Showing posts with label TNI. Show all posts
Showing posts with label TNI. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Ilustrasi KSAL Laksamana TNI Ade Supandi (kiri) (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Info Militer Terbaru - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Angkatan Laut Tiongkok Laksamana Wu Shengli di Markas Besar TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Begitu tiba di Cilangkap, Wu Shengli disambut Ade Supandi melalui upacara Jajar Kehormatan Milliter di pelataran Gedung Utama Mabes Angkatan Laut.

Selain sebagai kunjungan kehormatan ke Mabes AL, kunjungan Laksamana Wu ini adalah bagian dari rangkaian kunjungan yang dilaksanakan dalam rangka penganugerahan Bintang Kehormatan Jalasena Utama kepada Laksamana Wu Shengli yang disematkan oleh Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo hari ini di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Pemberian Tanda Kehormatan, sebagai penghargaan atas kerja sama dan hubungan baik antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok, khususnya untuk kemajuan dan peningkatan hubungan militer kedua negara.

Laksamana TNI Ade Supandi mengucapkan terima kasih kepada Angkatan Laut Tiongkok yang selama ini selalu aktif mengirimkan delegasinya pada berbagai kegiatan yang dihelat TNI AL dan mengharapkan kerja sama antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Tiongkok terus meningkat.

Laksamana Wu sendiri berterima kasih sebesar-besarnya atas sambutan hangat di Mabes AL, dan menyambut baik kerja sama yang sudah berjalan baik selama ini antara kedua angkatan di dua negara ini.
READ MORE - Panglima AL Tiongkok kunjungi Mabes TNI AL

Panglima TNI Inspeksi Kapal Perang


Info Militer Terbaru - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi dan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Hadiyan Suminta Atmadja melakukan inspeksi terhadap Kapal Perang Republik Indonesia, yaitu KRI Karang Pilang-981, KRI Karang Tekok-982 dan KRI Teluk Ratai-509 di Koarmatim Dermaga Ujung Surabaya.

Inspeksi yang dilakukan Panglima TNI adalah dalam rangka mengecek kesiapsiagaan seluruh alutsista dan personel TNI, untuk selalu siap dalam melaksanakan setiap kegiatan operasi yang akan digelar oleh TNI. "Rawatlah persenjataan kita dengan baik, sehingga siap operasional. Sehebat apapun kapal-kapal yang kita miliki, tetapi apabila kita tidak bisa merawatnya maka tidak siap operasional", tegas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Usai melakukan inspeksi KRI, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan pengarahan kepada 972 Prajurit TNI AL di Aula Koarmatim Surabaya, diantaranya mengatakan bahwa kepercayaan rakyat kepada TNI lambat laun semakin meningkat dan kepercayaan rakyat terhadap TNI pada tahun 2015 menempati urutan tertinggi dibanding instansi dan lembaga negara lainnya. Profesionalisme prajurit TNI itu telah meningkatkan kepercayaan rakyat Indonesia kepada TNI.

Oleh karena itu, Panglima TNI mengingatkan untuk menghindari tindakan yang menyakiti hati rakyat demi kepentingan pribadi. Panglima TNI mengaku telah berkomitmen dengan para Kepala Staf Angkatan untuk tidak melakukan pembelaan sedikit pun bagi prajurit yang melakukan pelanggaran tertentu, bahkan akan diberikan hukuman tambahan, pemecatan. Alasannya, Panglima TNI lebih mencintai prajuritnya yang berjumlah 400.000 lebih daripada orang perorang yang demi kepentingan pribadinya rela mengorbankan nama baik TNI.

"Yang sangat penting adalah TNI harus unggul, solid, kuat, baik Angkatan Darat, Laut, Udara dan Kepolisian. TNI dan Polri hanya dipisahkan karena reformasi tetapi kita harus kompak bersatu demi NKRI", tegas Panglima TNI.

Kabidpenum Puspen TNI
Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M
READ MORE - Panglima TNI Inspeksi Kapal Perang

Pemerintah Berencana Tambah Anggaran TNI

Pemerintah tetap bertekad mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang tangguh 


KCR 60M PAL produksi PT PAL Indonesia

Info Militer Terbaru - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan terus memperbesar anggaran sektor pertahanan. Pemerintah mengambil langkah tersebut sebagai persiapan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar.

Luhut memaparkan, dalam jangka pendek pemerintah menargetkan anggaran pertahanan meningkat 0,8 hingga satu persen setiap tahun.

"Ini (peningkatan anggaran) bagus untuk ke depan. Kalau Indonesia berkembang menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi dunia, pada saat yang sama kita sudah mempunyai TNI yang bagus," ucapnya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (11/11).

Meski alokasi anggaran pertahanan meningkat, Luhut berkata, pemerintah tetap bertekad mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang tangguh. Menurutnya, jika industri dalam negeri sudah mampu menyediakan pelbagai peralatan militer bagi TNI, Indonesia tidak akan lagi bergantung pada industri asing.

Pada tahun 2015, dana pertahanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai Rp 102 triliun. Sementara itu, sebelum rancangan APBN 2016 disetujui DPR, alokasi dana pertahanan turun menjadi Rp 96,7 triliun.

Di sisi lain, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Beleid itu mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan menjadi kuat, mandiri dan berdaya saing.

Industri pertahanan yang dimaksud undang-undang itu mencakup industri alat utama, komponen utama dan penunjang, perbekalan hingga industri bahan baku.

Untuk mewujudkan cita-cita industri pertahanan dalam negeri yang mandiri, beleid itu mengharuskan pemerintah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Dalam nomenklaturnya, komite itu diketuai oleh presiden. Sementara itu, Menteri Pertahanan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara masing-masing berfungsi sebagai ketua dan wakil ketua harian KKIP.

TNI diperbolehkan membeli persenjataan dari luar negeri, namun dengan tujuh syarat, antara lain industri dalam negeri tidak mampu memproduksi peralatan senjata itu, adanya alih teknologi, serta adanya imbal dagang dan kandungan lokal paling rendah 85 persen. (utd)
READ MORE - Pemerintah Berencana Tambah Anggaran TNI

Indonesia Targetkan Kirim 4.000 Pasukan Perdamaian PBB

Pada periode 2015-2019 


Anoa kendaraan tempur Kontingen Garuda [defense,pk]

Info Militer Terbaru - Sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa terbentuk pada 1945, upaya memelihara perdamaian dunia masih menjadi sorotan penting. Meningkatkan partisipasi dalam badan tersebut, Indonesia berkomitmen akan mengirimkan 4.000 personel penjaga perdamaian hingga 2019.

Menurut Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, Indonesia sebenarnya sudah mengirimkan sekitar 30 ribu pasukan perdamaian untuk misi PBB selama ini.

"Sejak perjuangan awal mula kemerdekaan, Indonesia selalu menjadi anggota aktif PBB, termasuk dalam upaya menjaga perdamaian. Sejak 1957, Indonesia sudah mengirimkan 30 ribu pasukan penjaga perdamaian untuk lebih dari 40 misi PBB," ujar Retno dalam pembukaan acara Peringatan Hari PBB ke-70 di Jakarta, Selasa (10/11).

Pada periode 2015-2019, Indonesia berkomitmen mengirimkan 4.000 personel penjaga perdamaian untuk misi perdamaian PBB.

Namun hingga kini, Indonesia baru mengirimkan sekitar 2.800 personel. "Kami yakin, pada 2019 sudah tercapai 4.000 personel, bahkan mungkin akan lebih," ucap Retno.

Secara keseluruhan, kini ada 125 ribu personel dari seluruh pelosok dunia yang mengemban tugas di 16 misi perdamaian PBB.

Indonesia masuk ke dalam daftar 12 besar negara penyumbang pasukan penjaga perdamaian PBB terbesar dunia, bersanding dengan Perancis dan Amerika Serikat.

Selain upaya pemeliharaan perdamaian, Indonesia, menurut Retno, aktif pula di dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), dan HAM.

"Sejak 2011, kami aktif membantu menangani tingkat kemiskinan ekstrem di seluruh pelosok dunia," tutur Retno. "Kami turut membantu berbagai upaya kemanusiaan bekerja sama dengan badan-badan HAM PBB, yaitu masalah perubahan iklim, keberagaman, konflik bersenjata, radikalisme, hingga migrasi ireguler." (stu)
READ MORE - Indonesia Targetkan Kirim 4.000 Pasukan Perdamaian PBB

Thursday, 12 November 2015

TNI Tak Ambil Pusing Kisruh China-AS di Laut China Selatan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvXxkxtNQ8WrMt-V-SrAKGDJCAaOdV00WudeQPGjjHr-TiyW02yV5MU-qfG_MCEXJRMkpPujdLWpC9w5kWpDsQLSb5IIijVWdJtvor1EPcpWiu46RDbT27kVaF1b6mrPotEP1XuFN90XxL/s1600/kripr1v4t33r.jpg
Satgas TNI AL [pr1v4t33r] ☆

Info Militer Terbaru - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan, Indonesia tidak terdampak apapun dari hubungan pemerintah China dan Amerika Serikat yang disebut-sebut sedang memanas di Laut China Selatan.

"Tidak ada hubungannya. Yang memanas kan China dan Amerika Serikat, ngapain kita pusing," ujar Gatot di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, kemarin.

Gatot menyatakan, seluruh pengerahan alutsista TNI ke wilayah perbatasan Indonesia bukanlah bagian dari upaya mencegah akses hubungan China dan AS di Laut China Selatan. Dia mengatakan, TNI secara rutin memang melakukan patroli di perbatasan.

Pengiriman tujuh kapal TNI Angkatan Laut ke wilayah Natuna, Kepulauan Riau pada pekan lalu, menurut Gatot, juga bagian dari operasi rutin itu.

"TNI setiap saat mengirimkan kapalnya untuk mengawasi zona ekonomi eksklusif," katanya.

Pengiriman tujuh Kapal Republik Indonesia ke Natuna pada pekan lalu ditujukan untuk menjaga kawasan tersebut dari aksi pencurian ikan. Empat dari kapal itu akan ditempatkan di Pangkalan Penjaga Laut dan Pantai Tanjung Uban. Sementara sisanya dioperasikan ke perairan Natuna.

Akhir Oktober silam, AS mengerahkan kapal perang mereka ke kawasan sengketa teritorial kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Kapal perusak milik Angkatan Laut AS, yaitu USS Lassen, terus berlayar hingga hanya berjarak 12 mil laut ke pulau buatan yang dibangun China pada tahun 2014 itu.

Pekan lalu Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter, mengunjungi kapal induk USS Theodore Roosevelt yang sedang beroperasi di Laut China Selatan. Saat itu dia mengatakan dengan terbuka, bahwa pemerintah AS menentang proyek reklamasi China di kepulauan Spratly.

Carter pun menyatakan, AS tidak akan menghentikan operasi laut mereka di kawasan Laut China Selatan. Mereka menganggap, kawasan itu merupakan perairan internasional sehingga negara manapun dapat berlayar di sana.
READ MORE - TNI Tak Ambil Pusing Kisruh China-AS di Laut China Selatan

Kenapa Lanud Supadio Diperkuat Senjata Canggih?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnfU8WXIGvy7Zj5vbxJK5Wmv5TctCvIB_zSDdDSP9jJlWgqHApDP4fokjcI6nzQXPonV8IFR_LJKKTzZHzDYUXJ-3HzK60z6tWTj7S_YyFWgZkccKBn2sWRx7jIcLSjUqKDvD7S1d0eYM/s400/senjata-penangkis-paskhas_20151110_221126.jpg

Lanud Supadio kemungkinan akan ada penambahan skadron udara lagi sehingga akan menjadi pangkalan induk (TribunNews) ☆

Info Militer Terbaru - Komandan Detasemen Hanud 473 Paskhas Pontianak, Mayor Pas Anang Baskoro mengatakan senjata penangkis serangan udara (PSU) Oerlikon Skyshield baru memperkuat tiga pangkalan udara di Indonesia.

Ketiganya adalah Detasemen Hanud 471 Paskhas yang berkedudukan di Halim Perdana Kusuma, Detasemen Hanud 472 Paskhas di Makassar dan Detasemen Hanud 473 Paskhas yang berada di Pontianak.

"Alutsista ini sudah lama berada di jakarta, karena terdapat beberapa agenda diantarnya adalah peringatan HUT TNI beberapa waktu lalu di Cilegon dan kelengkapan adiminsitrasinya sehingga proses pengirimanya ke Pontianak ditunda dan baru sekarang bisa dikirim," katanya, Selasa (10/11/2015).

Sekitar pukul 10.40 WIB, senjata canggih buatan swiss tersebut tiba di Pelabuhan Dwikora Pontianak. Menurutnya alasan kenapa pertimbangan dipilihnya Kalbar sebagai lokasi diperkuat oleh Oerlikon Skyshield karena wilayah Kalbar merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan beberapa negara ASEAN.

"Selain itu, Lanud Supadio memiliki skadron tempur taktis Hawk 100/20, dan skadron pesawat tanpa awak, ke depan juga barangkali akan kembali ada penambahan skadron udara lagi, ditambah lagi adanya peralihan Lanud dari tipe B menjadi tipe A dan kelak akan menjadi pangkalan induk maka dipandang perlu adanya alutsisa seperti Oerlikon Skyshield untu melindungi pangkalan milter dari serangan udara," katanya.

Anang menambahkan, jika sewaktu-waktu terjadi pelanggaran wilayah udara oleh pihak tertentu akan dilakukan tempur sergap. Paskhas merupakan pertahanan terakhir yang akan melindungi pangkalan dari serangan.

"Jika semuanya sistem keamanan mampu ditembus dan jelas ingin menyerang, kami adalah pertahanan udara terakhir yang melindungi pangkalan militer berserta alutsistanya," ujarnya.
READ MORE - Kenapa Lanud Supadio Diperkuat Senjata Canggih?

Latihan Bersama Indonesia-Australia New Horizon 2015

Waasops KSAL buka latihan bersama Indonesia-Australia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZhulgfDAUq9JeylFdg9J6Mc9NmpsWkwexKDpaMTDuWaUOJKFKZ4ZMiClVl-eAyPNIBSW2iIB185uv-gk99ksTC7Kr79SuA78-jqIvOnV2CDM9KC9yMEj2ZZLqdmTcAOEP7o8R8LizX3I/s1600/2058574_20141002031254supermarine.jpg
KRI Usman Harun 359 [supermarine] ☆

Info Militer Terbaru - Wakil Asisten Operasi KSAL Laksamana Pertama TNI I G. Putu W. yang mewakili Asops KSAL Laksamana Muda TNI Ari Soedewo telah membuka secara resmi Latihan Bersama Indonesia-Australia bertajuk "New Horizon 2015" di Gedung Candrasa Mako Koarmatim Ujung, Surabaya.

Kadispen Koarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman di Surabaya, Selasa, melaporkan latihan bersama antara TNI Angkatan Laut dengan Royal Australian Navy (RAN) itu dibuka pada Senin (9/11) dengan ditandai penyematan tanda peserta latihan oleh Waasops KSAL yang didampingi Atase Pertahanan Australia di Jakarta Capt. (N) Nick Hart.

Sebelumnya, laporan kesiapan latma dilakukan oleh Komandan Satgas Latma New Horizon 2015 Kolonel Laut (P) Didong Rio Duta yang sehari-hari menjabat Komandan KRI Usman Harun-359 yang merupakan salah satu unsur pelaku latihan.

Latihan Bersama antara dua angkatan laut negara yang bertetangga tersebut memiliki makna penting, tidak hanya bertujuan meningkatkan profesionalisme untuk kedua angkatan laut, tapi juga untuk meningkatkan hubungan bilateral dan memperkuat kerjasama antara TNI AL dan RAN.

Tujuan lain yang ingin dicapai dari latihan bersama tersebut adalah meningkatnya hubungan dan pemahaman melalui pelatihan di pangkalan dan interaksi sosial, meningkatnya kemampuan tempur, saling pengertian dan kerja sama melalui program latihan terstruktur di pangalan serta meningkatknya kemampuan dalam keterampilan kepelautan, keterampilan perang, standar profesional, keamanan dan komunikasi.

Dengan dilaksanakannya latihan bersama, diharapkan dapat melatih kemampuan dan keahlian personel kedua angkatan laut serta meningkatnya rasa persaudaraan sehingga bisa bersama-sama menjaga stabilitas keamanan kawasan maritim antar kedua negara.

Dalam amanat yang dibacakan Waasops, Asops KSAL mengatakan Latihan Bersama New Horizon dilaksanakan sejak tahun 1990 dan dilakukan setiap dua tahun.

Pada tahun 2015, Latihan Bersama New Horison akan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu harbour phase, sea phase dan post exercise phase.

Pada sea phase, akan dilaksanakan beberapa serial latihan, diantaranya peperangan bahaya umum, peperangan anti udara, peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti kapal selam, manuver taktis dan latihan penembakan.

Pembukaan Latihan Bersama New Horizon 2015, dihadiri Kasarmatim Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, para Komandan KRI jajaran Koarmatim yang berada di Pangkalan Surabaya serta para pelaku latihan dari TNI AL dan RAN.

 PPRC 2015 

Sementara itu, Pangdiv 2 Kostrad Mayjen TNI Ganip Warsito melepas Unsur PPRC yang tergabung dalam Satgasla, KRI Makassar-590, KRI Sultan Hasanuddin-366 dan KRI Tombak-629, di Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya (10/11).

Tiga Unsur PPRC tersebut selanjutnya akan menuju daerah operasi untuk bergabung dengan Unsur Satgasla lainnya yang lebih dahulu berada di Daerah Operasi untuk melaksanakan operasi penyekatan awal di Perairan Morotai, Maluku Utara.

KRI Makassar 590, kapal perang jenis LPD yang masuk jajaran Satfib Koarmatim dengan Komandan KRI, Letkol Laut (P) Elmundo. S. Sianipar akan dijadikan Markas Komandan Satgasla PPRC TNI 2015 Laksamana Pertama TNI ING. Ariawan, S.E., M.M. dalam mengendalikan unsur-unsur Satgasla yang terdiri dari beberapa KRI.
READ MORE - Latihan Bersama Indonesia-Australia New Horizon 2015

Wednesday, 11 November 2015

Kajian sistem datalink nasional dirumuskan

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, Saab

SAAB Swedia menawarkan kepada TNI AL pendidikan beasiswa yang akan berfokus pada Triple Helix ☆

Info Militer Terbaru - Interoperabilitas datalink dari sistem antar matra TNI, sistem kesenjataan, dan bahkan pabrikan persenjataan dan penginderaan serta radar di tubuh TNI diakui masih menjadi hal yang belum paripurna dientaskan.

"Sebagai institusi keilmuan, kami mencoba memberi masukan kepada TNI dan Kementerian Pertahanan dengan basis implementasi dari konsep Triple Helix sebagaimana yang kami saksikan dalam kunjungan kerja kami ke Swedia beberapa bulan lalu," kata Wakil Rektor Universitas Pertahanan, Marsekal Muda TNI Suparman, di Sentul, Jawa Barat, Selasa.

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, Saab, yang berkantor pusat di Stockholm.

Kerja sama itu meliputi pengembangan dan inovasi sistem, beasiswa, dan lain-lain, yang nota kesepahamannya telah ditandatangani di Stockholm, tahun lalu.

Tahun depan, Universitas Pertahanan akan mendirikan Program Studi Teknologi dan Industri Pertahanan. Kepaduan antara pemerintah, institusi pendidikan tinggi dan riset, serta industri dalam berbagai aspek masih jadi masalah di Indonesia.

Sementara di Swedia, hal ini telah lama selesai, dan kondang dikenal dengan nama konsep Triple Helix, yang menjadi DNA kemajuan industri, ekonomi, dan inovasi negara di Semenanjung Skandinavia itu.

Bukan cuma institusi dan perusahaan pemerintahan Kerajaan Swedia yang dilibatkan dalam penerapan Triple Helix itu, karena banyak swasta besar dan kecil bersama-sama bekerja sesuai keperluan nasional mereka.

Contoh interoperabilitas sistem datalink pada aspek militer itu diberi Suparman. Menurut Suparman yang bergelut di bidang radar dan penginderaan semasa dinas aktif di lingkungan TNI AU, pengintegrasian sistem radar TNI AU pernah menghadapi masalah.

Indonesia pada masa lalu mengoperasikan radar di satuan-satuan radar TNI AU buatan blok Timur, lalu membeli sistem dari Inggris (Plessey Company plc), dan belakangan Prancis (Thomson CSF).

"Waktu kami mengadakan radar-radar baru, mengintegrasikan data dari sistem-sistem dan pabrikan berbeda ini masalah besar. Sampai kami harus memberi mereka peringatan kepada mereka (pabrikan) agar ini bisa dientaskan lebih dulu," kata Suparman.

Bahkan, dalam latihan gabungan di tingkat TNI, pernah dilakukan latihan gabungan pendahuluan khusus dari sistem senjata dan data ketiga matra TNI untuk mengupas dan memuluskan interoperabilitas sistem-sistem ini.

Setelah latihan pendahuluan interoperabilitas ini selesai dan dievaluasi bersama barulah latihan gabungan TNI digelar.

Dari fakta ini, kata dia, interoperabilitas sistem data menjadi hal yang mendesak untuk diwujudkan sesuai keperluan pertahanan Indonesia. 
READ MORE - Kajian sistem datalink nasional dirumuskan

Menhan akan Ajukan Tambahan Alutsista

Ada yang perlu ditambah, yang sudah ketinggalan akan kita perbarui


Anoa produksi Pindad akan digunakan oleh Korpaskhas [paskhas] ☆

Info Militer Terbaru - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan akan mengajukan penambahan alat utama persenjataan (alutsista). Penambahan itu untuk menunjang sistem pertahanan negara.

"Ada yang perlu ditambah, yang sudah ketinggalan akan kita perbarui, segera, ya tahun depan," kata Ryamizard saat berkunjung ke Lanud Sulaiman di Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung, Senin (9/11) kemarin.

Saat ini diperlukan penambahan anggaran untuk alutsista di TNI AD, AU dan AL. Tetapi semua itu menurut Ryamizard, tergantung dalam pembahasan anggaran nanti dengan DPR.

Sebenarnya, ia menuturkan, anggaran untuk alutsista sudah ada. Namun, jumlahnya tidak terlalu besar. "Karena pasukan-pasukan kita di pasukan khusus, seperti di Kopassus, Marinir, dan di Korpaskhas ini dananya tidak besar," ujar dia.

Untuk keberadaan alutsista di Korpaskhas TNI AU ini, menurut dia sudah ideal. Namun, perlu ada pembahasan lagi terkait jumlahnya. Sedangkan untuk alutsista pesawat tempur yang bisa digunakan di atas 30 tahun itu tergantung dari perawatan.

Namun, kalau sudah tidak layak, tidak bisa untuk diterbangkan. Kata dia, jika jam terbang banyak dan perawatannya bagus, maka alutsista tersebut pun masih bisa digunakan. Terlebih, ia mengakui, sebetulnya jam terbang pasukan khusus negara ini memang tergolong banyak.

"Jam terbang kita ini masih banyak," kata dia. "Itu tergantung dari perawatan. Di negara lain, seperti Singapura, alutsista yang lama pun masih dipakai karena perawatannya juga bagus.
READ MORE - Menhan akan Ajukan Tambahan Alutsista

Kronologi TNI AU Paksa Pesawat Asing Mendarat di Tarakan

Nomor perizinan ternyata tidak termasuk melintasi wilayah udara FIR Indonesia 

Lanud Tarakan ☆

Info Militer Terbaru - TNI Angkatan Udara berhasil menyergap dan memaksa pesawat asing yang terbang tanpa izin di wilayah Indonesia. Pesawat itu dikendalikan oleh pilot bernama Letkol James Patrick Murphy yang merupakan prajurit US Navy (resauorch). Bagaimana kronologinya?

Danlanud Tarakan Letkol Pnb Tiopan Hutapea menjelaskan, pesawat asing dengan nomor N-90676 itu sudah terdeteksi melintasi langit Kalimantan Utara pada Senin (9/11/2015) sekitar pukul 12.17 WIB. Penerbangan itu tidak tercatat rencana penerbangan Flight Cleareance Information System (FCIS) sehingga dikategorikan penerbangan gelap dan melanggar keamanan nasional Indonesia.

"Melalui komunikasi radio, TNI Angkatan Udara sudah berupaya meminta agar pesawat mendarat di Tarakan, tetapi pilot pesawat Cirrus Fixed Wing Single masih tetap membandel dan tidak mau mendaratkan pesawat di Lanud Tarakan," kata Tiopan dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom Senin (9/11/2015).

Karena itu, lanjut Tiopan, dua pesawat buru sergap Sukhoi yang selalu siaga di Lanud Hasanudin, Makassar, langsung diberi komando untuk melakukan pencegatan. Pesawat asing tersebut dipaksa turun (forced down) di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada pukul 14.25 Wita.

"Pesawat Pilatus N-90676 yang diawaki seorang penerbang berkebangsaan AS seharusnya hanya boleh melintasi wilayah udara flight information region (FIR) Filipina dan Malaysia, tetapi dalam kenyataannya melakukan pelanggaran dengan memotong jalan melintasi wilayah udara FIR Indonesia," ujarnya.

Menurut keterangan pilot pesawat Cirrus Fixed Wing Single, kata Tiopan, misi penerbangan itu adalah Private Flight Charter. Pesawat tersebut berkapasitas maksimal 1 penumpang.

"Pesawat berangkat tanggal 08 November dari Honolulu (Hawai)-Tarawah (Kiribara Island), selanjutnya pada tanggal 09 November melanjutkan perjalanan dari Tarawah (Kiribata Island)-YAT (Micronesia Island) dan mendarat di Bandara Changi Singapura lewat wilayah udara Filipina Mindanao dan Serawak Malaysia," jelasnya.

Namun selepas Wilayah Udara Mindanao Filipina, pilot pesawat memotong wilayah udara Ambalat Kalimantan Utara dan hendak melintasi Kalimantan menuju Serawak dan Singapura. Pilot mengaku memasuki wilayah udara Indonesia untuk menghindari cuaca buruk. Sementara agen dari Honolulu Jet Company yang memberikan nomor perizinan ternyata tidak termasuk melintasi wilayah udara FIR Indonesia, tetapi hanya izin melintasi FIR Filipina, Singapura, dan Malaysia.

Perintah penyergapan diinstruksikan langsung oleh Panglima Kohanudnas Marsekal Muda Abdul Muis berdasarkan laporan bahwa pesawat asing ini tidak mematuhi perintah mendarat lewat komunikasi dengan air traffic controller (ATC).

Tiopan menegaskan, dua pesawat Sukhoi yang dikerahkan berhasil menyergap dan memaksa pesawat tersebut mendarat tanpa perlawanan di Bandara Juwata Tarakan. Setelah mendarat, anggota Lanud Tarakan dengan bersenjatakan senapan segera membawa pilot untuk diperiksa. (idh/rvk)

 TNI AU Masih Periksa Pilot Militer AS yang Masuki Kawasan Udara RI 

TNI Angkatan Udara masih melakukan pemeriksaan terhadap pilot pesawat kecil jenis Propeler First Engine Cessna nomor lambung N96706, dengan pilot Letkol James Patrick Murphy (US Navy-penerbang AL Amerika Serikat).

"Pilot diamankan di Pangkalan Udara Tarakan, dan tetap diperlakukan dengan baik, serta hari ini pemeriksaan masih dilanjutkan," kata Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf Andi Gunawan, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (10/11).

Pihak perusahaan penerbangan penyewaan Aircraft Guarantee yang memiliki pesawat itu, enggan mengkonfirmasi terkait izin rute penerbangan dari Filipina ke Singapura dengan menggunakan rute darurat.

"Pilot menghindari cuaca buruk sebagaimana yang diakui oleh pilot tersebut saat pemeriksaan tadi sore," kata Andi.

Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat dan perusahaan penerbangan Aircraft Guarantee belum bisa mengkonfirmasi masalah pelanggaran rute penerbangan dari Filipina ke Bandara Selectar Singapura, sehingga pesawat itu keluar dari rute yang seharusnya.

Terkait status pilot sebagai anggota militer Amerika Serikat masih menunggu proses pemeriksaan security clearance yang ditangani Mabes TNI. Hasilnya akan disampaikan ke Mabes TNI AU diteruskan kepada Pangkalan TNI AU Tarakan. Proses izin exit permit masih diurus oleh Kedubes AS ke Kementerian Luar Negeri RI, dan hasilnya masih menunggu.

"Semalam pilot Murphy, setelah menjalani pemeriksaan BO Air Nav Bandara Juwata Tarakan sampai pukul 19.45 WITA dikawal oleh pihak provost TNI AU ke tempat istirahat sementara di mess TNI AU Tarakan dengan pengawasan ketat oleh TNI," ujar Andi. 

detik | Beritasatu  
READ MORE - Kronologi TNI AU Paksa Pesawat Asing Mendarat di Tarakan

Saturday, 7 November 2015

Indonesia Belum Mengajukan Pembelian Su-35

su-35






Info Militer Terbaru - Rusia belum menerima permintaan resmi dari Indonesia mengenai pembelian pesawat tempur generasi 4++ Su-35 dan kendaraan infanteri BMP-3F. Keputusan mengenai pembelian akan diumumkan segera setelah penetapan APBN.

Demikian hal tersebut dikabarkan Kepala Hubungan Eksternal Rosoboroneksport Viktor Brakunov selama pameran Defense & Security 2015 kepada RIA Novosti, Kamis (5/11).

“Militer Indonesia tertarik memperoleh senjata baru dan peralatan militer buatan Rusia, termasuk pesawat tempur dan kendaraan infanteri. Namun, sejauh ini kami belum menerima permintaan resmi dari pihak Indonesia karena saat ini sedang ditetapkan anggaran negara untuk lima tahun ke depan. Bila hal tersebut telah ditetapkan dan permintaan disetujui, akan segera dilaksanakan negosiasi yang substansial,” kata Brakunov.

Pada saat yang sama, juru bicara sekaligus perwakilan senior dari AU Indonesia mengatakan selama pameran dirgantara MAKS-2015 yang diselenggarakan pada bulan Agustus lalu di Zhukovsky, bahwa pembelian Su-35 untuk mendukung Angkatan Udara negara adalah prioritas.

Pada bulan September lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli satu skuadron Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika yang usianya sudah mencapai empat dekade.

Pada bulan Maret 2015, Dirjen Rosoboroneskport Anatoly Isaikin mengabarkan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan penandatanganan kontrak penyediaan pasokan baru kendaraan infanteri BMP-3F yang sekarang berhasil digunakan dalam Korps Marinir Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Pasokan pertama dari 17 kendaraan dikirimkan dalam rangka perjanjian pinjaman Indonesia senilai satu miliar dolar AS dari Rusia, yang ditandatangani pada bulan September 2007 silam ketika Presiden Vladimir Putin datang berkunjung ke Jakarta.
READ MORE - Indonesia Belum Mengajukan Pembelian Su-35

Wednesday, 8 July 2015

Indonesia Ingin A400 atau An-70 Gantikan Hercules


Info Militer Terbaru-Angkatan Udara Indonesia berencana mengganti pesawat angkut berat Hercules C-130 yang sudah tua. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan pihaknya telah melakukan kajian mengenai calon pengganti Hercules itu sudah dikirim ke Kementerian Pertahanan.

“Sudah kami kirim jauh-jauh hari sebelum kecelakaan Hercules A-1310 di Medan pekan lalu,” kata Agus.

Dalam kajian yang dikirim ke Kementerian Pertahanan, TNI AU mengincar dua jenis pesawat angkut kelas berat, yakni Airbus A400M Atlas dan Antonov An-70. Soal harga masing-masing merupakan ranah Kementerian Pertahanan.

A400 merupakan pesawat angkut berat buatan Airbus. Pesawat ini telah dibeli beberapa negara antara lain Spanyol, Inggris, Turki, dan Malaysia. Namun pada Mei lalu pesawat ini mengalami masalah setelah salah satu pesawat yang tengah diuji jatuh dan terbakar di Sevilla Spanyol. Pesawat ini juga didera dengan berbagai persoalan teknis termasuk keterlambatan pengiriman dan mundurnya pencapaian kemampuan operasional pesawat.

Sementara An-70 adalah pesawatadalah pesawat empat mesin yang dikembangkan Ukraina dan Rusia. Dengan kargo berukuran 22,4 m panjang, 4,80 m lebar, dan 4,40 m. Pesawat ini, dikombinasikan dengan kemampuan daya rentang 6. 598 km (dengan 20.000 kg payload) dan muatan maksimum 47.000 kg, menempatkan An-70 dalam kategori yang sama dengan A400M Atlas dari Airbus.

Tetapi pesawat ini juga mengalami masalah dalam pengembangan karena konflik Ukraina- Rusia yang menyebabkan Moskow kemudian menarik diri dari program tersebut. Dengan program yang dipimpin oleh Ukraina tetapi sebagian besar dibiayai oleh Rusia. Proyek jadi kacau balau karena konflik di negara tersebut. Terlebih melibatkan Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia telah menghapus Antonov An-70 pesawat angkut militer, yang dikembangkan bersama oleh Rusia dan Ukraina, dari program persenjataan nasional, kata surat kabar Izvestia sebagaimana dikutip Ria Novosti Senin 2 Maret 2015 lalu.

Sedangkan Ukraina pada Januari 2015 menyetujui produksi pesawat ini dan akan memperkenalkan ke layanan angkatan bersenjatanya. Serial produksi sekarang akan mulai, meskipun perusahaan tidak menentukan jadwal pasti

Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda M. Syafii mengatakan penggantian pesawat Hercules masuk program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI bertajuk “Minimum Essential Force” (MEF). “Seharusnya masuk dalam rencana strategis pengadaan 2015-2019,” kata Syafii sebagaimana dikutip Tempo.

Marsekal Agus Supriatna berharap pemerintah memprioritaskan rencana pembelian pesawat angkut berat tersebut, terlebih setelah jatuhnya Hercules di Medan. Kecelakaan pesawat buatan 1964 itu merenggut 33 nyawa personel TNI AU dan enam anggota TNI AD serta 83 warga sipil yang ikut menumpang.
READ MORE - Indonesia Ingin A400 atau An-70 Gantikan Hercules

TNI Komitmen Datangkan Pesawat Baru


Info Militer Terbaru-Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkomitmen mendatangkan pesawat udara baru, bukan hibah atau bekas, ketika pengadaan yang akan datang.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Komisi I DPR RI, untuk pesawat udara harus baru. Pengadaan yang akan datang harus baru, kecuali yang sudah terlanjur (proses pengadaannya),” kata Gatot di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Jakarta, Rabu (1/7) malam.

Hal itu dikatakan Gatot usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI yang dilaksanakan oleh Komisi I DPR RI.

Dia menjelaskan pesawat udara berbeda dengan alutsista yang berada di darat yang bisa diperbaiki di tempat apabila ditemukan kerusakan.

Namun, menurut dia, apabila pesawat mogok atau rusak ketika terbang maka akan hancur seperti beberapa kejadian kecelakaan pesawat milik TNI.

“Apabila pesawat mogok maka hancur sehingga komitmen saya dan Komisi I DPR RI untuk pesawat udara harus yang baru,” katanya.

Gatot menjelaskan Indonesia bukan negara kaya, namun semua alutsista yang sudah usang harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru agar operasional TNI bisa berjalan.

Dia mengatakan pembelian alutsista dari luar negeri harus memiliki transfer teknologi sehingga lambat laun Indonesia bisa memproduksi secara mandiri dan tidak tergantung dengan negara lain.

“Alutsista yang dimiliki Indonesia ada yang lama dan baru. Yang lama masih kami gunakan namun harus dipelihara,” katanya.

Dia menjelaskan kategori pesawat ada dua yaitu layak terbang atau tidak layak. Gatot mencontohkan pesawat Hercules produksi tahun 1964 masih digunakan Singapura dan Bangladesh, namun dilakukan sistem pemeliharaan secara berkesinambungan.

“Sistem pemeliharaannya setiap 50 jam terbang ada opname dan pengecekan lalu per tiga tahun dan per enam tahun dilakukan cek,” katanya.

Saat ini, menurut dia, ada 12 pesawat hercules tahun 1964 dan 12 dari produksi tahun 1975 ke atas. Dia mengatakan tidak mungkin menghentikan operasi pesawat Hercules tersebut meskipun dengan alasan pesawat sudah uzur.

“Apabila itu (pesawat Hercules) lalu kita mau menggunakan apa,” katanya.

Sebelumnya Komisi I DPR RI memberikan persetujuan pengangkatan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI, setelah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan, kata Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Rabu (1/7).

Sumber: Antara
READ MORE - TNI Komitmen Datangkan Pesawat Baru

Tuesday, 7 July 2015

Pembelian Alutsista Strategis TNI Tak Boleh Dipublikasikan

jendral moeldoko

Info Militer Terbaru-Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko mengatakan, pembelian alat-alat tempur utama tidak dapat dipublikasikan ke masyarakat. Meski demikian ia menjamin pengadaan alutsista TNI tersebut tetap dilaksanakan melalui mekanisme lelang.

“Ada hal-hal yang memang dibuka melalui elektronik, tapi khusus alutsista tidak boleh. Yang jelas, semua proses berjalan sesuai aturan perpres,” ujar Moeldoko saat dijumpai di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (6/7).

Jenderal bintang empat itu memaparkan, institusinya tidak dapat membeberkan jenis dan jumlahnya alutsista yang dibeli setiap tahunnya. Ia beralasan, TNI menerapkan kebijakan tersebut atas dasar asas kerahasiaan.

Pengadaan barang dan jasa di lingkungan institusi negara diatur pada Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. Sekitar empat bulan setelah dilantik menjadi presiden, Joko Widodo mengeluarkan perubahan keempat perpres tersebut.

Berdasarkan aturan itu, Moeldoko berkata TNI tidak dapat menentukan sendiri pabrikan yang akan menyediakan alutsista untuk institusinya. “Tidak boleh tunjuk kanan-kiri, semua harus melalui tender terbuka,” ucapnya.

Sementara itu anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan, selama ini alokasi anggaran untuk pembelian dan perawatan alat tempur utama TNI hanyalah 30 persen dari total anggaran pertahanan nasional. Rendahnya alokasi dana tersebut, menurutnya, memaksa TNI membeli alutsista bekas ataupun menanti hibah dari negara lain.

Presiden Joko Widodo pekan lalu telah memerintahkan Moeldoko dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk merombak manajemen alutsista secara mendasar. Perintah ini keluar setelah pesawat Hercules C-130 yang dioperasikan Skuadron Udara 32 jatuh di Medan.

Tak melulu membeli alutsista dari pabrikan luar negeri, Jokowi mendesak dua petinggi sektor pertahanan itu untuk ikut serta mengembangkan industri pertahanan dalam negeri dalam rangka memodernisasi alutsista TNI.

Sebagai panglima tertinggi TNI, Jokowi mendesak zero accident di lingkungan TNI. Ia berkata, jatuhnya Hercules C-130 di Medan tidak boleh terulang kembali.

Sumber: CNN Indonesia
READ MORE - Pembelian Alutsista Strategis TNI Tak Boleh Dipublikasikan

Thursday, 2 July 2015

Gatot Nurmantyo: AL dan AU Jadi Fokus Pembangunan TNI

Jenderal Gatot Nurmantyo (Liputan6.com)
Jenderal Gatot Nurmantyo (Liputan6.com)

Info Militer Terbaru-Calon Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmatyo menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Ia mengatakan, untuk mendukung cita-cita pemerintah tersebut maka fokus pembangunan TNI ke depan harus berorientasi pada kekuatan laut dan udara.

“Tidak ada alternatif lain kecuali fokus membangun kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara secara serentak dan sesegera mungkin, agar mampu memantau dan mengawal serta nusantara dengan memiliki keunggulan udara dan laut,” kata Gatot, saat menjalani fit and proper test di Komisi I DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2015).

Sebagai negara kepulauan terbesar yang terdapat di garis ekuator, kata Gatot, hampir sebagian besar wilayah Indonesia merupakan kawasan perairan. Selain itu, Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yang mencapai 95.181 kilometer.

“Maka, Indonesia memerlukan angkatan bersenjata yang mampu memantau setiap sudut penjuru nusantara untuk merespon setiap gejolak yang muncul dengan cepat, serta mampu menghilangkan ancaman yang ada di Tanah Air,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagai salah satu negara yang memiliki kekuatan militer, pembangunan kekuatan harus dilakukan secara konsisten. Meski kondisi ekonomi suatu negara terpuruk, pembangunan di sektor militer tidak boleh berhenti.

Sumber: Kompas.com
READ MORE - Gatot Nurmantyo: AL dan AU Jadi Fokus Pembangunan TNI

Thursday, 25 June 2015

Kunjungan KASAL Indonesia Ke Swedia Naval Base

Delegasi Indonesia dan Swedia di depan Kapal Corvette Visby Class (Saab)
Delegasi Indonesia dan Swedia di depan Kapal Corvette Visby Class (Saab)

Info Militer Terbaru-Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Ade Supandi, beberapa hari yang lalu mengunjungi markas Angkatan Bersenjata Angkatan Laut Swedia di Karlskrona di bagian selatan Swedia, pada tanggal 8-9 Juni 2015. Kedatangannya bersama Tim TNI AL disambut Kepala Angkatan Laut Kerajaan Swedia, Laksamana Jan Thörnqvist. 

Kunjungan resmi tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas dan mempelajari kapal dengan teknologi berbahan komposit yang saat ini digunakan oleh angkatan laut Kerajaan Swedia. Kunjungan ini dilakukan di kapal siluman andalan Swedia, Visby Class dan kapal pemburu ranjau angkatan laut Swedia. Selain itu, Kedua Kepala Angkatan Laut juga mengunjungi pusat peperangan angkatan laut (Naval Warfare Centre) dengan simulator dan peralatan pelatihan yang terdapat disana.

Kapal pemburu ranjau Landsort / Koster Class (amekiel)
 Kapal pemburu ranjau Landsort / Koster Class (amekiel)

Kepala Saab Indonesia, Peter Carlqvist bersama dengan Direktur Senior, Kepala Sistem Tempur Angkatan Laut Saab, Stefan Hedenstedt, dalam kesempatan itu juga mempresentasikan portofolio Saab, kemampuan sistem Saab Kockums dalam menghancurkan ranjau, kapal dengan teknologi bahan komposit dan teknologi siluman. Saab juga menerangkan kepada rombongan, perihal kerjasama dengan Indonesia (PT Lundin) untuk menghadirkan kapal cepat siluman (Trimaran) sebagai solusi maritim. 

Laksamana Supandi dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Kepala Penganggaran, Laksamana Agung Pramono dan Kepala Operasi, Laksamana Arie Henrycus Sembiring. Dan turut hadir bersama mereka, Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Mr. Dewa Made Juniarta Sastrawa dan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ibu Johanna Brismar Skoog. (SaabGroup)
READ MORE - Kunjungan KASAL Indonesia Ke Swedia Naval Base

Friday, 19 June 2015

Su-35 Pastikan Ikut Kompetisi Pengadaan Jet Tempur Indonesia

Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35

Info Militer Terbaru-Rusia menyatakan akan membawa jet tempur Sukhoi-35 dalam kontes penawaran di Indonesia yang tengah mencari jet tempur multirole untuk menggantikan F-5 yang sudah tua.

Sergei Kornev, kepala ekspotir senjata Rusia Rosoboronexport  Kamis 18 Juni 2015 sebagaimana dilansir TASS mengatakan bahwa dia yakin Su-35 akan mendapat perhatian di Indonesia.

“Kami melihat ke depan untuk kontes penawaran ini dan kami akan mengambil bagian di dalamnya,” katanya kepada wartawan di sela-sela acara kedirgantaraan tahunan di Le Bourget. Dia juga menambahkan pasar untuk Su-35 akan luas mengingat kemampuan pesawat generasi 4++ ini.
READ MORE - Su-35 Pastikan Ikut Kompetisi Pengadaan Jet Tempur Indonesia

Militer dan Alutsista Indonesia Peringkat 12 Besar Dunia

TNI
TNI

Info Militer Terbaru-Militer dan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) Indonesia dikabarkan sudah mencapai peringkat 12 terbesar di dunia. Padahal tahun lalu, Indonesia masih menempati posisi ke 19 dunia.

Demikian disampikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat berbincang dengan wartawan, Kamis (18/6/2015). Diungkapkan Ryamizard peringkat itu berdasarkan penilaian lembaga internasional.

“Bulan April lalu, berdasarkan hasil penilaian lembaga internasional yang kredibel, Indonesia sudah berada di posisi 12 alutsista terbesar di dunia. Kedepan kita harus masuk 10 besar,” ujarnya.

Untuk itu, kata mantan KSAD ini, pemerintah akan terus mengajak semua pihak, termasuk BUMN dan perusahaan swasta dalam negeri yang begerak di persenjataan guna sama-sama meningkatkan kemampuan memproduksi alutsista sendiri.

“Hal ini dilakukan agar alutsista Indonesia tidak lagi bergantung pada produk luar negeri. Kita harus produksi di dalam negeri. Itu salah satu indikator penilaian terhadap alutsista kita jadi 10 besar nanti selain faktor anggaran dan kekuatan senjata,” kata Ryamizard.

Meski begitu, Ryamizard meyadari bila alutsista hanya faktor tambahan menghadapi perang atau peningkatan pertahanan. Faktor utamanya menurut mantan Pangdam Jaya itu adalah semangat dari manusianya.

“Ancaman negara kita sudah tidak ada, ngapain beli alutsista yang seram-seram. Yang jadi pokok utama pertahanan Indonesia adalah manusianya,” ujarnya.

Menurut Ryamizard makin banyak manusia Indonesia yang berkualitas menguasai teknologi, termasuk dapat memproduksi produk senjata dalam negeri, makin banyak musuh yang takut terhadap Indonesia. Namun di balik itu semua yang terpenting semanagat perjuangannya.

Ryamizard pun mencotohkan bagaimana saat penjajahan dulu, Indonesia ataupun Vietnam bisa melawan Amerika atau Belanda hanya dengan senjata yang sederhana.

Jadi menurut dia, percuma jika penambahan alutsista besar-besaran tapi tak seiring semangatnya. “Itulah makanya kekuatan semangat perjuangan manusia Indonesia sangat penting,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews.com
READ MORE - Militer dan Alutsista Indonesia Peringkat 12 Besar Dunia

Jika Malaysia Masih Terobos Ambalat, Kami Serang

Kapal Perang Indonesia
Kapal Perang Indonesia

Info Militer Terbaru-Tentara Nasional Indonesia sudah berkali-kali mendesak Pemerintah RI mengajukan nota protes ke Malaysia terkait pelanggaran udara yang kerap dilakukan pesawat tempur negeri jiran tersebut.

Pelanggaran batas udara dimaksud khususnya terjadi di langit Ambalat, sisi timur pantai Kalimantan.
Walaupun diungkapkan Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu, Malaysia hanya berani masuk Indonesia jika wilayah udara Kalimantan dan Sulawesi tak dijaga.

“Sekarang kami sudah taruh pesawat di Makassar,” kata Ryamizard saat berbincang dengan wartawan, Kamis (18/6/2015).

Meski begitu, Ryamizard mengatakan manuver Malaysia di Ambalat merupakan masalah kecil. Sehingga publik tak perlu risau, karena pemerintah sudah mengambil langkah waspada terhadap wilayah udara yang kerap disusupi Malaysia.

“Kalau masih terobos baru kami serang. Ini masih lewat saja. Saya sudah pantau ke sana. Kami tahu bagaimana jaga rumah,” kata mantan KSAD tersebut.

Untuk diketahui, sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia kerap bersitegang mengenai Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada 2002 ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia pada sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang berada di Blok Ambalat.

Blok Laut Ambalat memiliki luas wilayah sekitar 15 KM persegi dan terletak di Laut Sulawesi atau Selat Makassar, dekat perbatasan antara Sabah, Malaysia, dan Kalimantan Timur.

Blok Ambalat menyimpan kekayaan tambang laut, utamanya minyak, meski tidak semua wilayah di blok ini kaya akan minyak mentah.

Untuk mencegah Malaysia kembali bermanuver di Ambalat, TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara saat ini menurut Ryamizard sudah menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat.

Kedua matra TNI itu menurunkan alat utama sistem persenjataan mereka seperti tiga kapal perang (KRI), dua pesawat Sukhoi Su-27 dan Su-30, dan tiga F-16 Fighting Falcon.

Sumber: Tribunnews.com
READ MORE - Jika Malaysia Masih Terobos Ambalat, Kami Serang

Thursday, 18 June 2015

TNI AL Terima Kapal Canggih KRI Teluk Bintuni

KRI Teluk Bintuni
KRI Teluk Bintuni

Info Militer Terbaru-KRI Teluk Bintuni-520, diserahterimakan dari PT DRU kepada Kementerian Pertahanan dan diteruskan kepada MabesTNI dan TNI Angkatan Laut dalam hal ini Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) sebagai pengguna, Rabu 17 Juni 2015 di galangan PT. Daya Radar Utama (DRU), Lampung, Sumsel.

Serah terima kapal angkut tank berteknologi canggih tersebut disaksikan langsung Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dan KSAL Laksamana TNI Ade Supandi. KRI Teluk Bintuni-520 dalam penyelesaiannya juga melibatkan anak bangsa lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS).

KRI Teluk Bintuni
 KRI Teluk Bintuni

Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan, pembangunan KRI Teluk Bintuni-520 merupakan bagian program pembangunan kekuatan pertahanan untuk mewujudkan kekuatan pokok minimal atau Minimum Essential Forces (MEF). Selain itu KRI Teluk Bintuni-520, juga untuk memperkuat TNI AL dalam mendukung program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Ditambahkannya, pembangunan KRI Teluk Bintuni-520 yang dilaksanakan oleh PT. DRU sebagai salah satu bentuk pembinaan pemerintah terhadap kemampuan industri dalam negeri sebagai upaya mengurangi ketergantungan negara lain dalam pengadaan alutsista di masa mendatang. KRI Teluk Bintuni-520 ini diproyeksikan memperkuat jajaran Komando Lintas Laut Militer TNI AL (Kolinlamil).

Siaran pers Kemenhan menyebutkan, spesifikasi kapal angkut tank ini terbuat dari baja khusus pada bagian hulu (lambung). Baja khusus tersebut diperoleh dari PT. Krakatau Steel Tbk. Kapal ini dirancang untuk dapat mengangkut Tank MBT Leopard TNI AD dan Tank BMP-3F Marinir. KRI Teluk Bintuni-520 memiliki spesifikasi panjang 120 meter, lebar 18 meter, tinggi 7,8 meter dan draft tiga meter serta memiliki ketahanan di laut (endurance) 20 hari dengan daya angkut 10 Tank MBT Leopard, 476 orang (crew + pasukan) dan 1 unit helikopter.

Disamping itu, kapal ini mampu menjelajahi laut pada kondisi laut yang terburuk dengan jarak jelajah 7200 mil laut. Setelah diserahterimakan, kapal ini akan dioperasikan mendukung pergeseran materiil maupun personil di bawah jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Diharapkan adanya kapal tersebut mobilitas atau pergeseran materiil dan personel TNI dari satu daerah ke daerah lain semakin lancar. Kapal tersebut merupakan kapal kelas Landing Ship Tank pertama yang diproduksi Industri dalam negeri, sehingga ke depan untuk produk Kapal Landing Ship Tank yang berikutnya akan semakin baik dan sempurna.
READ MORE - TNI AL Terima Kapal Canggih KRI Teluk Bintuni