersebut tetap dilaksanakan melalui mekanisme lelang.

“Ada hal-hal yang memang dibuka melalui elektronik, tapi khusus alutsista tidak boleh. Yang jelas, semua proses berjalan sesuai aturan perpres,” ujar Moeldoko saat dijumpai di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (6/7).

Jenderal bintang empat itu memaparkan, institusinya tidak dapat membeberkan jenis dan jumlahnya alutsista yang dibeli setiap tahunnya. Ia beralasan, TNI menerapkan kebijakan tersebut atas dasar asas kerahasiaan.

Pengadaan barang dan jasa di lingkungan institusi negara diatur pada Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. Sekitar empat bulan setelah dilantik menjadi presiden, Joko Widodo mengeluarkan perubahan keempat perpres tersebut.

Berdasarkan aturan itu, Moeldoko berkata TNI tidak dapat menentukan sendiri pabrikan yang akan menyediakan alutsista untuk institusinya. “Tidak boleh tunjuk kanan-kiri, semua harus melalui tender terbuka,” ucapnya.

Sementara itu anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan, selama ini alokasi anggaran untuk pembelian dan perawatan alat tempur utama TNI hanyalah 30 persen dari total anggaran pertahanan nasional. Rendahnya alokasi dana tersebut, menurutnya, memaksa TNI membeli alutsista bekas ataupun menanti hibah dari negara lain.

Presiden Joko Widodo pekan lalu telah memerintahkan Moeldoko dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk merombak manajemen alutsista secara mendasar. Perintah ini keluar setelah pesawat Hercules C-130 yang dioperasikan Skuadron Udara 32 jatuh di Medan.

Tak melulu membeli alutsista dari pabrikan luar negeri, Jokowi mendesak dua petinggi sektor pertahanan itu untuk ikut serta mengembangkan industri pertahanan dalam negeri dalam rangka memodernisasi alutsista TNI.

Sebagai panglima tertinggi TNI, Jokowi mendesak zero accident di lingkungan TNI. Ia berkata, jatuhnya Hercules C-130 di Medan tidak boleh terulang kembali.

Sumber: CNN Indonesia
READ MORE - Pembelian Alutsista Strategis TNI Tak Boleh Dipublikasikan

Tuesday, 30 June 2015

Kolaborasi Akademis SAAB dan Universitas Pertahanan Indonesia

Saab Gripen
Saab Gripen

Info Militer Terbaru-Perusahaan Pertahanan dan Pengamanan Saab dan Universitas Pertahanan di Indonesia (Unhan) menandatangani Letter of Intent (LOI) mengenai kolaborasi akademis didalam semangat berinovasi, riset & pengembangan dan pertukaran pengetahuan, di Jakarta, 29/06/2015.

Didalam kunjungannya ke Swedia baru-baru ini, Laksamana Madya Dr. D.A Desi Albert Mamahit, Kepala Unhan bersama dengan delegasi dari Indonesia, melihat fasilitas Saab di Järfälla dan Göteborg dan juga Pusat Manajemen Lalu Lintas Laut milik Angkatan Laut Swedia dan Universitas Pertahanan Swedia di Stockholm. Kunjungan ini ditutup oleh acara penandatanganan Letter of Intent (LOI) antara Unhan dan Saab.

Tujuan dari LOI antara Unhan dan Saab adalah untuk berkolaborasi dan membangun hubungan antar negara Indonesia dan Swedia didalam konteks Triple Helix (Institusi Pendidikan, Industri & Pemerintah), mendukung pertukaran antar universitas dan membagikan pengetahuan tentang teknologi tinggi milik Saab dengan para dosen dan mahasiswa Unhan. Selain itu, keinginan Saab adalah mendukung rencana Unhan yang berupaya untuk membangun fondasi yang mengembangkan mutu universitas untuk menjadi yang paling unggul.

Di Swedia ada sebuah aliansi yang kuat antara institusi pendidikan, industri dan pihak pemerintah, yang dinamakan Triple Helix. Ini adalah sebuah bentuk kerjasama yang sangat sukses menurut pengalaman Swedia dan Saab yang dengan harapan bisa membagikan filosofi ini ke Indonesia.

Pengembangan pesat dari kapabilitas baru yang selalu memenuhi permintaan pasar tidak akan terjadi tanpa kerjasama dengan institusi pendidikan dan pihak pemerintah, kata Peter Carlqvist, Head of Saab Indonesia.

Sumber: Saab Asia Pacific
READ MORE - Kolaborasi Akademis SAAB dan Universitas Pertahanan Indonesia

Thursday, 25 June 2015

Indonesia Teken Kerjasama Konsultasi Keamanan dengan Rusia

menkopolhukam

Info Militer Terbaru-MENKOPOLHUKAM RI Tedjo Edhy Purdijanto saat ini tengah berada di Moskow, Rusia, untuk melakukan serangakain pertemuan dalam bidang pertahanan. Beberapa kesepakatan ditandatangani dalam kunjungan kerja itu.Salah satunya penandatangan kerjasama Memorandum of Understanding on Bilateral Consultation on Security Matters Indonesia–Rusia itu dilakukan di kantor Dewan Keamanan Federasi Rusia di Moskow, pada Senin (22/6).

Indonesia diwakili Menkopolhukam Tedjo Edhy dan pihak Rusia diwakili Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia (DKFR) Nikolai Patrushev. Turut hadir dalam acara tersebut Dubes RI Djauhari Oratmangun, Deputi Menko Polhukam Agus Sriyono, pejabat Kemenpolhukam dan KBRI Moskow.

Dalam pertemuan itu, Menko Tedjo dan Sekretaris DKFR berdiskusi selama sekitar 2 jam membahas sejumlah topik bahasan terkait politik, hukum dan keamanan yang menjadi perhatian bersama. Patrushev mengapresiasi politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang mengedepankan kemandirian dan kepentingan nasional.

Turut dibahas upaya peningkatan kerjasama kedua negara termasuk pertukaran pakar militer maupun dalam pengadaan alat-alat militer. Dibicarakan juga kerjasama peningkatan pengawasan terhadap pelaku kriminal lintas negara, terorisme dan pencucian uang.

Khusus masalah pemberantasan narkoba, disepakati perlunya mempercepat penandatanganan MoU kerjasama pemberantasan narkoba kedua negara maupun prakarsa latihan gabungan pemberantasan penyelundupan narkoba melalui jalur laut.

Selain dalam rangka penandatanganan MOU, kunjungan Menko Polhukam RI ke Rusia juga dalam rangka memenuhi undangan pemerintah Rusia untuk berpartisipasi dalam International Meeting of High Rangking Officials Responsible for Security Matters di Ulan Ude, Rusia, 24-25 Juni 2015. 

Sumber: detik.com
READ MORE - Indonesia Teken Kerjasama Konsultasi Keamanan dengan Rusia

Monday, 22 June 2015

Indonesia Beli JF-17 Thunder Dari Pakistan?

jf-17
JF-17 Thunder

Info Militer Terbaru-Pakistan telah berhasil menjual pesawat tempur JF-17 Thunder ke salah satu negara Asia pada hari senin di ajang Paris Air Show 2015, yang menandai penjualan internasional pertama pesawat tempur JF-17 yang dikembangkan bersama oleh Pakistan dan China.

Komodor udara Syed Muhammad Ali, juru bicara produksi mengatakan pada media di Paris Air Show 2015 bahwa mereka telah menyelesaikan negosiasi pemesanan pesawat JF-17 Thunder dengan salah satu konsumen dari Asia, Namun Syed Muhammad Ali enggan untuk memberikan informai lebih rinci terkait penjualan ini.

Sebelumnya, pejabat Pakistan mengatakan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan 11 negara yang berpotensi menjadi pembeli JF-17 Thunder. Dimana media Pakistan menyebutkan Malaysia dan Indonesia menjadi negara yang sangat berpotensi menjadi pembeli pertama JF-17 Thunder.

JF-17 Thunder diproduksi oleh Pakistan bekerjasama dengan sekutu mereka China. Merupakan pesawat tempur ringan multi-role yang mampu terbang dengan kecepatan Mach 2.0 dengan ketinggian mencapai 55.000 kaki.

Sekitar 80 orang mempromosikan JF-17 Thunder yang menjadi bintang di Paris Air Show 2015 mengingat banyak produsen pembuat pesawat tempur dunia tidak mengikuti pameran ini. Khalid Mahmood mengatakan bahwa kemungkinan tahun 2017 akan dimulai pengiriman pesawat ke pembeli dari Asia ini.

Mahmood menambahkan bahwa penjualan JF-17 Thunder telah mengalami penundaan karena terjadi berbagai macam konflik di negara-negara Timur Tengah.
READ MORE - Indonesia Beli JF-17 Thunder Dari Pakistan?

Perbandingan Sky Scanner Drone 'Garuda' Vs Drone Rp 4,5 Triliun Jokowi

Sky Scanner Drone 'Garuda'
Sky Scanner Drone 'Garuda'

Info Militer Terbaru- Minimnya pengawasan membuat bangsa asing leluasa menguras kekayaan bahari Indonesia. Tak tanggung-tanggung, kerugian negara akibat pencurian ikan saja mencapai Rp 300 triliun tiap tahun. Karena itulah Jokowi mengusulkan pengadaan pesawat terbang tanpa awak (PTTA) atau drone untuk menjaga keamanan laut.

Joko Widodo, nama lengkap Jokowi, menggelontorkan wacana pembelian 3 drone dengan harga total sekitar Rp 4,5 triliun saat berpidato di Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Minggu 31 Agustus 2014 lalu.

Terkait niat Jokowi itu, Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, ahli radar dan drone dunia asal Indonesia pun menawarkan Indonesia Sky Scanner Drone "Garuda". PTTA ini bisa melakukan 2 misi yaitu untuk drone biasa dan satelit baik sipil maupun militer.

"Di samping drone-drone biasa dengan ketinggian operasi beberapa kilometer untuk pengawasan perbatasan dan wilayah Indonesia, salah satu drone yang bisa memperkuat ide Jokowi adalah 'stratosphere drone'. Di mana drone ini terbang di ketinggian 13 - 20 kilometer, sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil dan militer,"

Josh-- nama panggilan Profesor Josapaht-- menuturkan, Garuda merupakan teknologi pertama di dunia karena dilengkapi terobosan ruang udara bahkan ruang angkasa. Selain itu, sejumlah perangkat khusus pun disertakan seperti Synthetic Aperture Radar (SAR), Hyperspectral & TIR (Thermal Infared) atau temperature camera, high resolution and high vision camera, hingga teleskop.

"Demikian juga sensor-sensor khusus untuk pemetaan sumber daya alam, perangkat relay telecommunication system, instrumen pemindai kapal (AIS), perangkat pelacak teroris dan organisasi terlarang dan lain-lain dapat dipasang pula di drone ini."
 Menurut Guru Besar Universitas Chiba, Jepang, itu, spesifikasi drone ini berbeda dengan drone-drone yang telah dikembangkan oleh instansi penelitian dan universitas di Indonesia dan dunia selama ini, karena stratosphere drone ini perlu perhitungan perangkat yang berspesifikasi ruang angkasa.

"Sehingga setiap komponen harus tahan dan dapat beroperasi di suhu - 60 hingga 100 derajat Celsius, serta tahan terhadap radiasi ruang angkasa, lingkungan yang mendekati hampa udara," tambahnya.

Bikinan Indonesia Lebih Canggih dan Murah

Pembuatan Indonesia Sky Scanner Drone "Garuda" ini pun tidak memakan waktu lama, sekitar 1 hingga 2 tahun. Secara harga, drone buatan Josh ini lebih murah dibanding buatan luar negeri seperti Global Hawk bikinan Amerika Serikat yang seharga US$ 200 juta atau Rp 2,34 triliun.

"Jadi, ini lebih besar ukurannya (dibanding Global Hawk). Jika menggunakan bahan bakar cair bisa bertahan sekitar 24 jam, dengan solar panel mungkin bisa 2 -3 kali lipat. Sedangkan untuk ground control biasa menggunakan yang biasa, cukup 2 atau 3 atau bisa juga memanfaatkan milik Lapan," tuturnya.

Jadi, berapa harganya?

"Kalau buat sendiri 1 unit dronenya Rp 10 milliar, itu baru harga dasar. Sedangkan sensor kamera sekitar Rp 10 milliar dan radar Rp 15 milliar. Untuk ground control system di frekuensi S-band harga hanya kurang dari Rp 10 milliar, tapi kalau militer bisa menggunakan X-Band. Totalnya yah di bawah Rp 50 milliar per unit," kata sang profesor.

Keuntungan lain dari drone ini adalah perawatan dan pengoperasiannya lebih mudah. Jika diminati pemerintah, Josaphat akan mengajak lembaga penelitian dalam negeri maupun swasta, perguruan tinggi, ilmuwan Indonesia, BUMN industri strategis, hingga Kementerian Pertahanan.

"Para pemuda Indonesia pun dapat mengembangkan sendiri berbagai perangkat pendukung teknologi stratosphere drone ini, sehingga kegiatan penelitian dan akademik di Indonesia bisa maju dan menjadi frontier di bidang ini di dunia. Produk teknologi ini bahkan dapat dijual pula ke negara lain nantinya sehingga devisa negara dari ekspor teknologi tinggi dapat ditingkatkan," kata pria kelahiran Bandung ini.

Usulan stratosphere drone yang diberi nama Stratosphere Drone - Indonesian Sky Scanner Drone 'Garuda' ini telah disampaikan Josh kepada perwira Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU oleh pada tanggal 15 Agustus 2014 lalu.

Untuk kebutuhan ideal, Josh menjawab, sekitar 15 unit sudah bisa meng-cover seluruh wilayah Indonesia.


 "Mungkin tahap awal beberapa unit cukup. Idealnya 15 unit dan diserahkan ke masing-masing sektor udara TNI AU atau yang lainnya," tutupnya.

Saat ini Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) yang dipimpin oleh Josh bersama Taiwan National Space Organization (NSPO) sedang mengembangkan stratosphere drone yang dilengkapi dengan sensor SAR ciptaannya yang dapat tembus awan, hujan, kabut, asap, dan hutan.

Selain itu, sejumlah negara pun tertarik dengan pengembangan stratosphere drone ini seperti Jepang, Malaysia, dan negara-negara besar lainnya.

Stratosphere atau stratosfer adalah lapisan utama kedua atmosfer bumi yang terletak di atas troposfer dan di bawah mesosfer. Pada lintang moderat stratosfere terletak sekitar 10-13 km (33,000-43,000 kaki) dan 50  km (160,000 kaki) ketinggian di atas permukaan, dan dekat pada khatulistiwa berada sekitar ketinggian 18 km (59,000 kaki).

Josh juga berpendapat bila diperlukan teknologi ini nanti dapat menjadi alternatif teknologi untuk mendukung ide Jokowi untuk pemetaan dan pengawasan seluruh wilayah Indonesia, misalnya pengawasan perbatasan, lalu lintas darat, laut dan udara, perubahan kota, illegal logging, hingga pengejaran teroris dan anggota organisasi terlarang di dalam hutan. Kajian anti teroris dan forensik menggunakan drone ini bekerja sama dengan Universitas Bhayangkara Jaya (Dr Frans Dwikoco), Kepolisian Indonesia, dan Departemen Pertahanan.

Sumber: news.liputan6.com
READ MORE - Perbandingan Sky Scanner Drone 'Garuda' Vs Drone Rp 4,5 Triliun Jokowi

INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri

infra rcs

Info Militer Terbaru-Kemandirian anak bangsa Indonesia dalam membuat alat utama sistem senjata (alutsista) telah banyak menoreh prestasi di dalam maupun luar negeri, seperti pembuatan pesawat, kapal perang, kendaraan tempur, senjata ringan maupun berat. Alutsista-alutsista strategis ini tidak terlepas dari peran BUMN Industri Strategis dan industri swasta lainnya.

PT Infra RCS Indonesia adalah salah satu industri strategis swasta yang terlibat dalam memajukan teknologi radar dalam negeri. Beberapa produk perusahaan yang telah berdiri sejak 2009 ini telah dipasang di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Parchim.

"Ada 4 KRI Van Speijk dan 1 Parchim.  Di situ ada radar LPI (Low Probability of Intercept) dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh, ada ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) karena 1 paket dan ada juga ESM (Electronic Support Measures) untuk KRI Yos Sudarso dan KRI OWA," ucap Technical Advisor PT  Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (7/4/2014).

Selain itu saat ini Infra RCS sedang mengembangkan Coastal Radar yang berfungsi untuk mengawasi pesisir pantai dan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS). Dalam pengembangan ini, Infra RCS bekerjasama dengan Dislitbang TNI AL sebagai end user.

"Coastal Radar kita kebanyakan dari luar, dan seperti kita ketahui garis pantai kita itu kan panjang. Jadi perlu banyak radar pengawas pantai, jadi wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing lalu juga illegal fishing seperti di Maluku dan lain-lain. Tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL," ujar pria murah senyum itu.

Di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan selain dipasarkan ke TNI AL, radar-radar pabrikannya juga bisa dijual ke kalangan swasta dan pemerintah. Tawaran dari institusi pemerintah juga sudah mulai berdatangan.

"Kita pemasarannya bisa kalangan kecil, swasta dan pemerintah, jadi terbuka ya. Kita rencananya kerjasama dengan asosiasi galangan kapal, tentu untuk dipasang di on-board ya. Kalau untuk coastal rencananya dengan Bakorkamla, Kementerian Perikanan. Pertamina juga berminat untuk pengawasan oil rig-nya," imbuh wanita berkerudung ini.

Untuk masalah harga, Wiwiek menilai, produk buatan perusahaannya lebih kompetitif dibanding radar impor. Selain itu, perusahaannya memberikan pelatihan berkala sampai pihak user mengerti tentang kegunaan radar pabrikannya.

"Secara cost kita sangat kompetitif, seperti kalau beli dari China di kita harganya cuman 50%-nya," tutur Wiwiek.

Meski dengan keterbatasan SDM, PT Infra RCS Indonesia bercita-cita untuk mendukung revitalisasi dan kemandirian bangsa dalam bidang penelitian dan produk radar dalam negeri. Untuk anggaran Research and Development (R&D) awalnya dari hasil patungan dan akhirnya dibantu Ditlitbang TNI AL.

"Untuk Infra ini kan kita punya misi  untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis.  Jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan. Kalau lihat produk luar biasanya setelah instalasi lalu ditinggal, itu banyak kita lihat di lapangan itu," katanya.

"Ada (anggaran) dari internal ada juga kerjasama dengan litbang. Kalau coastal ini kita kerjasama dengan litbang TNI AL. Dengan keuntungan sedikit kita akan pakai lagi untuk R&D dan pengembangan varian-varian baru agar kemandirian bangsa dalam teknologi radar bisa setara dengan negara maju. Saat ini fokus 70% untuk radar maritim dan sisanya untuk radar lainnya." (Rizki Gunawan)

Sumber: news.liputan6.com
READ MORE - INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri

LAPAN Berhasil Uji Terbang Roket Komurindo

Uji Terbang Roket Komurindo
Uji Terbang Roket Komurindo

Info Militer Terbaru- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional berhasil melakukan Uji Terbang Empat buah Roket Komurindo di Pantai Pameungpeuk, Garut Selatan, Sabtu (20/06). Koordinator Tim Teknis Ahmad Riyadl mengatakan tujuan kegiatan uji terbang ini adalah untuk melakukan verifikasi terhadap fungsional roket yang akan digunakan pada kegiatan Komurindo bulan agustus mendatang. Hasil yang didapatkan empat buah roket dapat meluncur dan melakukan separasi muatan roket dengan baik. LAPAN akan menyiapkan tidak kurang dari 30 roket untuk kegiatan Komurindo tersebut.

Kegiatan uji terbang roket Komurindo ini dihadiri oleh Wakil Ketua Panitia Komurindo, Jasyanto, Tim Teknis Roket Komurindo, unsur TNI AL sebagai otoritas Notmar dan pihak Syah Bandar.

Komurindo adalah kompetisi tahunan rancang bangun muatan roket dan roket EDF tingkat perguruan tinggi yang diselenggarakan sejak 2009. Dalam ajang ini, para mahasiswa ditantang untuk membangun suatu sistem monitoring dan pengukuran yang stabil, akurat, dan presisi di bidang peroketan. Selain itu, mahasiswa juga belajar membangun roket EDF. Kegiatan ini akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam rancang bangun serta pengujian roket dan muatannya. Kompetisi ini sekaligus meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam teknologi penginderaan jauh dan sistem otomasi robotika pada muatan roket.

Komurindo akan dilaksanakan tanggal 2 – 5 Agustus 2015 di Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN, Pameungpeuk, Garut, bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta Pemkab Garut. Tercatat ada 25 Tim untuk kategori Muatan Roket dan 44 Tim untuk Roket EDF telah memasukan proposal, namun pada seleksi tahap II telah terpilih masing-masing 20 tim untuk dapat melanjutkan kompetisi. Diharapkan melalui ajang ini dapat muncul bibit unggul calon peneliti, perekayasa, dan ilmuwan di bidang penerbangan dan antariksa.

Sumber: Lapan.go.id
READ MORE - LAPAN Berhasil Uji Terbang Roket Komurindo