Typhoon Spanyol dan MiG-29 Polandia melakukan patroli bersama di Baltik
Info Militer Terbaru-Pemimpin Eropa baru-baru ini menyerukan untuk dilakukan pembentukan
pasukan Eropa, terutama untuk keuatan angkatan udara. Nantinya kekuatan
gabungan ini bisa digunakan untuk seluruh negara di kawasan tersebut.
Usulan itu mencuat setelah tumbuh kekhawatiran atas ancaman yang muncul
dari
Rusia.
Lepas dari pro dan kontra, usulan Presiden Uni Eropa Jean-Claude
Juncker menarik untuk dibahas. Bahwa alasan jika sendiri-sendiri maka
anggaran pertahanan menjadi sangat tidak signifikan untuk membangun
kekuatan. Berbeda dengan jika seluruh dan digabung, maka akan terbentuk
kekuatan besar untuk membangun kekuatan baru. Belum lagi dengan sumber
daya yang ada.
Uni Eropa terdiri dari 28 negara dengan jumlah penduduk sekitar 510
juta penduduk dan luas wilayah 4.422.773 km². Sebagai perbandingan,
Amerika Serikat memiliki sekitar 320 juta orang lebih 9.857.306 km²,
sementara Rusia memiliki populasi 145 juta lebih dengan luas wilayah
17.098.242 km². Walaupun ada perbedaan populasi dan daratan, Uni Eropa,
Rusia, dan Amerika Serikat mewakili tiga blok kekuatan yang mirip dalam
hal status dan kebutuhan pertahanan teritorial.
Dalam hal anggaran pertahanan yang dialokasikan untuk angkatan udara,
Uni Eropa penyumbang terbesar saat ini Inggris, yang pada tahun 2015
mengalokasikan 16.8 miliar Dollar AS untuk Royal Air Force (menurut data
IHS Jane). Masih jauh di bawah Amerika yang menerima 154.1 miliar,
sedangkan Angkatan Udara Rusia akan mendapatkan 11.3 miliar yang jika
dikonversikan dengan nilai rubel yang melemah mungkin akan sebanding
dengan 20 miliar.
Jika Uni Eropa menggabungkan belanja pertahanan, maka diperkirakan
akan memiliki anggaran 69.3 miliar untuk belanja pada angkatan udara
yang artinya akan lebih besar dibandingkan dengan Rusia meski masih jauh
di bawah Amerika. Uni Eropa tidak memiliki komitmen global yang sama
dan usaha sebagai mitra transatlantik jadi tidak akan memerlukan tingkat
yang sama pengeluaran.
Menurut data IHS Jane Dunia Angkatan Udara negara-negara anggota Uni
Eropa memiliki sekitar 1.370 jet tempur. Imbang dengan kekuatan Amerika
yang memiliki 1.391 jet dan unggul dibanding Rusia yang memiliki 1.276
pesawat tempur.
Dalam hal jumlah, konsolidasi angkatan udara akan menempatkan Uni Eropa setara dengan baik
Rusia dan Amerika Serikat.
Namun, tentu saja angka saja tidaklah cukup. Karena bagaimana
spesifikasi pesawat juga harus dipertimbangkan. Sejumlah negara Eropa
masih menggunakan jet-jet tua seperti MiG-29 ‘Fulcrum’. Jika kekuatan
bergabung maka pesawat yang relatif tua ini harus mengimbangi gerak
cepat pesawat tempur modern seperti Eurofighter Typhoon.
Tetapi jika kemudian ada dana besar maka penggantian pesawat tua akan
memungkinkan. Karena akan ada sistem prioritas. Sejumlah negara yang
bisa dikatakan aman karena memiliki tetangga baik semacam Austria dan
Republik Ceko saat ini justru memiliki jet-jet tempur canggih. Di sisi
lain sejumlah negara yang berdekatan dengan Eropa justru sebaliknya.
Maka sistem prioritas bisa menggeser pesawat canggih di negara damai ke
negara yang sedang terancam.
Sebenarnya sadar atau tidak, cetak biru penggabungan kekuatan udara
Eropa sudah mulai terbentuk. Belum lama ini Belgia, Luksemburg, dan
Belanda sudah menjalin kesepakatan untuk bersama-sama mengawasi udara
mereka. Dalam perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 4 Maret, akan
menjadikan Angkatan Udara Belanda dan Belgia bergiliran menjaga udara
dengan menyediakan dua F-16 dalam status waspada reaksi cepat mulai
2016. Dengan demikian, mereka akan menjadi negara pertama di dunia untuk
masuk perjanjian timbal balik tersebut dan, tergantung pada hasil,
mungkin juga membuka jalan bagi inisiatif Uni Eropa-lebar serupa di masa
mendatang.
Untuk membentuk kekuatan seperti itu tentu banyak hal yang harus
dilalui. Paling tidak ini akan menjadi prioritas nasional dan tanggung
jawab negara Uni Eropa. Jika ada menjadi reccurrence dari krisis 1982
Falklands antara Inggris dan Argentina, misalnya, diragukan bahwa salah
satu lainnya 27 negara anggota lain akan didera keraguan. Karena
bagaimanapun mereka juga terlibat hubungan dengan Argenita.
Di satu sisi juga ada banyak perselisihan antar-Uni Eropa sendiri
dalam hal teritorial, seperti antara Spanyol dan Inggris atas Gibraltar.
Isu-isu tersebut dipastikan akan mengganjal rencana koalisi besar
tersebut.
Sumber: IHS Jane
READ MORE - Jika Seluruh Eropa Bergabung, Sudahkah Imbang dengan Rusia?