Showing posts with label Lapan. Show all posts
Showing posts with label Lapan. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Penampakan Pesawat N219

✈ N219 rencananya akan diresmikan Presiden Jokowi dalam seremoni acara roll out dalam waktu dekat. 

✈ N219 saat proses pembuatan [PTDI]

Info Militer Terbaru - Pesawat N219 selesai dikerjakan di hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung, Jawa Barat. Dalam waktu dekat akan ada seremoni roll out atau keluar hanggar, sebelum pesawat angkut ringan ini mengudara.

Hari ini, PT DI menggelar syukuran selesainya pengerjaan perancangan dan pembangunan desain struktur pesawat N219. Tuntasnya desain struktur N219 ini hasil kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
READ MORE - Penampakan Pesawat N219

Thursday, 12 November 2015

★ Pesawat N219 Buatan Indonesia Gagal Roll Out

Karena Jokowi Tak Hadir 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPbGSLMMCQ8hOocOVN3N-JF4WNwMO0nGpL_BU3xOHWV790LF4v1aufrUpAL6I-hMgO62coiPwFArEwnJ-MyT-65wTpZ7o-LQeYQ2b10N_nuiuMU1pewjx8aSSIzImvwkDgu4PUm0a-m__u/s1600/n219.jpg

Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia siap roll out [defense.pk] ☆

Info Militer Terbaru - Industri penerbangan Indonesia kembali membuat pesawat jenis komersil. Pesawat tersebut merupakan produksi anak negeri yang langsung dipimpin oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Menurut Ketua Serikat Pekerja PT Dirgantara Indonesia (DI) khaidir, proses pembuatan pesawat ini sudah dilakukan sejak 2011. Meskipun sebagian besar komponen didatangkan dari luar negeri, namun keseluruhan pengerjaan dilakukan oleh anak bangsa.

"Itu 100 persen buatan Indonesia, tidak ada bule satu pun," ujar Khaidir di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Pesawat ini merupakan jenis pesawat komersil dengan kapasitas 19 orang penumpang. Saat ini pesawat tersebut telah selesai dirakit, namun belum bisa diperlihatkan ke publik.

"Saat ini berada di Bandung, tapi belum bisa diakses publik karena masih menunggu roll out dari Presiden".

Pesawat yang diberi label N219 ini rencananya akan diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini sejalan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Namun, karena presiden berhalangan hadir, proses peluncuran gagal dilakukan hari ini dan ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

"Kita masih belum tahu kapan akan roll out lagi, masih menunggu presiden," imbuh Khaidir. (rzk)
READ MORE - ★ Pesawat N219 Buatan Indonesia Gagal Roll Out

Saturday, 7 November 2015

Indonesia Gencar Bikin Pesawat, Setelah N219 Berikutnya N245 dan N270

Pesawat angkut rngan N219 (photo : Kaskus Militer)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana mengembangkan pesawat lanjutan pasca N219. Sebelum N219 terbang perdana (first flight) pada Mei 2016, PTDI dan LAPAN pada awal 2016 akan memulai mengembangkan pesawat berkapasitas antara 50 penumpang hingga 90 penumpang yakni N245 dan N270.

Tahap awal, PTDI dan LAPAN masuk pada pesawat baling-baling kelas 50-60 penumpang di 2016. Pesawat ini adalah N245, yang merupakan pesawat baling-baling pengembangan dari pesawat versi militer, CN235.

PTDI dan LAPAN memulai pengembangan N245, meskipun N219 belum terbang karena proses pengembangan pesawat dari desain konseptual dan feasibility study, hingga pesawat mengantongi sertfikasi dan siap produksi memakan waktu tidak sebentar.

“Proses pengembangan pesawat bukan langsung gambar maksudnya program ini dimulai, sambil N219 berjalan dan sudah mendekati selesai. Kita (untuk N219) melakukan studi pasar sama membuat desain konseptual terlebih dahulu,” kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN, Agus Aribowo, kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Setelah melakukan desain konseptual dan diketahui tentang potensi pasar, PTDI dan LAPAN melakukan pada tahapan uji terowongan angin fase 1. Selanjutnya, PTDI dan LAPAN melakukan verifikasi desain dan disusul preliminary design. Di sini bentuk pesawat sudah terlihat aerodinamiknya.

Proses kemudian berlanjut ke uji terowongan ke-2 dan ke-3, baru masuk ke fase detil desain. Di sini seluruh komponen pesawat digambar secara detil. Proses berikutnya ialah pembuatan prototype.
“Baru roll out dan terakhir test flight dalam rangka sertifikasi,” jelasnya.

4434560496e44a1eb02c630e91491f65


PT.DI dan LAPAN menargetkan pesawat N245 bisa mengantongi sertifikasi dari regulator penerbangan nasional pada akhir 2019.

Agus menjelaskan, pengembangan N245 relatif tidak terlalu komplek daripada pengembangan N219, karena N245 merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari CN235 yang telah lama dikembangkan oleh PTDI bersama Airbus Military. Dengan modifikasi, N245 bisa memiliki kapasitas 50 sampai 60 penumpang.

“Kebutuhan pasar dengan kemampuan basic CN235, itu kita akan modifikasi dari versi militer jadi versi sipil dengan ganti engine yang lebih efisien dan lebih irit. Kemudian avionic system pada cokpit diganti dengan varian terbaru yakni glass cockpit,” tuturnya.

Untuk varian N270, PTDI dan LAPAN merencanakan pengembangan pesawat ini pada periode 2019-2024. N270 dirancang mampu membawa penumpang antara 70 sampai 90 orang.

“N270 itu memanjangkan yang N245 jadi 70-90 penumpang. Ini biaya development lebih irit karena hanya pengembangan,” jelasnya.

Detik
READ MORE - Indonesia Gencar Bikin Pesawat, Setelah N219 Berikutnya N245 dan N270

Monday, 22 June 2015

LAPAN Berhasil Uji Terbang Roket Komurindo

Uji Terbang Roket Komurindo
Uji Terbang Roket Komurindo

Info Militer Terbaru- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional berhasil melakukan Uji Terbang Empat buah Roket Komurindo di Pantai Pameungpeuk, Garut Selatan, Sabtu (20/06). Koordinator Tim Teknis Ahmad Riyadl mengatakan tujuan kegiatan uji terbang ini adalah untuk melakukan verifikasi terhadap fungsional roket yang akan digunakan pada kegiatan Komurindo bulan agustus mendatang. Hasil yang didapatkan empat buah roket dapat meluncur dan melakukan separasi muatan roket dengan baik. LAPAN akan menyiapkan tidak kurang dari 30 roket untuk kegiatan Komurindo tersebut.

Kegiatan uji terbang roket Komurindo ini dihadiri oleh Wakil Ketua Panitia Komurindo, Jasyanto, Tim Teknis Roket Komurindo, unsur TNI AL sebagai otoritas Notmar dan pihak Syah Bandar.

Komurindo adalah kompetisi tahunan rancang bangun muatan roket dan roket EDF tingkat perguruan tinggi yang diselenggarakan sejak 2009. Dalam ajang ini, para mahasiswa ditantang untuk membangun suatu sistem monitoring dan pengukuran yang stabil, akurat, dan presisi di bidang peroketan. Selain itu, mahasiswa juga belajar membangun roket EDF. Kegiatan ini akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam rancang bangun serta pengujian roket dan muatannya. Kompetisi ini sekaligus meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam teknologi penginderaan jauh dan sistem otomasi robotika pada muatan roket.

Komurindo akan dilaksanakan tanggal 2 – 5 Agustus 2015 di Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN, Pameungpeuk, Garut, bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta Pemkab Garut. Tercatat ada 25 Tim untuk kategori Muatan Roket dan 44 Tim untuk Roket EDF telah memasukan proposal, namun pada seleksi tahap II telah terpilih masing-masing 20 tim untuk dapat melanjutkan kompetisi. Diharapkan melalui ajang ini dapat muncul bibit unggul calon peneliti, perekayasa, dan ilmuwan di bidang penerbangan dan antariksa.

Sumber: Lapan.go.id
READ MORE - LAPAN Berhasil Uji Terbang Roket Komurindo

Saturday, 16 May 2015

Lapan Sukses Luncurkan Roket RX-450


Info Militer Terbaru-Lapan berhasil meluncurkan roket RX-450. Peluncuran berlangsung di Balai Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Jawa Barat, Rabu (13/5). RX 450 merupakan roket sonda yang mempunyai diameter 450 mm yang dapat digunakan untuk mengukur parameter atmosfer.

Roket ini direncanakan mampu mencapai ketinggian dan jangkauan maksimum berturut-turut sebesar 44 km dan 129 km jika ditembakkan pada sudut elevasi 70 derajat. Roket RX 450 merupakan bagian dari roket bertingkat yang akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS). Uji terbang roket ini merupakan bagian dari tahapan dalam penguasaan roket RPS yang direncanakan dapat membawa muatan 50 kg ke orbit rendah.




Pada uji terbang roket RX 450 tersebut motor roket dapat berfungsi dengan baik untuk membawa terbang roket. Beberapa hal masih harus terus dilakukan untuk memperoleh hasil terbang yang maksimal.

Setelah peluncuran RX-450, Lapan berencana untuk menuju peluncuran berikutnya yaitu RX-550 dan roket berdiameter yang lebih besar. Hasil peluncuran tersebut menjadikan motivasi bagi Lapan untuk lebih maju dalam peningkatan dan pengembangan teknologi antariksa khususnya roket.

Peluncuran disaksikan oleh Kepala Lapan Prof. Thomas Djamaluddin, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Dr. Rika Andiarti beserta pejabat struktural dan para peneliti Lapan, perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, serta PT Pindad.

Sumber: Lapan.go.id
READ MORE - Lapan Sukses Luncurkan Roket RX-450

Tuesday, 12 May 2015

Wantimpres Soroti Dukungan Anggaran untuk LAPAN


Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima cinderamata dari anggota Wantimpres Bidang Pertahanan dan Keamanan M. Yusuf Kartanegara.
 Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima cinderamata dari anggota Wantimpres Bidang Pertahanan dan Keamanan M. Yusuf Kartanegara.

Info Militer Terbaru-Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima kunjungan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Pertahanan dan Keamanan yang dipimpin oleh M. Yusuf Kartanegara beserta jajarannya pada Jumat (8/5), di Balai Pengamatan Dirgantara (BPD) LAPAN Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi lengkap mengenai tugas, fungsi dan kompetensi utama LAPAN.

Thomas menjelaskan empat kompetensi utama LAPAN sesuai dengan amanat dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Keempat kompetensi tersebut ialah kompetensi bidang sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi penerbangan dan antariksa serta kajian kebijakan penerbangan dan antariksa.

Penandatanganan Garis Besar Naskah Kerja Sama Aeronautika dan Antariksa 2015-2020 antara LAPAN dan CNSA di hadapan Presiden RI dan RRT
Penandatanganan Garis Besar Naskah Kerja Sama Aeronautika dan Antariksa 2015-2020 antara LAPAN dan CNSA di hadapan Presiden RI dan RRT

Setelah mendengar penjelasan Thomas, berbagai pertanyaan mengemuka dari Yusuf dan jajarannya terkait rencana strategis LAPAN hingga lima tahun mendatang. Yusuf beranggapan bahwa bidang yang ditangani LAPAN sangat luas dan berkaitan dengan industri strategis yang penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.

“Dalam menjalankan tugasnya, kami ingin tahu kendala apa saja yang dihadapi LAPAN? Apakah mengalami kesulitan koordinasi dengan instansi lain? Pengembangan apa saja di masa mendatang dan apa saja yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut?” tanya Yusuf.

Menjawab pertanyaan tersebut, Thomas memberikan gambaran posisi lembaga keantariksaan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) China National Space Agency (CNSA) yang setara dengan posisi wakil presiden sehingga kebijakan keantariksaan RRT langsung bersumber dari presiden. Thomas menambahkan, Kepala LAPAN bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

Namun, dalam pelaksanaan kegiatannya LAPAN berkoordinasi dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Koordinasi dengan instansi lain, Thomas menjawab, tidak ada kendala yang berarti.

Thomas menilai positif penggabungan pendidikan tinggi dalam Kemenristekdikti. Ia berujar, kerja sama LAPAN dengan institusi pendidikan tinggi akan semakin mudah dilakukan.

“Contohnya kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan jauh lebih mudah, terutama untuk pembangunan observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Thomas.


Menurut Thomas, dalam rencana strategis 2015-2019 LAPAN menargetkan untuk bisa membangun observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur, mewujudkan konsorsium satelit nasional serta pengembangan teknologi roket. Meskipun persoalan anggaran masih menjadi kendala utama LAPAN hingga saat ini, namun LAPAN berharap bisa mencapai target tersebut.

Mengacu kepada lembaga keantariksaan India Indian Space Research Organization (ISRO), kata Thomas, anggaran ISRO untuk bidang keantariksaan tidak terbatas. Yusuf juga menyoroti hal lain terkait dengan LAPAN seperti sumber daya manusia (SDM), hasil litbang LAPAN terutama UAV/ drone, dan aspek bisnis dan ekonomi LAPAN.

Dari segi SDM, Thomas memaparkan, perlu peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kemudian terkait dengan UAV, LAPAN sudah memiliki program pengembangan UAV untuk keperluan kemaritiman.

“Saat Presiden mengutarakan visi kemaritiman, ada penekanan fungsi LAPAN Surveillance UAV (LSU) dan LAPAN Surveillance Aircraft (LSA) untuk keperluan maritim. Pengembangan dalam waktu dekat yaitu sistem pemantuan maritim terintegrasi memakai LSU dan LSA,” ujar Thomas.

Uji Coba LSU 05
Uji Coba LSU 05

Pada tanggal 24 Oktober 2014 LSU 05 karya LAPAN melakukan uji coba pemotretan puncak Gunung Merapi. Berikut adalah hasil photo yang berhasil diambil team Pustekbang menggunakan LSU 05 memotret puncak Gunung Merapi dari atas.
Pada tanggal 24 Oktober 2014 LSU 05 karya LAPAN melakukan uji coba pemotretan puncak Gunung Merapi. Berikut adalah hasil photo yang berhasil diambil team Pustekbang menggunakan LSU 05 memotret puncak Gunung Merapi dari atas.

Thomas juga menjelaskan mengenai Badan Layanan Umum (BLU) LAPAN dan tugas yang diembannya. Pada dasarnya, LAPAN melayani instansi lain secara gratis, terutama penyediaan data citra penginderaan jauh satelit dengan lisensi pemerintah. Namun, untuk data citra resolusi tinggi dan sangat tinggi, LAPAN harus melakukan pengadaan untuk citra tersebut.

“Ada juga yang tidak bisa diperoleh LAPAN secara gratis, misal citra resolusi tinggi dan sangat tinggi yang dibutuhkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Badan Informasi Geospasial (BIG) bahkan hingga resolusi 60 cm, harus pengadaan terlebih dahulu,” kata Thomas.

Mengakhiri kunjungannya, Yusuf mengatakan bahwa terdapat hal-hal penting tentang LAPAN yang perlu disampaikan kepada Presiden terutama dukungan anggaran untuk pengembangan tugas, fungsi dan kompetensi LAPAN. Yusuf dan jajarannya sempat meninjau gedung pengamatan matahari milik LAPAN dan langsung bertolak menuju PT Pindad di Malang.

Roadmap Deputi Teknologi Dirgantara LAPAN



Tahun 2015
  • Membangun pusat unggulan UAV
  • Melanjutkan pengembangan produk pesawat terbang dalam negeri sesuai dengan kebutuhan nasional.
  • Turut serta mendukung secara aktif pengembangan industri pertahanan.
  • Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya Lapan.
  • Meningkatkan fasilitas dan produktivitas litbang.
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi satelit
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi penerbangan.
  • Menjalin kerjasama untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi roket, pesawat tempur, rudal, dan propelan.
  • Meningkatkan kemandirian dalam penguasaan teknologi sensitif dengan melibatkan seluruh potensi nasional.
  • Mengupayakan implementasi sertifikasi desain teknologi penerbangan.
  • Mengusulkan regulasi operasionalisasi pesawat tanpa awak dan roket.
  • Melakukan koordinasi dengan Kementrian Perindustrian untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri terkait teknologi penerbangan dan antariksa.
  • Melakukan koordinasi dengan Pemda dalam penyediaan lahan pengujian roket.
  • Melakukan koordinasi dengan TNI-AU dalam pemanfaatan fasilitas bandara TNI sebagai bandara riset 2015.

Tahun 2016
  • Memanfaatkan teknologi UAV untuk melengkapi data satelit penginderaan jauh.
  • Membangun pusat unggulan roket.
  • Membangun konsorsium satelit nasional.
  • Mendorong industri dalam negeri dalam memenuhi komponen untuk pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa yang dibutuhkan.

Tahun 2017
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
  • Membangun bandara riset dan bandar antariksa di kawasan strategis nasional (KSN).
  • Meningkatkan kemampuan satelit penginderaan jauh operasional.
  • Membangun satelit operasional melalui konsorsium satelit nasional dengan memanfaatkan mitra-mitra internasional.
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
Sumber : LAPAN





READ MORE - Wantimpres Soroti Dukungan Anggaran untuk LAPAN

Saturday, 9 May 2015

Memandang Masa Depan Kemandirian Roket Nasional


Info Militer Terbaru-Ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer.

Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang  menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya  berlangsung mulus.

Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerja sama yang sinergis antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km.

Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.




Proses Pembuatan Roket R Han 122 

Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005.

Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit. Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak).

Kemudian, PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket.

ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Proses Riset Roket R-Han 122

Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 Celcius.

Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas.

Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba. Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan.

Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional ke depannya.
Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.




Pengembangan Roket R-Han 122

Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI).

Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya  adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri dalam negeri.

Selama ini, Indonesia masih membeli roket dari negara lain.
“Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket,” jelas Menhan saat itu, Purnomo Yusgiantoro.
500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit. Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 dirampungkan program produksi 1.000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

Roket R-Han ini tidak dijual ke luar negeri, karena masih dalam proses penyempurnaan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dipasarkan jika nantinya pengujiannya sudah selesai. Untuk R-Han 122 sudah menemui hasil yang menggembirakan, sekarang sedang menyempurnakan roket D-230.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang  lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence/ efek gentar yang dimiliki oleh TNI.

Rencana kedepannya Kemhan bersama Konsorsium Roket Nasional sedang mengembangkan roket kaliber 320 dengan jarak capai 70 km, dan Kaliber 450 dengan jarak capai sekitar 100 km. Semoga semua bisa dilaksanakan dengan baik, dan kemandirian alutsista strategis ini bisa membanggakan negeri tercinta ini.

Sumber: jakartagreater







READ MORE - Memandang Masa Depan Kemandirian Roket Nasional

Friday, 8 May 2015

Menuju Negara Maritim dengan Teknologi Antariksa


Info Militer Terbaru-Negara maritim adalah negara yang mampu memanfaatkan wilayah laut sebagai pengembangan kekuatan geopolitik, militer, ekonomi dan budaya bahari. Dengan wilayah perairan yang mencapai hingga lebih dari 6 juta kilometer persegi, pemerintahan Presiden Joko Widodo mengemban misi untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional. LAPAN mendukung misi tersebut dengan berbagai hasil litbang penerbangan dan antariksa.
 
Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa dalam recana strategis LAPAN 2015-2019 salah satunya adalah penguatan kedaulatan maritim melalui litbangyasa satelit nasional. Berbekal pengalaman peluncuran satelit LAPAN-TUBSAT pada 2007, LAPAN akan meluncurkan satelit LAPAN A-2 dan LAPAN A-3 berturut-turut pada 2015 dan 2016. Kemudian, LAPAN akan menjadi bagian penting dalam pengembangan konsorsium satelit nasional dengan target lahirnya Inasat-1 pada 2019.
Thomas menyampaikan hal tersebut dalam Simposium Nasional 2015 Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, di Gedung Pascasarjana ITS, Kamis (7/5). “Waktu operasional satelit hanya sekitar 5 sampai 15 tahun, jika kita tidak memiliki satelit sendiri maka akan bergantung terus pada negara lain,” Thomas menegaskan.
Selain satelit, LAPAN mendukung misi kemaritiman dengan integrasi pesawat LSU dan LSA hasil litbang LAPAN untuk sistem pemantauan maritim terpadu. Kemudian, sejalan dengan rencana pemerintah untuk pembangunan tol laut yang membutuhkan infrastruktur seperti pelabuhan, LAPAN akan menyediakan data citra satelit resolusi tinggi, untuk membantu perencanaan pembangunan pelabuhan tersebut.
Dalam simposium yang mengambil tema “Aplikasi Informasi Geospasial untuk Program Poros Maritim Pemerintah RI” ini, hadir juga Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Dr. Priyadi Kardono, perwakilan dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan BPPT. Simposium dibuka secara resmi oleh Rektor ITS Prof. Joni Hermana.

Sumber: lapan.go.id

READ MORE - Menuju Negara Maritim dengan Teknologi Antariksa

Tuesday, 21 April 2015

LAPAN Ikuti Sidang Komisi Bersama Ke-10 Indonesia-Rusia

LAPAN mengikuti Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-10 RI dan Rusia untuk kerja sama perdagangan, ekonomi, dan Teknik. Sidang berlangsung di Moscow dan Kazan, Rusia, pada 7 hingga 9 April 2015.

Dalam sidang ini LAPAN mengirimkan Kepala Biro Kerjasama, Agus Hidayat, untuk menjadi bagian dari delegasi RI (DELRI) yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofjan Djalil. Anggota delegasi RI lainnya terdiri dari para pejabat yang mewakili Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Duta Besar RI untuk Rusia, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Pemerintah Provinsi Kalimantan, Kamar Dagang Indonesia, perbankan, dan pengusaha dari berbagai sektor.

Di bidang teknik, kerja sama RI dan Rusia antara lain di bidang keantariksaan, teknologi pesawat terbang, dan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Keikutsertaan LAPAN dalam SKB ini terkait dengan rencana kerja sama pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai. Kerja sama tersebut telah diinisiasi sejak 2011 oleh LAPAN dan lembaga antariksa Rusia, ROSCOSMOS. Kedua instansi sepakat memasukkan paragraf baru ke dalam agreed minutes tentang kerja sama di bidang pemanfaatan satelit navigasi Rusia, Glonass. Keduanya juga sepakat untuk menghapus paragraf tentang kerja sama di bidang Air Launch.

Selain itu, Indonesia dan Rusia sepakat untuk melanjutkan rencana kerja sama di bidang penelitian dan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai, khususnya di bidang pemanfaatan satelit navigasi Glonass. Kedua negara juga sepakat untuk terus berkonsultasi guna merumuskan langkah-langkah pelaksanaan kerja sama.

Sumber : Lapan

READ MORE - LAPAN Ikuti Sidang Komisi Bersama Ke-10 Indonesia-Rusia