Showing posts with label Keamanan. Show all posts
Showing posts with label Keamanan. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Amankan Perbatasan, 4 Senjata Penangkis Serangan Udara Disiagakan

Senjata penangkis serangan udara Oerlikon Skyshield Mark II yang disiagakan di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (11/11/2015) [KOMPAS.com/ YOHANES KURNIA IRAWAN]

Info Militer Terbaru - TNI Angkatan Udara menambah kekuatan 4 unit senjata penangkis serangan udara Oerlikon Skyshield Mark II untuk memperkuat alutsista Detasemen Hanud 473 Paskhas Pontianak.

Komandan Detasemen Hanud 473 Paskhas Mayor Pas Anang Baskoro mengatakan, senjata buatan Swiss tahun 2014 tersebut diklaim sebagai yang tercanggih di dunia dan dimiliki Indonesia saat ini.

Bahkan Indonesia juga disebut sebagai pembeli pertama senjata tersebut yang dibeli langsung dari pabrik Rheinmetall Air Defance Swiss.

"Oerlikon Skyshield MK2 yang didatangkan di Detasemen Hanud 473 Paskhas Pontianak, sebanyak 2 satuan tembak. Setiap satu satuan tembak terdiri dua meriam kaliber 35 mm, satu sensor unit atau radar mobile dan satu Camend Pos yang berfungsi pengedali tembakan dan satu pembantu radar secara visual," kata Anang.

Senjata penangkis udara ini dapat bekerja efektif sejauh empat kilomoter, dan mampu menghancurkan sasaran udara berupa pesawat apapun, menghancurkan rudal, roket dan mortir yang datang menyerang.

"Di dalam prinsip kerjanya, senjata ini yang mampu mendeteksi benda apapun yang berada di angkasa untuk menyerang obyek sasaran yang dilindungi sejauh 30 kilometer. Ketika obyek sasaran yang telah di-lock, meriam akan ditembakkan akan terus mengikuti sasaran hingga sasaran hancur," katanya.

Detasmen Hanud 473 Paskhas Pontianak bertugas untuk menjaga pangkalan TNI AU, mengingat adanya keberadaan skadron tempur di Lanud Supadio.

Selain itu, juga bertugas untuk melindungi obyek vital selain pangkalan militer atas kebijakan dari Panglima Komanda Pertahanan Nasional.

Senjata penangkis serangan udara, dengan jarak efektif 4 km. Dilengkapi dengan sensor unit dan mampu mengunci target 20 unit sekaligus dengan 1.050 meter/detik.

Dalam 1 menit, Oerlikon Shield bisa menembakkan 1000 butir peluru, dan setiap butirnya akan pecah menjadi 152 butir peluru lagi.

Komandan Lanud Supadio, Marsma Tatang Harlyansyah mengatakan, salah satu alasan pertimbangan dipilihnya Kalbar sebagai lokasi diperkuat oleh Oerlikon Skyshield karena merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan beberapa negara ASEAN.

"Selain itu, Lanud Supadio memiliki skadron tempur taktis Hawk 100/20, dan skadron pesawat tanpa awak. Ke depan juga barangkali akan kembali ada penambahan skadron udara lagi, karena rencananya Supadio kelak akan menjadi pangkalan induk sehingga dipandang perlu adanya alutsisa seperti Oerlikon Skyshield untu melindungi pangkalan milter dari serangan udara," ujar Tatang.
READ MORE - Amankan Perbatasan, 4 Senjata Penangkis Serangan Udara Disiagakan

Indonesia Targetkan Kirim 4.000 Pasukan Perdamaian PBB

Pada periode 2015-2019 


Anoa kendaraan tempur Kontingen Garuda [defense,pk]

Info Militer Terbaru - Sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa terbentuk pada 1945, upaya memelihara perdamaian dunia masih menjadi sorotan penting. Meningkatkan partisipasi dalam badan tersebut, Indonesia berkomitmen akan mengirimkan 4.000 personel penjaga perdamaian hingga 2019.

Menurut Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, Indonesia sebenarnya sudah mengirimkan sekitar 30 ribu pasukan perdamaian untuk misi PBB selama ini.

"Sejak perjuangan awal mula kemerdekaan, Indonesia selalu menjadi anggota aktif PBB, termasuk dalam upaya menjaga perdamaian. Sejak 1957, Indonesia sudah mengirimkan 30 ribu pasukan penjaga perdamaian untuk lebih dari 40 misi PBB," ujar Retno dalam pembukaan acara Peringatan Hari PBB ke-70 di Jakarta, Selasa (10/11).

Pada periode 2015-2019, Indonesia berkomitmen mengirimkan 4.000 personel penjaga perdamaian untuk misi perdamaian PBB.

Namun hingga kini, Indonesia baru mengirimkan sekitar 2.800 personel. "Kami yakin, pada 2019 sudah tercapai 4.000 personel, bahkan mungkin akan lebih," ucap Retno.

Secara keseluruhan, kini ada 125 ribu personel dari seluruh pelosok dunia yang mengemban tugas di 16 misi perdamaian PBB.

Indonesia masuk ke dalam daftar 12 besar negara penyumbang pasukan penjaga perdamaian PBB terbesar dunia, bersanding dengan Perancis dan Amerika Serikat.

Selain upaya pemeliharaan perdamaian, Indonesia, menurut Retno, aktif pula di dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), dan HAM.

"Sejak 2011, kami aktif membantu menangani tingkat kemiskinan ekstrem di seluruh pelosok dunia," tutur Retno. "Kami turut membantu berbagai upaya kemanusiaan bekerja sama dengan badan-badan HAM PBB, yaitu masalah perubahan iklim, keberagaman, konflik bersenjata, radikalisme, hingga migrasi ireguler." (stu)
READ MORE - Indonesia Targetkan Kirim 4.000 Pasukan Perdamaian PBB

Thursday, 12 November 2015

TNI Tak Ambil Pusing Kisruh China-AS di Laut China Selatan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvXxkxtNQ8WrMt-V-SrAKGDJCAaOdV00WudeQPGjjHr-TiyW02yV5MU-qfG_MCEXJRMkpPujdLWpC9w5kWpDsQLSb5IIijVWdJtvor1EPcpWiu46RDbT27kVaF1b6mrPotEP1XuFN90XxL/s1600/kripr1v4t33r.jpg
Satgas TNI AL [pr1v4t33r] ☆

Info Militer Terbaru - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan, Indonesia tidak terdampak apapun dari hubungan pemerintah China dan Amerika Serikat yang disebut-sebut sedang memanas di Laut China Selatan.

"Tidak ada hubungannya. Yang memanas kan China dan Amerika Serikat, ngapain kita pusing," ujar Gatot di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, kemarin.

Gatot menyatakan, seluruh pengerahan alutsista TNI ke wilayah perbatasan Indonesia bukanlah bagian dari upaya mencegah akses hubungan China dan AS di Laut China Selatan. Dia mengatakan, TNI secara rutin memang melakukan patroli di perbatasan.

Pengiriman tujuh kapal TNI Angkatan Laut ke wilayah Natuna, Kepulauan Riau pada pekan lalu, menurut Gatot, juga bagian dari operasi rutin itu.

"TNI setiap saat mengirimkan kapalnya untuk mengawasi zona ekonomi eksklusif," katanya.

Pengiriman tujuh Kapal Republik Indonesia ke Natuna pada pekan lalu ditujukan untuk menjaga kawasan tersebut dari aksi pencurian ikan. Empat dari kapal itu akan ditempatkan di Pangkalan Penjaga Laut dan Pantai Tanjung Uban. Sementara sisanya dioperasikan ke perairan Natuna.

Akhir Oktober silam, AS mengerahkan kapal perang mereka ke kawasan sengketa teritorial kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Kapal perusak milik Angkatan Laut AS, yaitu USS Lassen, terus berlayar hingga hanya berjarak 12 mil laut ke pulau buatan yang dibangun China pada tahun 2014 itu.

Pekan lalu Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter, mengunjungi kapal induk USS Theodore Roosevelt yang sedang beroperasi di Laut China Selatan. Saat itu dia mengatakan dengan terbuka, bahwa pemerintah AS menentang proyek reklamasi China di kepulauan Spratly.

Carter pun menyatakan, AS tidak akan menghentikan operasi laut mereka di kawasan Laut China Selatan. Mereka menganggap, kawasan itu merupakan perairan internasional sehingga negara manapun dapat berlayar di sana.
READ MORE - TNI Tak Ambil Pusing Kisruh China-AS di Laut China Selatan

Wednesday, 11 November 2015

Operasi Baruna Nusantara


F-16 dan Hawk milik TNI rutin patroliF-16 52ID TS1620 [@Didik] ☆

Info Militer Terbaru - Konflik di Laut China Selatan semakin memanas seiring dibangunnya pangkalan militer China di sana. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru meningkatkan intensitas berpatroli di wilayah perbatasan Indonesia.

"Situasi di Laut China Selatan semakin memanas, dan Indonesia perlu hadir di sana. Makanya dilakukan Operasi Baruna Nusantara," kata Komandan Lanud Roesdin Nurjadin Pekanbaru, Riau, Marsma TNI Henri Alfiandi, Selasa (10/11).

Bahkan tahun depan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru akan lebih meningkatkan intensitas patroli perbatasan. Saat ini segala sarana dan pra sarana sedang dipersiapkan.

"Sarana dan prasarana sudah dipersiapkan. Itu yang patroli adalah Pesawat Hawk dan F-16," jelas Hendri.

Tidak hanya Lanud Roesmin Nurjadin saja, Operasi Baruna Nusantara juga dilakukan TNI AU di Kalimantan, serta dari Halim Perdanakusuma Jakarta. Menurut Henri, ini dilakukan untuk menjaga udara Indonesia dari sejumlah negara yang sedang bersengketa di kawasan tersebut. Bahkan, Amerika Serikat mulai mengintip aktivitas para militer negeri Tirai Bambu tersebut.

"Lanud Kalimantan, Lanud Halim ada juga. Sementara untuk di Selat Malaka dan Kepulauan Riau oleh Lanud Pekanbaru. Ini dilakukan sebagai deterrent effect bagi negara yang tengah berkonflik di Laut China Selatan," kata Henri.

Henri menegaskan, Indonesia sebagai salah sati anggota ASEAN perlu hadir dalam konflik di Laut China Selatan. Itu dilakukan agar wilayah Indonesia aman dari gangguan, tanpa terlibat jauh atau berpihak dalam negara yang berkonflik tersebut.

Perlu diketahui, China sempat mengajak TNI untuk latihan bersama, namun Panglima TNI Jendral Gatot secara terang-terangan menolak ajakan tersebut. Beberapa waktu lalu, China mulai mengusik Laut China Selatan, hingga ke perbatasan wilayah Indonesia.

Tak ayal, ini membuat TNI mengirimkan armada tempur ke Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). TNI mengirimkan 7 kapal perang untuk menjaga kedaulatan NKRI dari ancaman China, ditambah dengan patroli pesawat tempur TNI AU. 
READ MORE - Operasi Baruna Nusantara

Tuesday, 25 August 2015

2 Pesawat Militer AS Diduga Melanggar Wilayah Udara Finlandia

c-17 amerika

Info Militer Terbaru - Dua pesawat angkut militer AS diduga melanggar wilayah udara Finlandia, Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Finlandia mengatakan pesawat-pesawat AS tersebut ada di wilayah udara Finlandia untuk sekitar 15 menit.

“Dua pesawat transportasi militer C-17 Amerika  dari timur menuju ke barat, diduga melanggar wilayah udara Finlandia selatan dari Kepulauan Aaland pada hari Minggu,” bunyi pernyataan itu Senin, 24 Agustus 2015 sebagaimana dikutip Sputnik. Pihak berwenang perbatasan sedang menyelidiki insiden itu.
READ MORE - 2 Pesawat Militer AS Diduga Melanggar Wilayah Udara Finlandia

Tuesday, 30 June 2015

Helikopter Malaysia Mendarat di Sebatik


Info Militer Terbaru-Sebuah foto yang menggambarkan helikopter Bell warna putih yang diduga milik Malaysia akan mengudara, sementara satu anggota TNI berusaha mendekat heli tersebut. Sementara, puluhan warga perbatasan Kecamatan Sebatik, Kalimantan Utara, terlihat menonton peristiwa itu.

Foto tersebut terlihat menjadi foto profil beberapa warga di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, dan menyebab melalui media sosial. Entah darimana foto tersebut, namun berdasarkan penelusuran Kompas.com heli tersebut diperkirakan mendarat di helipad milik Satgas Pamtas 512/ Dadaha Yudha yang baru beberapa hari lalu menggantikan Satgas Pamtas 433/Julu Siri.

“Katanya kejadiannya Minggu pagi pukul 08:40 wita,“ ujar salah satu wartawan media lokal Viqor di Nunukan, yang juga mendapat kiriman gambar melalui jejaring sosial, Minggu (28/6/2015).

Berdasarkan keterangan warga yang mengunggah gambar tersebut, helikopter Bell 9M-YMH milik Negara Malaysia tersebut terlihat berputar-putar sebanyak tiga kali di atas wilayah Sebatik Tengah dan Sebatik Utara Pualu Sebatik, Indonesia. Semula, heli tersebut akan mendarat di pematang sawah yang telah disiapkan di wilayah Sebatik, Malaysia.

Namun, karena hujan deras di malam sebelumnya, membuat helipad yang disiapkan tidak bisa didarati. Akhirnya, heli yang diduga milik perusahaan Sabah Air tersebut akhirnya mencari tempat pendaratan alternatif.

Heli yang kabarnya ditumpangi Mendagri Negara Malaysia Datuk Sri Ahmad Zaid Hamidi tersebut akhirnya mendarat di Pos Kotis Satgas Pamtas Yonif 521/Dadaha Yudha yang terletak di Desa Aji Kunig. Heli tersebut diperkirakan mendarat selama kurang lebih lima menit.

Selama lima menit itu, tidak ada satupun penumpang yang turun. Saat salah satu anggota TNI berusah mendekat, heli tersebut kembali mengangkasa menuju wilayah Malaysia. Komandan Satgas Pamtas 521/Dadaha Yudha, Slamet Winarto, hingga malam ini belum berhasil dihubungi untuk dimintai konfirmasinya.

Sumber: Kompas.com
READ MORE - Helikopter Malaysia Mendarat di Sebatik

Saturday, 27 June 2015

Putin-Obama Saling Telepon, Ada Apa?


Info Militer Terbaru-Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah menelepon Presiden Amerika Serikat Barrack Obama pada hari Kamis 25 Juni 2015.

Ini adalah pertama kalinya kedua pemimpin berbicara dalam empat bulan terakhir. Putin dilaporkan menanyakan tentang misi serangan ke ISIS dan sejumlah misi di Timur Tengah. Dalam pembicaraan itu  kedua pemimpin sepakat untuk menindaklanjuti dengan pertemuan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry bertemu untuk membahas lebih lanjut masalah ini.

Mereka juga membahas secara rinci mengenai situasi di Suriah dan masalah nuklir Iran. Dan tentu saja masalah krisis Ukraina yang sedang berlangsung.

Para pejabat Amerika mengatakan kepada New York Times bahwa Obama “fokus pada perang separatis di Ukraina yang dinilai didukung Moskow dan mendorong Putin untuk mematuhi kesepakatan Minsk.”

Seperti dilaporkan New York Times menurut Kremlin, kedua pemimpin sepakat bahwa Asisten Menteri Luar Negeri Victoria Nuland dan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Grigory Karasian akan segera menghubungi untuk membahas pemenuhan perjanjian Minsk.

“Para pejabat Amerika berharap Putin juga melihat munculnya ISIS sebagai suatu ancaman dan diharapakan menekan Presiden Suriah Assad.
READ MORE - Putin-Obama Saling Telepon, Ada Apa?

Friday, 26 June 2015

Pentagon Bangun Markas Pusat Perang Luar Angkasa


Info Militer Terbaru-Pentagon memulai langkah baru dengan membangun sebuah markas perang ruang angkasa guna melindungi satelit AS dari serangan yang diperkirakan dilakukan oleh Rusia dan China.

Operasi pusat – yang akan mengumpulkan informasi dari satelit milik AS – dijadwalkan akan dibuka dalam enam bulan, Wakil Menteri Pertahanan Robert Work mengatakan peserta pada simposium tahunan GEOINT Selasa 23 Juni 2015.

“Kita akan mengembangkan taktik, teknik, prosedur, aturan yang akan memungkinkan kita  untuk melawan arsitektur dan melindunginya ketika satelit diserang,” kata Work.

“Realitas buruk yang harus kita hadapi sekarang adalah musuh mampu mengambil ruang angkasa dari kita, kemampuan kita untuk memproyeksikan kekuatan ke ruang angkasa akan melemah.”
Pusat ops baru akan bertindak sebagai pusat dukungan untuk Joint Space Operations Center di Vandenberg Air Force Base di California, dan akan mengkoordinasikan upaya-upaya respon terhadap serangan.

Selain Rusia yang telah lama menjadi ancaman  ke AS, Work juga mengingatakn bahwa China bisa “dengan cepat menutup kesenjangan teknologi,” yang bisa berpengaruh bagi AS dalam mempertahankan keunggulan teknologi.

Pada 2013, China meluncurkan roket yang diyakini AS bisa digunakan untuk menghancurkan satelit di orbit Bumi. “Kami ingin bisa membangun pola hidup dari angkasa. Kami ingin tahu ada apa di balik sesuatu yang terlihat tidak biasa seperti,” katanya. “Jika, tiba-tiba, banyak mobil muncul di tempat parkir pabrik rudal musuh, kita ingin tahu tentang hal itu dan kami ingin tahu tentang hal itu dengan cepat. Jika, tiba-tiba, perahu-perahu kecil berkerumun di Teluk atau bajak laut mulai berkumpul di Aden, kami ingin tahu.”

Pada 2016 anggaran pertahanan dan intelijen AS  sekitar $ 5 miliar bergeser untuk memprioritaskan keamanan ruang angkasa. Anggaran juga termasuk permintaan peningkatan satelit komunikasi angkatan laut (US$ 21 juta, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya), pengintaian ruang berdasarkan (US$ 100 juta) dan dana untuk peningkatan ruang kesadaran situasional ruang angasa (yang lebih dari tiga kali lipat menjadi US$32 juta).

Tapi Jenderal John Hyten, kepala Air Force Space Command – yang mengelola 40.000 orang untuk semua program yang berhubungan dengan ruang angkasa Pentagon dan semua satelit pengintai AS dan komunikasi – mengatakan dia mengalami kesulitan bergerak secara cepat dalam program ini.
“Saya ingin dan menarik dan mencari ide-ide baru dan mencoba untuk mengubah budaya yang benar-benar sangat nyaman dengan status quo sekarang.”
READ MORE - Pentagon Bangun Markas Pusat Perang Luar Angkasa

Thursday, 25 June 2015

Punya Task Force Atasi Perompak, Indonesia Aman dari Bajak Laut


Info Militer Terbaru-TNI AL memiliki satuan tugas khusus untuk pengamanan di sepanjang perairan Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan. Satuan tugas itu bernama Western Fleet Quick Response (WFQR) dan berada di bawah jajaran komando armada kawasan barat (Koarmabar).

WFQR merupakan satuan tugas yang dikhususkan untuk menekan aksi perompakan atau bajak laut di perairan internasional itu disebut KSAL Laksamana Ade Supandi mampu menekan aksi perompakan atau bajak laut. Task force ini akan cepat tanggap jika mendapat laporan adanya hal-hal yang mencurigakan.

"Kita sudah mengefektifkan ya ada yang namanya WFQR, jadi armada barat yang terdiri dari satuan-satuan yang ada di Selat Malaka. Kalau ada misalnya laporan-laporan kecurigaan akan dirampok itu kita selalu standby di daerah itu sehingga kita bisa dihubungi dan bisa mengecek ke kapal yang dilalui itu," ungkap Ade di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jaktim, Rabu (24/6/2015).

Task force ini memang dirasa cukup efektif. Pasalnya terbukti hingga saat ini belum ada laporan mengenai adanya aksi bajak laut di Selat Malaka. Sejauh ini, kata KSAL, aksi bajak laut justru terjadu di luar kedaulatan Indonesia. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu kapal tanker milik Malaysia sempat menghilang karena aksi bajak laut.

"Bagus kok. Saya sudah nanya. Dari pengalaman Pangarmabar, western fleet response ini seringkali ada laporan dari IMB (International Maritime Bureau). Kita tindaklanjuti, kita cek, dan sementara pengecekan nihil (di wilayah Indonesia)," kata Ade.

Keberadaan kapal perang di perairan Selat Malaka memang memberikan dampak yang cukup signifikan. Perompak pun akhirnya memilih melakukan aksinya di luar wilayah kedaulatan Indonesia. WFQR ini patut diapresiasi karena mampu menghadirkan jalur pelayaran yang aman.

Menurut Ade, kerjasama antara kapal dagang atau kapal kargo dengan pihak TNU AL sudah cukup baik. Saling berbagi informasi menjadi modal sehingga prajurit TNI AL bisa langsung bergerak manakala ada kegiatan yang mencurigakan.

"Akan lebih cepat kalau ada laporan-laporan itu misal ada kapal lewat tetapi ada nelayan lagi mancing terus dianggap itu pembajakan mau ada upaya merampok. Itu perlu kita cek. Kalau malam itu kan kapal menangkap ikan dianggap mau merampok," tutup laksamana bintang 4 itu.
READ MORE - Punya Task Force Atasi Perompak, Indonesia Aman dari Bajak Laut

Sudah 7 Kapal Laut Malaysia Dibajak Perompak Selama 2015


Info Militer Terbaru-Menyusul hilangnya kapal tanker Orkim Harmony, Malaysia melaporkan sudah terjadi 7 kejahatan perompakan di wilayah perairannya. Itu terjadi selama kurun waktu dari Januari hingga Juni 2015 ini.

Berdasarkan laporan dari Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), ada 2 jenis perompakan yang dilakukan bajak laut khususnya di wilayah Laut Cina Selatan. Pertama adalah perompakan hit and run atau opportunities base (untung-untungan) dan kedua adalah organized crime (kejahatan terencana).

"Modus berupa perampasan kapal selanjutnya menunggu kapal Phantom (phantom ship) sebagai kapal penampung minyak rampasan termasuk perampasan barang-barang berharga milik ABK," ungkap Wakil Ketua APMM Bidang Operasi Laksamana Madya Maritim Dato' Ahmad Puzi bin AB Kahar dalam keterangannya seperti yang disampaikan oleh Dispenarmabar, Rabu (24/6/2015).

Mayoritas perompak yang mencuri di perairan Malaysia biasa membajak kapal yang berisi bahan bakar. Mereka biasa disebut rampok curi minyak (RCM) di mana biasa menargetkan kapal tanker yang mengangkut marine gas oil (solar kapal) dan automotive diesel oil (solar mobil).

"Karena minyak jenis ini sangat mudah ditransfer dan dijual dipasaran. Namun terkadang perompak salah memilih sasaran," kata Ahmad Puzi.

Puzi pun memberi contoh, hal tersebut seperti terjadi dalam kasus perompakan SPOB Srikandi 515 yang membawa CPO, lalu MT. VP Asphalt II yang membawa minyak tar dan MT Orkim Harmony yang membawa gasoline 95 (bensin).

"(perompakan) Srikandi 515 dan OH (Orkim Harmony) pelaku berhasil ditangkap sedangkan VP Asphalt pelaku kabur setelah melepaskan kapal. Dari investigasi pelaku RCM, sindikat dapat dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan perannya," jelas Puzi.

Peran kelompok yang dimaksud mulai dari mastermind (otak sindikat), perekrut perompak, pemberi informasi (pengamat sasaran), eksekutor lapangan/perompak, phanop ship/kapal penampung, serta broker dan pembeli. Adapun RCM terorganisasi disebut Puzi merupakan tindak kejahatan antar-negara yang cukup rumit untuk diungkapkan.

Hal tersebut lantaran biasanya pelaku di tiap-tiap kelompok berasal dari beberapa negara. Serta beberapa teknis maupun administrasi lainnya. Seperti kapal sasaran dengan registrasi kompleks mulai dari pemilik, bendera, isi muatan, dan awak kapal. Selain itu juga lokasi kejdian di wilayah negara berbeda dengan implikasi hukum yang juga berbeda, serta pemilik cargo yang tidak sama dengan pemilik kapal.

"Tanpa sebuah rangkaian intelijen dan investigasi yang mantap, kita hanya mampu menangkap pelaku eksekutor saja. Sedang pelaku ini mudah berganti dan regenerasi, jika tertangkap akan muncul operator lain di lapangan. Sehingga eksekutor ini hanya akan bisa diberantas mulai dari akarnya. Dan ini hanya dapat dilakukan melalui aparat penegak hukum yg terintegrasi secara menyeluruh dalam menangani kasus antar negara seperti ini," tukas Puzi.

Seperti diketahui, kapal tanker berbendera Malaysia hilang pada tanggal 11 Juni lalu dan baru berhasil ditemukan pada 18 Juni 2015. Dalam proses pencarian, Indonesia mengarahkan sejumlah armadanya untuk membantu. Kabarnya para perompak merupakan WNI yang beraksi di perairan Malaysia. Dalam peristiwa itu, seorang ABK asal Indonesia mengalami luka tembak namun berhasil diselamatkan. 

Sumber: detik.com
READ MORE - Sudah 7 Kapal Laut Malaysia Dibajak Perompak Selama 2015